Menarik sekali membaca pernyataan Sthepen Hawkins belakangan ini. Beliau berpendapat bahwa kita tidak memerlukan Tuhan untuk menjelaskan gejala alam yang terjadi. Kita bahkan dapat menjelaskan kejadian alam dan proses terjadinya alam semesta tanpa Tuhan. Semua terjadi sesuai hukum alam/fisika. Benarkah demikian. Kalau kita berpendapat sama maka kita adalah orang-orang yang lupa bahwa Tuhan tidak membutuhkan gejala alam untuk menjelaskan eksistensinya. Bahkan jika Manusia dalam semua kemampuan berpikirnya mampu menjelaskan konsep Tuhan, saya akan menolak Tuhan yang demikian karena Tuhan itu terlalu kecil sehingga dapat dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu yang menjadi bagian dari eksistensi manusia.
Manusia seringkali menghubungkan gejala fisik dalam dimensi waktu yang menjadi situasi dan kondisi dengan Tuhan. Sehingga manusia seringkali mempertanyakan keberadaan Tuhan sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang dialaminya. Tidak jarang pengalaman hidup yang pahit, kemiskinan, penderitaan, ketidakadilan social, peperangan, penjajahan dilihat sebagai kealpaan Allah dari hidup manusia. Dengan kata lain Tuhan yang kita sembah hanya bergantung dari apa yang kita rasakan atau kita alami. Kalau demikian kita sudah membatasi Tuhan dalam situasi dan kondisi yang kita alami. Kalau hal ini terus-menerus menjadi sikap iman kita maka kita akan semakin menjadi pusat dari kehidupan kita dan Tuhan hanya menjadi bayang-bayang dan alasan dari setiap apa yang kita alami.
Dalam sebuah penglihatan nabi Yeremia (Yeremia 24) terdapat dua buah keranjang berisi buah ara. Satu berisi buah yang sedap dilihat dan manis, yang lain berisi buah yang buruk dan asam bahkan tidak dapat dimakan. Sebelum kita meneruskan cerita ini, kira-kira kalau kita artikan sendiri pastilah kita akan menghubungkan keranjang yang masam itu dengan penderitaan dan kesulitan hidup sedang keranjang yang manis itu symbol dari hidup yang penuh berkat. Sejauh ini benar. Tetapi kalau kita meneruskan cerita ini kita akan mendapati bahwa keranjang manis itu justru ditujukan pada bangsa yehuda yang dibawa ke pembuangan di Babel pada masa pemerintahan Yekhonya. Dan keranjang yang masam itu ditujukan pada sisa bangsa Yahudi yang memilih hidup di Mesir dan Yerusalem dalam kecukupan dan kemapanan.
Kehidupan yang sulit di pembuangan dalam penjajahan bangsa babel tidak serta merta menyimbolkan kealpaan Allah dan wujud dari murka Allah. Dalam perikop ini kita menemukan janji Allah untuk pemulihan bangsa itu dan akan memperhatikan kebutuhan mereka. Masa –masa sukar yang kita hadapi tidak serta merta menunjukkan Allah menjauh . Allah tidak dibatasi oleh situasi dan kondisi. Dalam kuasa dan kedaulatan Allah, Allah mampu menggunakan setiap situasi untuk menunjukkan Kasih dan kesetiaanNya. Masa-masa sulit dapat menjadi masa-masa merefleksikan keberadaan diri kita dan memfokuskan diri kita pada pertolongan Tuhan dan akan membawa kita pada pendewasaan rohani.
Dalam nats ini ada orang-orang yang luput dari pembuangan, mereka hidup dengan kecukupan dan kemapanan di Mesir dan sejumlah besar di Jerusalem. Dalam kemapanan itu pulalah mereka hidup berfokus pada diri mereka sendiri dan melupakan sesamanya serta Tuhan. Mereka tidak lagi melihat bangsa Israel sebagai umat Tuhan yang harus hidup dalam kovenan yang Tuhan berikan. Kepada merekalah Allah memberi keranjang buar ara masam sebagai symbol dari penghukuman Allah. Allah bersikap keras kepada mereka karena kerohanian mereka dibutakan oleh kemapanan hidup dan kebebasan yang mereka nikmati. Semua keberuntungan yang kita alami tidak serta merta menunjukkan keberpihakan Allah tetapi keberpihakan Allah merupakan keberuntungan bagi kita. Jangan cepat puas diri dan melupakan Tuhan.
Yesus menjadi perwujudan dari penderitaan dan penistaan yang mendatangkan kemenangan. Jalan salib yang menjadi jalan menuju kematian sekaligus jalan menuju kemenangan mengajarkan kita untuk hidup focus kepada Tuhan yang menjadi pusat kehidupan yang ada meski harus melalui jalan yang sulit, sakit bahkan mati sekalipun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberi komentar sopan dan tidak menyinggung hati dan perasaan kelompok tertentu.