Jumat, 01 Juli 2011

Lelaki Itu….” Saya Seorang Perantau bang”

Hari itu pukul 18.00 WIB. Aku diantar oleh bang Marlen setelah kami KTB alumni di rumahnya untuk kembali ke Rantauprapat. Sebenarnya aku masih diliputi rasa syukur kepada Tuhan karena setelah sekian lama KTB Alumni aeknabara tidak berjalan akhirnya kami akan memulai kembali dengan format yang baru. Selain itu ada banyak pembelajaran dalam KTB barusan ketika kami masuk bahan KTB “Komunitas Pasca Kampus” Salah satu pelajaran penting yang kami refleksikan adalah betapa pentingnya kehidupan persekutuan sesama orang percaya. Kak Elfrida, salah seorang anggota KTB berkata “ketika masih ada perasaan sendiri dalam diri seorang alumni yang dalam dunia alumni dan merasakan ada yang tidak beres maka orang itu masih baik dan masih bisa diselamatkan, maka yang menjadi masalah apabila seorang alumni tidak lagi merasakan ada yang tidak beres ketika dia tidak lagi datang ke persekutuan atau tidak lagi kontak dengan orang persekutuan bahkan tidak lagi memiliki persekutuan”

Waktu itu hujan mulai turun tetapi syukurlah langsung ada bus Sri Bilah yang sedang menunggu di pajak Aek Nabara. Aku langsung naik ke dalam bus setelah kupastikan tempat tidur tempahan dari rumah Kak Elfrida dinaikkan oleh kondektur ke atas bus. Aku duduk sembari mengurai hati yang masih penuh dengan pembelajaran-pembelajaran sembari meresapkan prinsip-prinsip yang kudapatkan hari itu. Aku menenangkan diri, berpikir bahwa bus akan lama baru berangkat melihat sewa yang ada masih 5 orang. Tidak lama kemudian, perenunganku harus terusik karena tiba-tiba kondektur masuk dan memberi aba-aba untuk segera berangkat. Bus pun melaju. Sesaat setelah akan melaju tiba-tiba ada teriakan dari luar “ Sewa” dan bus langsung dihentikan. Seseorang berlari di belakang bus, “cepat” teriak kondektur dan dengan terengah-engah orang tersebut langsung melompat ke atas bus dengan mendahulukan barang bawaanya. Aku langsung menarik barang bawaannya agar dia dapat segera masuk. Bus melaju kencang.

Hal yang menarik perhatianku adalah barang bawaan orang yang baru naik itu. Dia ternyata seorang penjual roti keliling. Sembari bus berjalan kondektur menyuruh agar bak roti itu dimasukkan saja ke belakang pintu sehingga tidak menghambat jalan. Aku berpikir betapa cerewet kondektur ini. Aku merasa tidak nyaman. Tetapi belum lama kesalku terhadapnya dia menyuruh agar bak roti yang satu dinaikkan saja ke kursi karena toh tidak ada sewa. Langsung saja aku berubah pikiran. Kondektur itu seorang yang memberi perhatian dengan bahasa yang kasar. Dia hanya tidak mau penjual roti itu tidak nyaman duduk karena harus memegangi bak roti yang satu. Bak roti yang satu lagi sudah masuk di belakang pintu bus.

Tiba-tiba si penjual roti setelah kondisi nyaman mengeluarkan rokok. Aku langsung terusik. Tetapi kemudian kondektur meminta sebatang, dia menyodorkan bungkusnya. Si kondektur langsung menyambar. Sesaat kemudian ke arahku “ sorry bos kebetulan yang terakhir” aku langsung menjawab “oh… tidak apa-apa” kupikir tidak perlu menjelaskan kalau aku tidak merokok. Rasa terusikku berubah menjadi satu perenungan. Demikianlah kiranya mereka mempraktekkan keramahan. Aku sering mendengar kalau rokok mempersatukan para lelaki. Alangkah baiknya kalau rokok itu diganti dengan hal-hal baik dalam hidup.

Beberapa saat ada sewa naik dari depan bus maka kondektur harus ke depan. Setelah sewa itu duduk maka kondektur itu kembali ke belakang dan tiba-tiba setelah di depan kami

“rotinya mau di bawa pulang”

“oh ya, kalau mau ambil aja”

“ serius?”

“ya, serius ambil saja. Toke juga tidak mau terima dan itu nantinya akan di buang kalau tidak habis karena saya tidak mau menjual roti yang bermalam”

Langsung aja si kondektur mengambil satu dan memasukkan ke mulutnya. Ke arahku si tukang roti” kalau mau ambil saja bang, tidak apa-apa. Itu tinggal Sembilan. Sudah banyak habis, tadi pagi aku membawa 300 buah”

“ya..ya” jawabku mulai keheranan dengan keramahan penjual roti ini.

“ ambil saja bu, tidak apa-apa” tawarkannya pada seorang ibu yang duduk di depan kami. Aku sendiri belum juga mengambil. Aku lebih tertarik dengan dengan pribadinya. Satu keramahan yang sudah jarang sekali kutemui. Maka pembicaraan dimulai. Sembari kondektur mengambil semua sisa roti dan memasukkan ke dalam plastic yang diberikan si tukang roti.

