Jumat, 09 Desember 2011

Desa Kelahiran: Cengkring Pekan (II)


Episode: Mitos-mitos

Tembang-tembang indah yang mengalun hingga tengah malam dari para pemuda-pemudi tak berarti desaku tidak memelihara mitos-mitos. Ada beberapa mitos-mitos yang tumbuh subur dalam masyarakat turun temurun. Sesungguhnya desaku masih keturunan ke tiga yakni generasiku atau cucu dari generasi kakekku sebagai perintis terbentuknya desa ini.
Beberapa mitos sangat erat dengan pendidikan moral orang-orang desa tetapi ada juga mitos yang ada sebagai tradisi terbentuknya desa kami.

Orang Kate
Orang kate adalah orang-orang bertubuh pendek yang konon adalah penduduk asli rawa-rawa yang menjadi cikal bakal desa ini. Menurut cerita yang dapat kusarikan demikianlah kiranya terbentuknya desaku”
Dahulu desa ini merupakan rawa-rawa sebagai bagian dari tepian pantai selat malaka. Hingga beberapa orang dari daerah tapanuli datang dan mulai merintis penghidupan melalui pertanian. Mereka mulai membuat rumah panggung dan membuka persawahan. Pada awalnya mereka tinggal di dataran tinggi yang disebut Bukkit. Pada perkembangannya, daerah ini semakin surut dan persawahan semakin dangkal. Sejalan dengan itu semakin banyaklah para pendatang untuk memulai penghidupan yang baru dan daerah pemukiman semakin tergeser dan berkumpul-kumpul. Sehingga daerah Bukkit menjadi hamparan sawah yang sangat luas dan penduduk bertu mbuh berkelompok hingga menjadi suatu pemukiman yang rapat-rapat. Dari sejarah itu pula dapat kita runut mengapa nama desa ini Pematang. Cengkering (Sebelum Oktober 2011).
Jadi orang-orang asli yang menduduki daerah ini merupakan orang kate. Beberapa orang mengaku pernah melihat tetapi tak seorangpun dapat menggambarkan apa yang dilihatnya. Biasanya orang-orang itu hanya melihat bayangan yang berjalan dari tengah desa menuju pinggiran hingga memasuki sisi timur desa ini yang masih merupakan rawa yang kami sebut Pando Ibus.

Kambing Berkaki Tiga
Selain orang kate, penampakan yang seringkali menjadi sebuah cerita misteri dan akan membuat bulu kuduk penduduk desa kami naik adalah kambing berkaki tiga yang kami sebut Hambing Sere. Kambing ini seringkali menunjukkan wujudnya tengah malam purnama. Kalau terjadi penampakan, biasanya oran desa akan membicarakannya secara tersembunyi seperti sebuah peringatan dan tabuh untuk dibicarakan secara terbuka. Tetapi kembali tak ada yang dapat menggambarkan dengan pasti bagaimana kambing itu. Pernah ada seorang yang dengan berani bersaksi melihat langsung kambing itu, semua orang diliputi oleh ketakutan yang amat sangat sehingga tidak ada yang berani lagi membicarakannya.
Menurut cerita kambing ini datang daerah pekuburan yang terletak di sisi barat desa kami yakni daerah persawahan yang kami sebut Bukkit. Kehadiran kambing ini dihubungkan dengan kehadiran para orang-orang meninggal yang ingin menjemput teman-temannya. Tetapi mitos ini menurutku merupakan mitos yang dipelihara untuk memberi pelajaran moral agar ornag-ornag muda tidak mencari tempat-tempat gelap atau bergadang hingga lewat tengah malam.

Ular Naga dan Si Tampul Ulu
Mitos ini tumbuh subur dalam cerita masa kanak-kanakku. Mitos ini lahir dari akar tradisi desaku. Begini, desaku dikelilingi oleh daerah persawahan dan mayoritas penduduk desaku merupakan petani sawah yang akan bekerja dari pagi jam 7 hingga sore jam 6. Jadi selama itu yang tinggal di pemukiman adalah para orang-orang tua yang tak mampu lagi bekerja dan anak-anak yang belum masuk sekolah dasar. Waktu itu aku ingat betul, kami anak-anak yang belum sekolah akan berkumpul-kumpul setelah para anak sekolah berangkat dan para orang tua ke sawah. Dan tiba-tiba dari ujung desaku terdengar akan adanya seorang pria tengah baya bertopi, bersepeda dan membawa goni dan keranjang, sontak kami semua berlari kerumah masing-masing dan sama halnya seperti aku, aku yakin teman-temanku akan bersembunyi di kamar atau di balik pintu. Kami semua dalam ketakutan. Orang yang masuk desa itu kami yakini adalah pemotong kepala manusia yang kami sebut Si Tampul Ulu. 

Selama beberapa menit aku merasai suasana diam desa penuh ketakutan hingga terdengar lonceng istirahat sekolah dasar yang ada di sudut barat desaku. Kami mulai berkeluaran dan langsung menyongsong abang kakak kami yang keluar istirahat. Mereka akan memberi nasihat-nasihat agar kami tidak berkeliaran di luar. Inilah kiranya pesan moralnya. Ya, jangan berkeliaran sembarangan.
Aku selalu tersenyum mengingat mitos ini, karena aku tumbuh dalam mitos ini. Aku juga akan terharu setiap kali aku mengingat masa itu. Para anak-anak di bawah 6 tahun tinggal di pemukiman selama setengah hari sampai abang-kakak kami pada pulang sekolah dan memberi kami makan siang. Seringkali anak-anak menjelang siang hari telah kelelahan bermain dan kami pulang ke rumah masing-masing dan tidur. Tidak ada yang kecelakaan, tidak ada yang ribut. Rasa senasib sepenanngungan membuat persaudaraan kekanakan kami terjalin dengan begitu kuat.

Untuk mengimbangi bayang-bayang ketakutan kami maka bertumbuh pula sebuah mitos bahwa di sepanjang jalan yang membelah dua desa kami mulai dari ujung utara yakni pekan senen hingga selatan yakni Jalan Gereja tidur seekor naga. Jika naga inibergerak maka desa kami akan goncang. Kami yakin betul dengan cerita itu karena dihubung-hubungkan dengan pengerasan jalan yang tertunda sebagai bukti empiris. Begini kira-kira, konon ketika tahun 90an desa kami mengalami puncak kejayaannya yakni menjadi pusat perdagangan kecamatan. Karenanya direncanakan pengaspalan jalan utama desa kami. Tetapi ketika telah mulai pengerasan tahap satu ketika jalanan di timbuni batu padas maka mengamuklah naga yang sedang tertidur itu hingga pengaspalan dihentikkan. Itu sebab jalanan dari pekan senen hingga jalan gereja ada batu-batu padas.

Mitos ini sarat dengan pesan moral. Dahulu ketika terjadi gempa hebat di daerah Taput, kemungkinan itulah saat yang disebut naga itu mengamuk dan setiap kali gempa yang goncang maka anak-anak langsung menghubungkannya dengan naga itu dan bersembunyi di bawah meja, tempat tidur atau berkumpul mencari teman-temannya. Betapa hebat cerita itu telah memberi pelajaran menghadapi gempa pada anak-anak karena para orang dewasa ada di sawah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi komentar sopan dan tidak menyinggung hati dan perasaan kelompok tertentu.