-Sebuah Refleksi Dari Novel Di Kaki Bukit Cibalak Karya Ahmad Tohari-
Aku baru menyelesaikan bacaan, salah satu karya Ahmad Tohari yang berjudul Di Kaki Bukit Cibalak. Sebagaimana karya-karyanya yang lain yang telah kubaca (Bekisar Merah, Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala) Penuturan Tohari dalam novel ini mampu membangkitkan daya imaginasi kita menikmati alam indonesia yang hijau, kicauan burung bahkan hembusan angin segar semilir di kaki-kaki bukit. Dan penuturan Tohari juga mampu segera membuat kita terperanjat dan merasakan kekosongan jiwa. Kita menjadi menyadari keberadaan kita kini dalam keadaan alam yang sudah begitu jauh dari keadaan keseimbangan ekosistemnya tergerus oleh kemjuan zaman.
Novel Tohari dengan gamblang menyuguhkan pewatakan tokoh-tokoh dan konflik yang terjadi menjadi bagian dari kita sehari-hari. Terkadang kita sedikit malu untuk sekedar berkaca dari penggambaran watak tokoh-tokoh yang akrab dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal ini memberi kekuatan menyuarakan kembali akan kebenaran hati nurani, kekuatan moral dan keutuhan kemanusiaan kita yang tergilas dengan kemunafikan, topeng-topeng manusia yang menyembunyikan kebusukan diri dengan membangun citra diri dihadapan orang-orang.
Dalam novel ini, Pambudi menjadi tokoh utama yang mewakili, kekuatan moral, kehalusan budi, kemurnian dari hati nurani dan keutuhan kemanusiaan tanpa topeng. Dimulai dari keberanian Pambudi untuk keluar dari pekerjaannya sebagai pengurus koperasi desa karena tidak bisa lagi mengikuti kerakusan dari lurah yang menyelewengkan keberadaan koperasi untuk memperkaya diri dan tidak lagi kepada fungsinya untuk kesejahteraan rakyat. Kemudian keluhuran budi Pamdudi di uji kembali saat dia memutuskan untuk memperjuangkan pengobatan seorang janda miskin dikampungnya yang mengidap kanker di leher. Pambudi menunjukkan pengorbananannya yang tanpa pamrih dengan mengorbankan seluruh tabungannya bahkan sekiranya menjual sepeda sebagai hartanya yang paling berharga. Tetapi kemudian ketulusan Pambudi disambut baik oleh seorang pemimpin surat kabar lokal yang akhirnya menerima permintaan Pambudi untuk membuat iklan dan kantong amal. Kemudian hari Pambudi menjadi salah satu orang yang dipercaya Pemimpin Surat Kabar untuk mengembangkan surat kabarnya. Kalimat yang seakan sengaja diulang oleh penulis menyatakan bahwa masih ada seorang pemuda yang sangat tulus seperti Pambudi.
Perjuangan Pambudi akhirnya menimbulkan konflik antara dirinya dengan kepala desa yang akhirnya menjadi konflik yang ingin disampaikan oleh novel ini secara utuh. Konflik Pambudi dan Lurah akhirnya ingin menggambarkan Konflik kemanusiaan kini. Konflik dari manusia yang kehilangan kemanusiaannya karena harta, kuasa dan cinta (Sexsualitas) dengan manusia yang berdiri dengan idealisme, memperjuangkan hati nurani, moralitas dan keutuhan diri.
Novel ini seperti novel Tohari pada umumnya selalu menampilkan perjalanan cinta yang awam (Baca: Realistis). Penggambaran cinta oleh Tohari bukan sebuah penggambaran kisah romantisme yang mengharu biru. Kekuatan dari perjalanan cinta khas novel-novel Tohari justru terletak dari realisme yang ada. Bahwa tokoh-tokoh utama dalam novel Tohari adalah manusia yang memiliki cinta yang mau tidak mau juga terseret kepada konflik di sekitar perasaan itu. Jadi dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak, PAmbudi lebih menyentuh kita bukan dari cerita cintanya pada perempuan tetapi lebih dari itu cinta yang lebih universal. Kekuatan yang paling mengesankan adalah ketika cinta yang lebih luhur kepada manusia melampaui cinta diri dan keegisannya.
Dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak sebagaimana juga novel Bekisar Merah selalu ada seorang tokoh pembantu yang khas. Dalam novel Di Kaki Bukita Cibalak ini adalah tokoh bambang, seorang yang mempu keluar dari tirani kekuasaan yang membesarkannya dan tumbuh dalam hati nurani yang murni. Dalam novel Bekisar Merah ini diperankan anak dari tengkulak gula yang menjadi tokoh antagonis dalam novel itu. Tetapi juga penggambaran tokoh ini tetap digambarkan dalam realitas yang pada akhirnya tidak mampu secara independen berjuang sebagai pahlawan karena akhirnya akan terpuruk oleh kekuatan tirani yang terstruktur dalam birokrasi dan juga ikatan adat maupun kekeluargaan. tokoh Bambang tetap hanya mampu sebatas orang yang mengakui kekuatan moralitas Pambudi.
Novel ini menjadi sebuah cermin bagi kita yang biasa menopengi diri dengan karakter kosmetik (Pencitraan Diri). Novel ini memberi sebuah gema yang kuat dalam hati kita, mengetuknya keras-keras untuk akhirnya membawa kita kepada kejujuran diri bahwa kita harus mengakui betapa kita telah tergerus dalam arus sosial yang sedemikian korup. Kalau kita merasa dongkol melihat penangkapan para pemimpin, pengusaha dan aparat pemerintah yang korup, bisa jadi sebenarnya kita sedang melampiaskan kejahatan diri kita kepadanya. Kita hanya sedang memproyeksikan diri pada kejahatan orang lain dan merasa lega setidaknya kita merasa lebih benar dari mereka. Tetapi novel Di Kaki Bukit Cibalak dan sebagaimana Novel-novel Tohari yang lain tidak memberi tendensi menggurui bagi kita tetapi seperti cermin perlahan-lahan gambar kita yang kabur akan semakin terlihat dan mungkin kita malu, mungkin kita menyesal mungkin kita takut menghadapi diri kita. Tetapi kita tidak bisa berbohong pada diri kita, selalu timbul keharuan dari sebuah kisah kepahlawanan. Menemukan seorang yang mampu berjuang melampaui kepentingan dirinya demi rasa cintanya kepada sesamnya, kepada khalayak, kepada kemanusiaan.
Kita tidak pernah malu meneteskan air mata keharuan untuk seorang yang mau mengorbankan dirinya demi kehidupan orang lain. Seperti kata seorang tokoh besar yang hidup di daratan Palestina ribuan tahun lalu, tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang mau memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberi komentar sopan dan tidak menyinggung hati dan perasaan kelompok tertentu.