Sebuah Refleksi Akhir Tahun
Teringat beberapa tahun lalu, tepatnya tahun 2007 silam. Ketika itu saya dan beberapa teman kampus melakukan perjalanan selama 3 hari 2 malam ke Gunung Sinabung, Tanah Karo. Perjalanan itu bertujuan untuk melakukan pendakian Puncak Sinabung yang konon sangat indah sebelum Gunung itu meletus tahun 2010 lalu. Sesampai di kaki gunung sinabung kami, khususnya saya langsung terperangah oleh pemandangan yang sangat hijau ditambah kesejukan udara dan keindahan danau Lau Kawar, sangat mempesona. Selama 4 tahun sejak memasuki perguruan tinggi saya sudah memiliki hasrat untuk melakukan perjalanan serupa ini. Saya yang berasal dari daerah pesisir pantai selalu punya ekspektasi yang tinggi dengan pemandangan hijau, gunung dan hutan yang asri.
Setelah sesaat menikmati keindahan, kami langsung menyusun tenda. Berdirilah sebuah tenda pria dan sebuah tenda perempuan. Matahari meredup dan bersembunyi ke balik-balik bukit di kejauhan. Kami memasang api unggun dan menikmati santapan makan malam yang sudah kami bawa dari rumah kost.
Malam makin riuh setelah semua orang pengunjung serupa kami mulai mengadakan acara masing-masing. Beberapa grup mulai terdengar menyanyikan lagu-lagu yang menjadi minat dari grup masing-masing. Tak ketinggalan grup saya dengan iringan gitar mulai menyanyikan lagu-lagu yang menambah kehangatan malam. Dinginnya malam tidak terasa dengan canda tawa melepas semua kepenatan masing-masing pribadi. Ini pulalah menjadi tujuan perjalanan ini, berharap selepas perjalanan ini ada kesegaran dan semangat baru.
Setelah larut malam kami semua tertidur pulas dalam tenda kecil kami. Berbagi tempat tidur telah menolong kami merasakan kedekatan satu dengan yang lain.
Keesokan harinya kami bersiap memulai pendakian. Waktu itu tepatnya pukul 11 menjelang siang. Setelah semua perlengkapan di susun dalam tas ransel, kami mulai memasuki kaki bukit. Dari lembah ke kaki bukit untuk memasuki daerah pendakian gunung kami harus melewati sekitar 20 meter daerah miring yang sudah terbentuk berupa tangga alami. Sesampai di atas, sontak badanku gemetar. Pemandangan mulai gelap. Saya mencoba menarik nafas panjang berkali-kali hingga pemandangan mulai normal. Saya seperti kehabisan nafas. Saya terduduk dan menenangkan diri.
Awal Pertarungan
Selama beberapa menit, semua ekspektasi dan hasrat hati untuk mendaki gunung melintas sebagai potongan-potongan gambar memenuhi semua benak dan ruang imajinasiku. Saat seperti itu merupakan awal pertarungan. Dalam keadaan badan yang mulai membaik sontak sebuah suara berbicara keras memenuhi keplaku mempertanyakan alasan paling utama mengapa saya mau mendaki. Potongan-potongan gambar itu kian deras berputar-putar. Kini kelelahan badan telah hilang tetapi justru saya merasakan badan semakin tidak berdaya. Ada jiwa yang memberontak. Kelalahan yang paling utama adalah kelelahan pikiran yang bergulat dengan perasaan, keinginan dan perasaan mengasihani diri. Dalam hitungan menit akhirnya saya mengambil keputusan untuk mundur.
Selalu Ada Alasan Untuk Sebuah Keputusan
Keputusan yang saya sampaikan telah mengurangi semangat tim sejak di gerbang pendakian. Entah dari pikiran jernih atau perasaan mengasihani diri kemudian saya menyampikan sebuah alasan dalam kalimat yang keluar begitu saja, “Kalian lanjut saja, biar saya kembali ke tenda, saya tidak mau kalau di tengah jalan justru saya hanya menjadi beban”
Setelah beberapa teman mencoba membujuk, keputusan saya tak termundurkan sama sekali, saya kembali ke tenda dan teman-teman kembali melanjutkan pendakian. Sesampai di lembah, saya mencoba menenangkan diri. Saya mengambil waktu diam di pinggir danau. Berbagai pergulatan dalam pikiran akhirnya mereda dan saya dapat benar-benar diam. Dalam diam, saya mulai dapat mengatur pikiran secara sehat dan mendengar hati nurani secra jernih. Benarkah saya memikirkan pendakian mereka? Benarkah alasan saya benar-benar hanya karena tidak ingin menjadi beban?
