Sabtu, 06 Agustus 2011

KEPEMIMPINAN KRISTEN

-Suatu tinjauan dasar kepemimpinan Kristen dalam konteks Indonesia dan zaman-

Pendahuluan

Kepemimpinan Kristen bukanlah sesuatu hal yang aneh bagi kita. Sejak kita bergabung dalam pelayanan mahasiswa, kepemimpinan Kristen merupakan hal yang selalu ditekankan sebagai bagian dari visi pelayanan mahasiswa itu sendiri. Kepemimpinan Kristen dengan demikian menjad dasar memasuki dunia alumni. Untuk itu kita diperlengkapi baik melalui Kelompok Kecil, seminar, pengisian maupun Kamp Kepemimpinan. Kita menjadi begitu digerakkan oleh kepemimpinan Kristen sebagai alumni yang begitu idealis memasuki dunia alumni.

Tetapi dunia alumni tidak lain daripada kehidupan rutinitas. Kita memasuki dunia pekerjaan sebagai bagian dari cara bertahan hidup. Tuntutan-tuntutan pekerjaan menguras hampir semua waktu kita dan kita tenggelam dalam arus pusara rutinitas pribadi dan kehilangan idealism serta panggilan hidup yang kita sudah rencanakan saat masih di pelayanan mahasiswa. Kepemimpinan Kristen pada akhirnya menjadi barang aneh ditengah-tengah rutinitas pekerjaan. Dalam kondisi inilah kiranya kita mengambil waktu sejenak dan kembali merenungkan arti kepemimpinan Kristen itu sendiri.

Kita tidak akan membahas konsep dan cirri. Tetapi kita akan kembali untuk membahas dasar kepemimpinan itu sendiri. dengan demikian konsep kepemimpinan yang kita sudah kita hidupi dibaharui dan digerakkan dari dasar kepemimpinan Kristen itu sendiri. Hal ini penting karena sebagai alumni kita seringkali bukan tidak punya kepemimpinan tetapi kehilangan arah karena kita tidak lagi bergerak dari dasar kepemimpinan kita. Dengan membahas dasar kepemimpinan Kristen itu sendiri kita kembali pada pondasi. Dengan demikian kita tidak diombang-ambingkan dalam konteks hidup berbangsa dan secara pribadi dalam konteks zaman ini.

Berbicara soal kepemimpinan Kristen tentu kita tidak lepas dari istilah kepemimpinan yang melayani. Dan kita juga sudah pasti menjadikan Yesus sebagai tokoh dan model kepemimpinan Kristen ataupun kepemimpinan yang melayani. Tetapi dalam kesempatan ini saya tidak akan mengeksposisi kepemimpinan Yesus secara keseluruhan tetapi saya akan membahas bagian dari awal kepemimpinan Yesus bahkan dasar kepemimpinan Yesus sebelum Yesus memulai pelayanannya. Sebelum berbicara kepemimpinan Kristen dalam konteks Indonesia dan zaman ini kita akan membahas bagaimana Yesus menghayati panggilanNya di dunia ini dalam rangka mengerjakan misi Allah melalui kisah pencobaan di padang gurun.

Yesus menentukan prioritas hidup sebagai dasar kepemimpinan dan arah pelayananNya(Luk 4:1-21)

Setelah Yesus dibabtis oleh Yohanes maka Yesus penuh dengan Roh Kudus dan dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Yesus berpuasa selama 40 hari. Setelah itu maka Iblis datang untuk mencobai Yesus. Yesus dicobai sebanyak 3 kali.

