Sudah lama sekali aku ingin menyuratimu tentang keresahan hatiku untuk masalah ini. Tentulah kau akan berpikir bahwa aku hanya sedang memiliki suasana hati yang kacau, pekat dan gelap. Tetapi untuk kali ini aku minta jangan mengasihani diriku dan terpaksa mendengarku. Aku harus katakan bahwa aku dalam terang hati seterang-terangnya. Pikiranku setenang-tenangnya. Karena itu duduklah dengan tenang dan dengarkan.
Sepanjang usia pelayanan dimana kita telah Tuhan panggil. Dalam segala kegairahan akan kenikmatan kemuliaan, setiap kita dibina dan dipersiapkan ke dalam dunia alumni. Tetapi entah kenapa aku menggelisahkan satu hal. Mengapa kita benar-benar kurang siap memasuki dunia alumni dunia misi yang sesungguhnya. Seketika saja idealisme menguap dan meninggalkan dalam kerontang merangkak setiap kali seorang alumni memasuki dunianya. Apakah persiapan yang kurang? Ataukah komitmen yang kurang kuat? Atau mungkin tekanan dunia alumni yang begitu kuat. Dalam perenungan ini aku semakin gelisah. Sesungguhnya aku takut untuk memberi satu penyimpulan kegelisahan hatiku. Apakah memang demikian. Berhari-hari aku merenungkungkannya hingga siang ini aku dalam suasana yang begitu tenang, pikiran seterang-terangnya, menggunakan hati sedalam-dalamnya.
“Rendah Diri,” inilah kata yang menjadi salah satu akar mengapa kita tidak pernah siap memasuki dunia alumni. Rasa tidak percaya diri yang melekat pada kita sudah sejak semula memasuki kampus. Sudah sejak menentukan pilihan untuk memilih satu jurusan di kampus kita, ada satu rasa tidak percaya diri dan pilihan itu hanyalah pilihan alternatif, bukan pilihan sebagai manusia merdeka dalam kesadaran peradaban akan kebutuhan pendidikan melalui jurusan itu. sudah sejak semula kita merasa tidak sederajat dengan lulusan kampus-kampus lain yang lebih besar.
Ketika kita mendapati ada satu sakit kejiwaan dalam diri kita maka kita mencoba membela diri. Kita tidak pernah mengobati sakit ini. Tetapi kita hanya mengikuti naluri dan kemanusiaan kita yang mencoba bangkit dengan merasa bahwa masuk menjadi salah satu mahasiswa di kampus kita itu adalah suatu keberuntungan. Bukankah kita hanya sedang menghibur diri kita. Tetapi jauh dalam hati dilubuk-lubuknya ada ketidakpuasan dan tentunya kerendahdirian. Beberapa dampak dari kerendahdirian ini memberi dampak serius dalam diri kita yaitu:
1. Merasa kita mampu hanya untuk tidak mau dianggap tidak mampu.
Kemandirian dalam berpikir bukan hanya sekedar menutupi ketidakmampuan. Sejak dalam pendidikan pertama dalam keluarga kita sudah didik untuk belajar hanya untuk tidak dianggap bodoh. Sesungguhnya kita tidak pernah merasa yakin atau memiliki kepercayaan diri untuk berpikir dan belajar. Berpikir dan belajar hanya suatu pencitraan. Kita lebih banyak menerima hukuman atas kesalahan dan kekhilafan daripada penguatan, kita lebih sering menerima nada merendahkan daripada pujian. Hal inilah yang kita bawa. Dan ketika kita telah memasuki kampus kita, kita pun cendrung berusaha untuk menguasai sesutu hanya untuk dianggap mampu buka semata-mata untuk penguasaan bidang itu sendiri. Kepuasan kita masih cendrung dipengaruhi oleh pengakuan.