Dia seorang perantau. Dia mulai cerita bagaimana dia sangat menjaga kualitas “ anak-anak di situ lebih memilih roti saya bang, mereka pernah beli dari teman saya yang sudah tua. Kata-anak-anak itu rotinya keras dan tidak enak maka anak-anak di situ tidak mau lagi beli dari dia dan menunggu saya lewat. Saya tidak mau menjual roti yang sudah bermalam bang” aku menemukan satu kecakapan hidup dalam dirinya. Kecakapan yang tidak didapatkan dari seminar kewirausahaan . tetapi secara alami dimilikinya. Dia memiliki jiwa pedagang yang baik bahkan menurutku mulia.

Dia sambung kembali mengenang satu kisah “Saya pernah diancam sama teman saya itu, katanya dia mau membunuh saya. Saya bilang , saya ke sini mau berdagang tidak untuk berkelahi. Saya tidak pandai berkelahi. Silahkan bunuh saja kalau bapak mau bunuh tetapi saya tidak pernah punya niat jahat pak. Saya hanya mau berdagang datang merantau ke daerah ini” aku mulai kagum lebih dari simpati. Betapa tidak, dengarlah dia menyebut temanku pada orang yang iri dan mengancam membunuhnya itu. Kata temanku bukan hanya sekedar identitas agar aku mengetahui siapa yang sedang dia ceritakan tetapi lebih dari itu temanku berarti ketulusan hatinya yang tidak mengandung kejahatan apapun. Dia seorang bermartabat.

Dia seorang manusia merdeka. Bukankah seorang manusia merdeka ada;ah seorang yang tidak takut karena kebenaran dirinya. Dia sedikitpun tidak menunjukkan keraguan dalam ceritanya. Maka kulihat matanya dalam-dalam dan kuamati air mukanya. Dia seorang yang teguh. Bahasanya yang halus membuatku tertarik untuk bertanya” abang orang mana?” “ saya asli bandung bang, saya sudah banyak merantau” sahutnya dan dengan sangat terbuka dia mulai lagi ceritanya “ saya sudah mulai berdagang sejak usia 13 tahun bang, sejak bapak mendahului kami. Saya ikut tetangga yang punya usaha roti di Palembang, kemudian pindah ke Jakarta, dari sana saya ikut ke Aceh dan sejak tahun kemaren saya ke daerah ini ikut tetangga juga yang punya usaha roti disini. Jadi saya sudah berdagang selama 9 tahun dan sudah banyak yang saya jalani.” Betapa terkesimanya aku. Dia memiliki syarat seorang lelaki sejati. Seorang yang tidak menyerah pada keadaan. Seorang yang harus mempertanggungjawabkan hidup.

Kau akan lebih terkesima lagi dengan fakta ini: dia selama bekerja selalu menabung, sekitar 60 ribu sehari ketika banyak laku atau paling tidak 20 ribu kalau lagi sepi. Dia berprinsip uang hari ini tidak akan dihabiskan hari ini. Dan dia anak pertama dari 8 orang bersaudara dan dengarkanlah ini “ saya selalu mengirim ke bandung untuk sekedar bantu-bantu. Semailah prinsip hidup yang baru saja ditaburkannya dalam hatimu.

Tiba-tiba dia menerawang jauh kedepan. Ini nyata sekali dari sorot matanya “ sudah 3 tahun aku nggak pulang bang, aku sudah rindu sekali keluargaku” hampir saja air mataku menetes. Aku melihat kemurnian jiwa dalam dirinya. Seorang yang masih merindukan keluarga adalah seorang yang mengerti hidup. seorang yang memiliki kepribadian mulia. “ aku sudah menabung lebih banyak supaya aku bisa pulang tahun ini. Mudah-mudahan aku bisa pulang bang” Aku melihat bukan sekedar ujaran tetapi lebih dari itu dia sedang berdoa. Dia sedang menaruhkan pengharapan pada sang khalik. Dia sedang mengadu kepada Dia yang memelihara hidupnya yang penuh kekerasan mulai dari usai yang begitu muda. Dia ditempah oleh waktu. Dia didik oleh keadaan dan kondisi, maka pengalaman telah mendidiknya menjadi seorang pribadi yang tangguh.

Dia seorang muda yang tidak menyerah pada keadaan. Dari raut mukanya memancar suatu nilai juang yang luhur. Hidup dipertaruhkan dalam dirimu dan buktikan bahwa Tuhan sedang merajut benang-benang waktu untuk melingkupimu dengan kemuliaanNya. Maka bermurah hati kepada semua orang sebagai rasa syukur atas pemeliharaannya. Bukankah dia baru saja mengajarkan bahwa dia bersyukur atas jumlah roti yang habis 291 buah. Sehingga tidak ada beratnya dia berbagi dengan 9 roti yang sisa pada orang. Dia cukup puas ketika kondektur yang seharian lelah tersenyum menikmati roti pemberiannya. Aku terhenyak, dengan senyum yang begitu tulus si guru hidup itu turun “ saya di sini turun bang, saya duluan”

Rantauprapat, 17 Maret 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi komentar sopan dan tidak menyinggung hati dan perasaan kelompok tertentu.