Pertama, iblis berkata “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.” Yesus dalam keadaan lapar. Yesus memang anak Allah dan Dia mampu hanya untuk mengubah batu menjadi roti. Bangsa israel ada dalam penjajahan dan saat itu orang-orang miskin sangat banyak. Kemiskinan yang bukan sekedar kelaparan tetapi suatu kondisi yang sangat mengharapkan hanya mujizat karena mereka hidup dalam kesenjangan social dan tertindas. Sehingga bangsa israel pada waktu itu akan mengikuti siapa saja yang memberi kemerdekaan ekonomi. Tetapi Yesus dalam konteks itu menyadari bahwa ada kebutuhan manusia yang jauh lebih besar dan utama dari sekedar makanan. Pencobaan ini bukan sekedar menguji ketahanan Yesus terhadap lapar tetapi sebagai Anak Allah, apakah yang akan disampaikan oleh Yesus bagi dunia. Yesus sedang ditantang untuk menghayati akan kebutuhan dasar manusia yaitu keselamatan. Tujuan utama hidupNya bukan untuk menjadi pelaku mujizat ekonomi. Yesus menyadari ada kebutuhan utama hidup manusia daripada sekedar pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Bukan berarti Yesus tidak mengerti akan adanya kebutuhan makanan karena kemudian hari Yesus memberi makan 5000 orang. Untuk itu Yesus mengutip ulangan 8:3 “Manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari Firman Allah.” Bukan soal makanan tetapi siapa yang berkuasa untuk memelihara. Allah ingin menyelamatkan manusia dari ketergantungan pada dosa dan dunia dan memerdekakannya menjadi manusia yang berbalik pada Allah.

Kedua, iblis membawa Yesus ke tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata iblis menunjukkan semua kerajaan dunia dan iblis mengatakan : "Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu." Yesus ditantang kembali untuk menghayati akan kerajaan yang akan dibangun-Nya. Kondisi bangsa israel yang dalam penjajahan Keraan Romawi membuat bangsa Israel mengharapkan kehadiran mesias sebagai raja politik yang akan menggulingkan kerajaan Romawi dan mendirikan kembali kerajaan Israel. Yesus untuk berbagi kekuasaan dengan iblis. Tetapi Yesus menyadari bahwa kerajaan yang akan didirikan-Nya adalah kerajaan bagi umat Tuhan yang menyerahkan hidupnya pada kedaulatan Allah. Umat-Nya yang baru bukanlah pemerintahan yang hanya akan meneruskan keberadaan kerajaan romawi yang lalim dan kejam dan hanya berganti bangsa penguasa tetapi suatu kehidupan umat yang baru yang timbul dari tabiat batin yang sama sekali baru dari mereka yang menjadi anggota-anggota-Nya sewaktu mereka melayani dan beribadah hanya kepada Allah saja. Ada kebutuhan yang jauh lebih besar dari sekedar keluar dari penindasan yakni kemerdekaan jiwa yang hanya akan diperoleh saat hidupnya kembali pada kedaulatan Allah. Maka Yesus menjawab : "Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"

Ketiga, Iblis membawa Yesus ke atas menara bait Allah dan berkata : "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." Yesus ditantang untuk menggunakan janji-janji Allah untuk kepentingan pribadi. Bangsa Israel hidup dalam tekanan yang sangat hebat pada waktu itu. Bangsa itu membutuhkan adanya orang-orang yang memberi mujizat sebagai tanda. Jika Yesus melakukannya maka dengan mudah Yesus akan mendapat pengakuan. Tetapi bukan pengakuan yang hanya melihat bukti-bukti secara jasmani. Yesus menyadari adanya kebutuhan yang jauh lebih besar dari sekedar hidup dalam tanda-tanda dan mujizat-mujizat yakni hidup taan pada Allah. Hidup bukan perkara-perkara yang kita kehendaki tetapi apa yang Tuhan kehendaki. Hidup bukan sekedar menguji kebenaran janji-janji Tuhan tetapi taat penuh pada rencana dan kehendak-Nya sehingga Yesus menjawab : "Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"

Yesus telah menetapkan prioritas hidup-Nya untuk taat penuh pada Bapa-Nya. Hidup untuk mengerjakan misi Bapa bagi manusia dan inilah yang menjadi dasar kepemimpinan Yesus. Prioritas ini pula yang pada akhirnya mengkristal sebagai visi yang mewujud sebagai kabar baik, Injil kerajaan Sorga. Dalam ayat 1 dikatakan bahwa Yesus penuh dengan Roh Kudus dan setelah Yesus kembali ke Nazaret maka Yesus membaca bagian kitab Yesaya saat pembacaan kitab di bait Allah. Yesus membaca apa yang menjadi panggilan-Nya di dunia. "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."