Sebuah jawaban sederhana mengalir dalam pikiran dan hati bersamaan, ketidakinginan seseorang untuk merepotkan orang lain adalah sebuah sikap yang menunjukkan bahwa ia tidak ingin juga direpotkan. Hanya orang yang mampu bergantung pada orang lain yang mampu berempati pada orang lain. Kesungguhan orang yang selalu merasa mampu dan mapan dalam membantu orang lain akan memiliki batas pertimbangannya tetapi kesungguhan orang yang mau bergantung pada orang lain dalam membantu orang lain tiada berbatas karena ia akan selalu mampu untuk merasakan batas-batas kemampuan orang yang ditolongnya.
Kekalahan Sejati
Mengenali diri dan batas kemampuan diri tidak berarti apa-apa. Mengenali diri dan batas kemampuan diri hanya sebuah langkah, hanya satu sisi, sisi lain yang harus ada adalah memelihara hasrat dan dorongan diri. Hidup dengan usaha paling maksimal melampaui batas-batas kemampuan hanya terjadi jika ada dorongan kuat dan hasrat yang terus terpelihara. Maka keputusan untuk menyerah diawali bukan dari pengenalan diri dan batas kemampuan diri tetapi ketika hasrat dan dorongan takhluk ke dalam perasaan mengasihani diri. Disinilah titik kekalahan di awali.
Menyerah pada diri sendiri bukan pada kondisi dan situasi adalah kekalahan sejati. Kalah atas situasi dan kondisi dengan usaha paling maksimal merupakan bentuk lain dari kemenangan tetapi menyerah dan mengambil keputusan mundur merupakan kekalahan sejati. Situasi dan kondisi tidak dapat lagi mempengaruhi keputusan yang diambil oleh seseorang.
Kekalahan Sejati merupakan sebuah keputusan untuk mundur dan menghindari konflik sebaliknya Kekuatan jiwa dan kemenangan sejati hanya datang dengan mengambil keputusan untuk terus memelihara hasrat dan dorongan menghadapi konflik.
Beberapa Kekalahan
Beberapa kekalahan akhirnya jelas terlihat dalam beberapa bagian hidup yang saya jalani. Kegagalan dalam mempertahankan sebuah hubungan yang pernah saya jalin dengan seseorang diawali ketika saya memilih mundur. Setelah beberapa waktu berusaha untuk mempertahankannya, saya pada akhirnya menyerah. Alasan yang datang, 'mengapa harus mempertahankan sebuah hubungan yang selalu dibayangi konflik'. Keletihan jiwa dalam menghadapi konflik menjadi awal dari keputusan untuk mengakhiri hubungan.
Saya selalu memilih mundur dan menghindar dari keluarga yang selalu penuh konflik perasaan. Saya selalu menghindari konflik antara penghuni rumah dimana saya kost.
Semakin saya merenungkan beberapa bagian hidup saya yang menunjukkan kekalahan, saya semakin jelas melihat, bukan konflik-konflik dari luar diri yang membuat saya menyerah, tetapi dalam diri. Kekalahan sejati merupakan ketidakmampuan memanajemen perasaan, akal sehat dan hati nurani. Ketidakmampuan manajemen ini akan membuat diri selalu takhluk pada bayang-bayang idealisme. Menarik realitas ke dalam idealisme menjadi pertarungan yang menjadi penyebab kekecewaan dan seketika menghabiskan semua energi dan semangat dan di titik inilah sikap mengasihani diri menguasai semua keputusan. Keputusan-keputusan yang diambil pada akhirnya adalah gambaran-gambaran dari kekalahan sejati dengan mengambil jalan mundur dan tidak ingin melibatkan orang lain. Kekalahan Sejati hanya sebuah cermin manusia yang belum mampu hidup bersosialisasi dan wujud lain dari individualitas murni. Tetapi satu hal-selalu ada alasan untuk sebuah keputusan- Saya sedang mempelajari kekalahan saya dan saya menang.
Dalam Ruang Hening
Rantauprapat, 29 Desember 2011
Rantauprapat, 29 Desember 2011
"ketika kita mencari alasan untuk membenarkan diri sebagai reaksi atas: kesalahan-yang-kita-perbuat atau pilihan-yang-kurang-tepat, ketika itu juga kita melantik diri kita sebagai orang-orang kalah sejati, 'the loser'!". setelah membaca sekali tulisan ini, akau merasa perlu untuk membacanya lagi, dan kembali memikirkannya. keep writing, brother!
BalasHapus