Sudah sepatutnya kita akan berdiri di depan menentang setiap penistaan terhadap kaum sebangsa kita serupa pemancungan terhadap salah satu dari saudari kita di negeri asing itu. Tetapi bukankah tak lama berselang itu kita mendapat kabar yang tidak begitu terkuak akan adanya penistaan anak negeri sendiri oleh majikannya yang seorang pejabat polisi di medan. Rasanya kita memang masih mewarisi feodalisme dari zaman hindia belanda. Penderitaan kita sebagai bangsa terjajah tak kurang menjadikan kita memiliki mental oportunis yang menanti-nanti suatu kekuasaan hingga pada akhirnya kita menjadi penjajah bagi saudara sendiri. Bukankah itu yang dilakukan oleh para pemimpin bangsa kita saat ini dan kita diam.
Tak kurang lagi perihnya hati menyaksikan tingkah langkah para penguasa yang asik menghitung keuntungan diri dari perasan keringat para buruh yang bekerja siang dan malam. Sedang mereka mendapat perlindungan dari para pemerintah yang mendapat jatah dari semua itu. Sudah seperti ditakdirkan para buruh tidak boleh mengimpi kehidupan yang lebih baik dan jabatan.
Hidup selama 7 tahun di perkebunan nusantara membuat aku mengerti bahwa hal yang harus dilakukan oleh setiap karyawan suatu perkebunan hanya harus bersyukur atas setiap gaji yang diterima. Bekerja selama berpuluh tahun, memelihara dan menjaga perkebunan kelapa sawit dan sesekali akan menunduk dalam saat-saat perjumpaan dengan para staf maupun asisten dan sekedudukannya. Bukankah kemarin aku harus menahan diri saat adik ibuku dan suaminya yang bekerja dengan tekun selama 30 tahun, (yang selama kutahu selalu bekerja baik memupuk, membersihkan dan memanen tanaman sawit di afdeling dimana mereka ditempatkan hanya punya satu tujuan produksi semakin meningkat) akhirnya pensiun dan harus mensyukuri uang pensiun yang bahkan untuk mendirikan rumah masa tuanya pun mereka masih harus menambah. Mungkin kau akan berkata bahwa itu salah mereka tidak menabung selama ini. Tetapi dengarlah ini, mereka dengan gaji suami istri itu hanya cukup untuk biaya hidup sederhana dan pendidikan sederhana dengan 6 orang anak.
Bahkan dalam satu peristiwa ketika aku masih baru hidup sebagai seorang adik karyawan dan baru pula didaftar di salah satu SD di sana aku sudah harus mendapat ancaman dari seorang teman ketika aku begitu jengah menyaksikan kepongahan seorang anak di SD itu “ eh… dilaporkan bapaknya baru tahu kau. Kau anak baru nggak tahu, dia itu anak asisten” sedemikian keramatlah setiap kata asisten, staf, menejer, KTU, Mandor satu hingga kerani. Seolah setiap kata itu mengandung daya kuasa yang dilekatkan oleh Tuhan didalamnya hingga aku sebagai adik seorang karyawan biasa juga memiliki status sosial bawah.
Pemberontakan masa kecil itu membuat aku hampir-hampir berkesimpulan kalau sudah menjadi tabiat manusia merindukan kekuasaan untuk mengusai orang sebanyak mungkin orang dan merasakan kepusaan dari penistaan atas sesamanya. Agama mana pula yang mengajarkannya. Aku rasanya menggigil dan dalam hati berteriak menyuruh aku insyaf. Tetapi bukankah aku tidak perlu lagi menyalahkan zaman terkutuk, zaman penjajahan. Karena mencari kambing hitam hanya menunjukkan tabiat manusia untuk membela diri sebagai wujud paling primitif peradaban manusia yang tidak mengenal Tuhannya. Berhentilah menyalahkan zaman-zaman sebelum ini, orde-orde pemerintahan sebelum ini. Dan berdirilah menghadapi peradaban bangsa kita saat ini dan mulailah untuk berpikir bagaimana harus berbuat untuk membenahinya. Biarlah semua sejarah dimasa lalu itu hanya menjadi bahan untuk membuat kita semakin mengenal identitas kita dan saat ini kita memperbaiki identitas kita dalam peradaban yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberi komentar sopan dan tidak menyinggung hati dan perasaan kelompok tertentu.