Dampak ini berakibat pada ketidakpercayaan diri kita selama study. Ingatlah betapa mudahnya kita menyerah pada tugas-tugas yang sulit, pada tekanan-tekanan birokrasi. Kita belum sampai dititik benar-benar menikmati hidup dalam dunia intelektualitas. Kita masih jarang merayakan waktu-waktu diskusi, belajar, membaca diperpustakaan, nongkrong dibawah pohon beradu argument, menertawakan nilai-nilai jelek sambil berkomitmen merubah diri. Proses berpikir kita masih terikat suatu hubungan social. Berpikir mestilah secara merdeka dan mandiri. Hubungannya dengan orang lain hanyalah suatu tanggungjawab moral serta etika komunikasi dalam penyampaian.
2. Mencari prestasi menutupi kekurangan diri
Dampak ini tidak jauh berbeda dengan dampak sebelumnya. Sederhananya saya kalimatkan begini. Tidak ada perbedaan antara orang sombong dengan orang yang minder. Orang minder hanya orang yang tidak memiliki kesempatan untuk menyombongkan diri. Orang-orang yang rendah diri akan berusaha menggali potensi diri atau mengejar suatu prestasi hanya untuk menutupi kekurangan diri. Sesungguhnya orang-orang demikian belum menjadi orang merdeka. Belum menjadi orang-orang yang menerima diri apa adanya. Seseorang yang mengejar prestasi hanya menutupi kekurangan diri hanya menjadi orang yang rentan dan membawa beban hidup yang terus membayangi diri.
Berprestasi adalah demi prestasi itu sendiri. Kita tidak perlu merasa berhak untuk tidak direndahkan oleh karena kita memiliki prestasi. Menuntut penghargaan diri secara komprehensip hanya karena kita memiliki satu preatasi hanya sebuah reaktifitas. Kita harus menerima diri apa adanya, memaksimalkan potensi diri buka menutupi kekurangan diri. Kita memang harus memaksimalkan potensi diri sebagai pertanggungjawaban dihadapan Tuhan dan melihat kelemahan sebagai Sesutu yang kalau-kalau dapat kita minimalkan atau sedapat mungkin tidak mempermasalahkannya.
Terkait dengan kemandirian dalam berpikir pada akhirnya kita harus benar-benar haus akan ilmu pengetahuan bukan untuk menutupi kekurangan diri tetapi untuk benar-benar menguasai pengetahuan itu sendiri.
3. Tidak menerima orang lain apa adanya
Dampak ini langsung saja dapat kita lihat. Sejak kita masuk perkuliahan kita mulai membangun sutu pertahanan diri dengan buta. Kita tidak dapat memuji orang lain dengan tulus. Kerendadirian membuat kita sulit melihat kelebihan orang lain apa adanya. Sebaliknya kita cendrung melihatnya dari sudut pandang kita dengan tetap merasa kita tidak lebih rendah darinya. Mengakui kelebihan orang lain tidak harus merasa lebih rendah. Kita harus mampu memisahkan antara melihat kelebihan orang lain dengan menilai orang tersebut. Memang benar bahwa kita masing-masing memiliki kelebihan, tetapi tidak lantas harus membuat kita melihat kelebihan orang lain dan langsung melihat kelebihan diri.
Kita harus mampu melihat orang lain apa adanya. Kampus kita tidak akan pernah menjadi kampus besar ketika kita selalu mencari kelemahan dari kampus lain. Kita harus dengan jujur mengakui kelebihan-kelebihan dari orang-orang yang dapat masuk ke kampus-kampus yang memang lebih besar dan sudah cukup mapan serta dewasa dibanding kampus kita. Karena saat demikianlah kita membangun kampus kita menjadi besar. Kampus kita akan besar ketika mahasiswa-mahasiswa yang ada didalamnya merupakan orang-orang yang berjiwa besar dan mandiri. Seseorang menjadi besar bukan karena dia dapat menunjukkan kelemahan orang lain tetapi ketika dia dapat menerima orang lain apa adanya. Berfokus pada pribadi orang lain secara utuh tidak memandang orang lain dengan sudut sebahagian tetapi menjadikannya keseluruhan.
