Seringkali kita sangat mengharapkan perubahan. Perubahan yang kita maksudkan bahkan seringkali melekat dengan adanya keberuntungan. Dalam menghadapi masalah, tak jarang kita menunggu akhir dari masalah dalam sebuah penyelesaian yang baik. Sekilas tentu tidak ada yang salah dengan semua ini. Tentu sangat wajar bagi setiap orang ingin segera terlepas dari setiap masalah yang dihadapinya.
Tetapi benarkah kita ingin segera menyelesaikan masalah atau tidak ingin menghadapi masalah. Inilah yang menjadi pokok yang ingin saya bicarakan bahwa pada umumnya orang ingin menghindari masalah sehingga ketika masalah datang maka dengan segera menanti-nantikan akhir dari semua itu atau setiap orang langsung ingin merubah semua yang kurang menyenangkan baginya.
Benarkah kita harus menghindari masalah?
Orang yang selalu menghindari masalah adalah orang yang menghindari kematangan. Ketika seseorang menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan baginya sedapat mungkin dia akan langsung berusaha merubah situasi.
Hadapi masalah dan petiklah hikmat.
Seni menjalani hidup tidak selalu seni dalam merubah situasi tetapi juga seni menikmati situasi tersulit dalam hidup ini. Seni menjalani hidup bukan hanya seni menikmati kenyamanan tetapi kekuatan bertahan dalam tantangan terberat. Seni menjalani hidup bukan hanya seni menikmati perubahan-perubahan yang lebih baik tetapi keteguhan saat kejenuhan kian membeku. Karena masalah, tantangan dan pergumulan merupakan bagian yang sama dalam hidup seperti halnya kesenangan, keberintungan dan kenyamanan.
Benarkah ada perubahan tanpa masalah?
Semua perubahan merupakan masalah karena perubahan akan mengusik kenyamanan. Sebuah gaya yang bekerja pada sebuah massa akan memberi dorongan yang membuat perubahan. Massa itu akan mengalami kelembaman hingga di beri gaya tambahan atau pengurangan gaya. Dengan demikian benarkah kita harus menghindari masalah? Sekali-kali tidak. Kematangan tidak ditunjukkan dari kemampuan menyelesaikan masalah tetapi kemampuan menghadapi masalah.
Kenikmatan menyeberangi sungai bukan saat sampai di seberangnya sehingga kita sedapat mungkin ingin segera sampai di seberangnya tetapi kenikmatan itu terletak saat kaki kita terkena airnya, terkena gelombangnya dan terbawa arusnya hingga kita tahu betapa proses menuju keseberangnya adalah perjuangan.
setuju.. menjadi ironi memang. kita mengharapkan suatu hal atau kondisi berubah, tetapi kita tidak mau berubah, padahal seringkali penyelesaian suatu masalah menuntut perubahan dari (dalam) diri kita.
BalasHapus