Yesus sangat menyadari apa yang harus dilakukan-Nya dalam hidup-Nya. Tidak ada yang kabur dan membuat dia ragu untuk melakukan apa yang harus dilakukan-Nya. Dengan demikian Yesus sangat mengerti apa yang dia katakana bahwa “hari ini nats ini telah digenapi saat kamu mendengarnya”. Kejelasan panggilan hidup membuat Yesus untuk bertindak tepat waktu. Yesus tidak pernah menjadi terlalu terlambat atau menjadi terlalu cepat. Ia tahu persis apa yang Bapa-Nya ingin untuk ia lakukan pada saat yang tepat pada proporsi yang tepat pula.

Kepemimpinan Kristen dengan demikian lahir dari kejelasan akan panggilan Allah dalam hidup kita. Panggilan inilah kiranya yang kita sebut dengan Visi. Sendjaya dalam bukunya kepemimpinan Kristen menuliskan bahwa kepemimpinan tidak dapat dipisahkan dari Visi. Pemimpin tanpa visi adalah liar bahkan dapat dikatakan bahwa ia sama sekali bukan pemimpin.

Untuk menghayati kepemimpinan Kristen hendaknya kita merenungkan apa yang yang mendasari kepemimpinan itu sendiri sebagaimana Yesus memulai kepemimpinan-Nya dengan menghayati arti panggilan dan misi-Nya di dunia ini. Dan kita hendaknya meneladani dan menjadikan prioritas itu sebagai dasar bagi panggilan kita di dunia ini. Kepemimpinan kita dalam dunia ini adalah untuk membawa manusia pada kebutuhannya yang lebih utama dari sekedar kebutuhan dunia yakni kebutuhan akan keselamatan jiwa, kebutuhan akan kemerdekaan untuk berbalik pada Allah, melayani dan menyembahNya serta membawa manusia untuk taat pada Allah dan menjadikan allah menjadi prioritas utama bukan sekedar mencari bukti dari janji-janji Allah. Hidup dalam penghayatan akan panggilan inilah yang kiranya melahirkan kepemimpinan diri kita.

Kepemimpinan Kristen dalam konteks berbangsa

Bangsa indonesia telah memasuki usia kemerdekaannya yang ke 65 tahun dan masa reformasi yang mencita-citakan kedewasaan proses demokrasi di indonesia yang ke 12 tahun. Tetapi kepemimpinan yang kita saksikan ditengh-tengah bangsa adalah kepemimpinan oportunis, pencitraan dan nihil integritas. Masyarakat kian kehilangan kepercayaan pada para pemimpin yang memimpin secara politis dalam arti yang sempit yakni pada kepentingan pribadi dan golongan. Besarnya biaya politik yang secara terbuka sekan mengumbar nafsu politik itu sendiri.

Sata ini kehidupan yang pragmatis individualis menjadi ciri kepemimpinan para elit politik di tengah-tengah menjalankan pemerintahan. Artinya para pemimpin selalu mencari jalan aman bagi kedua pihak yang mendatangkan keuntungan pada masing-masing pihak. Kepemimpinan kehilangan esensinya sebagai amanah rakyat. Sehingga tidak jarang kebijakan-kebijakan yang diambil di tengah-tengah bangsa ini tidak tersentuh rakyat bahkan memberatkan kehidupan rakyat kecil. Menjadi pemandangan yang umum bagi kita melihat orang kaya kian kaya dan orang miskin semakin miskin dan dipermiskin.