4. Mudah menyerah
Lihatlah betapa mudahnya kita menyerah. Jika kita tidak benar-benar merdeka dari kerendahdirian maka situasi dan kondisi dengan mudah akan menunjukkan siapa kita sesungguhnya. Kerapuhan kita akan terlihat saat kita menghadapi tantangan. Kerendirian membuat kita membangun pribadi kita menjadi pribadi yang mencari alasan bukan pribadi yang bertanggungjawab. Seorang yang percaya diri akan tahu menimbang segala resiko dan didalam kesiapan menanggung resiko dan bertanggungjawab, orang itu akan bertindak. Sehingga ketika kegagalan datang maka orang itu tidak menjadi rapuh dan mempersalahkan lingkungan dan segala sesutu diluar diri tetapi melihatnya sebagai resiko dari setiap keputusan yang diambilnya.
Kembali pada pernyataan awal maka jelaslah sudah bahwa kerendahdirian kita menjadi salah satu alasan kita tidak pernah siap memasuki dunia alumni. Gambaran-gambaran diatas sebagai dampak dari kerendahdirian cukup menggambarkan bahwa kita belum benar-benar memiliki kemerdekaan sebagai kaum intelektual yang Tuhan pilih dan siapkan sebagai agen pembaharu bangsa. Dengan demikian sebagai orang-orang tebusan Allah kita belum benar-benar siap memasuki dunia alumni yang begitu ketat persaingannya.
Sahabat, sesungguhnya ketika seorang PKK memimpin dalam ketidakmerdekaan ini maka orang itu akan terkungkung dan tidak dapat memimpin dengan bebas. Seorang PKK hanya akan memimpin serba ragu dan tidak dapat bersuara keras. Aku tidak sedang berkata bahwa kita semua harus memiliki tingkat kemampuan yang sama tetapi kita harus dalam tingkat kemerdekaan yang sama. Berapa banyak dari saudara/I kita yang memimpin dengan tidak memiliki visi atas adik-adik atau KKnya. Berapa banyak PKK berpuas diri ketika sudah dapat menjalankan tradisi KK yang sudah begitu kuat dipelayanan kita. Dengan demikian setiap AKK selalu dibayangi kerendahdirian ini. KK menjadi sedemikian kaku dan hanya sebagai tempat memelihara tradisi lisan dari pesan-pesan yang pernah diterima oleh PKKnya bukan sebagai suatu tempat dimana para kaum intelektual dalam segala kerendahatian berdiskusi untuk mencari kehendak Tuhan.
Sahabat, aku tidak akan berargumen lebih panjang lagi. Aku hanya ingin melihat bahwa pelayanan kita kedepan ini akan menjadi pelayanan bagi orang-orang yang memang menerima kemerdekaan dalam Yesus Kristus bukan hanya merdeka dari kuasa iblis tapi dari kerendahdirian, memasuki suatu peradaban yang melepas diri dari tradisi-tradisi gelar, memperbaiki taraf hidup atau menaikkan status social tetapi sebuah peradaban dari orang-orang yang Tuhan sudah tebus dan panggil untuk menikmati pendidikan tinggi sebagai agen pembaharu masa depan. Peradaban yang mencintai ilmu pengetahuan. Peradaban yang membawa manusia pada taraf yang lebih mulia yakni dalam gambar dan rupa Allah. Sehingga alumni-alumni yang kita hasilkan adalah alumni-alumni yang mandiri, terarah oleh panggilan Tuhan dan dengan percaya diri akan menantang dunia dengan segala kekorupannya. Alumni yang benar-benar siap dengan kemampuan yang diperolehnya selama mahasiswa dan dilayani tanpa harus merasa rendah diri dihapan orang lain.
Kuharap semua ini dapat menjadi pemikiranmu juga dan jangan biarkan menguap begitu saja. Kalaupun banyak yang kurang mendalam tetapi aku sudah mengerahkan daya pikirku untuk benar-benar mengajukan pemikiran ini padamu. Kuharap kau dapat memperdalamnya dalam dirimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberi komentar sopan dan tidak menyinggung hati dan perasaan kelompok tertentu.