Dalam konteks kebangsaan inilah kita menghayati arti kepemimpinan Kristen kita. Menghayati panggilan kita melalui profesi yang sedang kita emban. Apakah kita hanya bagian dari arus hidup dari kebanyakan orang. Atau apakah kita akan terus tenggelam dalam arus rutinitas yang menghabiskan waktu, energy dan kesempatan yang kita punya. Bukan berarti kita akan meninggalkan profesi kita tetapi panggilan lebih dari profesi. Profesi hanya alat pencapaian dari panggilan itu sendiri. hendaknya kita kembali menenangkan diri dan menata ulang kehidupan kita yang didasari oleh panggilan allah dan kembali pada prioritas hidup yang Tuhan inginkan.

Dengan demikian kepemimpinan kita bukan kepemimpinan pencitraan dan populis tetapi kepemimpinann yang taat penuh pada Allah hingga mati. Kepemimpinan kita bukan kepemimpinan oportunis maupun posisi tetapi kepemimpinan yang memberi pengaruh bagi banyak orang. Kepemimpinan kita tidak berbicara kekuasaan dan menuntut pelayanan tetapi hidup melayani sesama. Kepemimpinan kita bukanlah kepemimpinan tandingan dari penguasa dunia tetapi soal bagaimana kita mengasihi sesama kita. Bukan suatu tindakan penindasan baru tetapi soal pengampunan. Dalam konteks kepemimpinan inilah kita menghayati peran kita dalam kehidupan berbangsa saat ini.

Kepemimpinan Kristen dalam konteks zaman ini

Zaman yang saya maksud dalam hal ini dipandang dari sudut teknologi dan arus pemikiran manusia. Para pemikir dunia sepakat menyebut zaman ini adalah zaman postmodern. Dan arus pemikian sebagai faham maupun proses berpikir disebut postmodernisasi. Salah satu cirinya adalah keserbarelatifan segala sesuatu. Tidak ada standar kebenaran objek. Kebenaran adalah kebaikan yang dipandang secara subjektif. Dengan demikian manusia semakin individualis. Segala keputusan yang ingin diambil diukur dari seberapa baik dan menyenangkan hal itu pada diri saya pribadi. Dalam kontek yang demikian hubungan manusia tidak mengikat.

Zaman dimana kita hidup dipandang dari segi teknologi adalah teknologi informasi dan komunikasi yang menjadi arus pusat kehidupan manusia. Teknologi informasi merupakan mengalir dan menjadi arus yang sangat cepat. Manusia bahkan seakan terseret mengikut arus itu tanpa sempat berpikir akan segala sesuatu keputusan yang diambil didalamnya. Teknologi informasi menyediakan sarana komunikasi seluas-luasnya. Hanya saja ruang komunikasi yang mengalir begitu cepat ini membuat komunikasi yang dangkal bahkan maya. Manusia memasuki suatu kehidupan yang maya dan hal ini semakin membuat manusia kehilangan identitasnya.

Dalam zaman yang demikian, bagimana kita menghayati arti hidup dalam kepemimpinan Kristen. Kepemimpinan Kristen berbicara soal pengaruh namun tidak lagi langsung dihubungkan dengan pengikut. Sehingga kepemimpinan Kristen bukan mengumpulkan pengikut tetapi membawa pengaruh yakni kabar baik. Injil kerajaan sorga. Kepemimpinan Kristen tidak lagi dibatasi oleh tempat dan waktu tetapi bagaimana kita hidup dalam realitas kerajaan Allah. Arus zaman yang kian deras tidak serta merta membawa kita hanyut tetapi kita hadir membawa kebutuhan utama manusia lebih dari sekedar kepuasan diri. Hadir dalam relasi yang dalam bukan dalam relasi yang semu.

Penutup

Kepemimpinan Kristen adalah hidup dalam terang ilahi, menghayati arti panggilan Allah dalam hidup kita. Jadilah seorang pemimpin Kristen yang hidup untuk mengerjakan Allah bagi dunia. Dengan demikian hidup kita adalah untuk melayani sesama membawa kebutuhan utama manusia yakni menjadi warga kerajaan Allah. Seluruh hidup kita ditentukan oleh prioritas yakni ketaatan pada Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi komentar sopan dan tidak menyinggung hati dan perasaan kelompok tertentu.