Jumat, 01 Juli 2011

Rencana, Harapan dan Kekecewaan (Refleksi Menjelang Akhir Tahun)

Tahun 2010 akan berakhir. Selamat datang 2011.

Seberapa banyak dari antara kita yang kecewa karena banyaknya rencana-rencana yang kita susun sedemikian rupa di awal tahun lalu yang tidak tercapai. Rencaan sudah pasti akan menjadi harapan kita. Harapan dalam hal ini adalah keinginan yang kuat untuk mencapai sesuatu. Dengan demikian rencana yag menjadi keinginan yang kuat akan menjadi harapan.

Ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan maka itulah yang kita sebut masalah. Masalah pasti akan menimbulkan kekecewaan. Jadi sesungguhnya kekecewaan berbanding lurus dengan besarnya jurang antara harapan dan kenyataan. sederhananya, kekecewaan dipengaruhi oleh dua variabel: harapan dan kenyataan. Semakin kecil perbedaan kenyataan dengan harapan maka semakin kecil kekecewaan dan semakin besar kepuasan.

Dari kesimpulan diatas maka sebenarnya untuk memperkecil kekecewaan kita hanya mempertimbangkan kedua variabel itu.

Pertama, Memaksimalkan usaha untuk mencapai hasil

kedua, Memperkecil harapan yang sedapat mungkin dapat kita capai.

I.Memaksimalkan Usaha Untuk Mencapai Hasil

Memaksimalkan usaha merupakan sesuatu yang paling mungkin untuk kita lakukan. Bukan pencapaian hasil. satu hal yang pasti, tidak akan ada hasil maksimal tanpa usaha maksimal. Bahkan usaha maksimal belum tentu akan mencapai hasil maksimal karena pencapaian hasil tidak hanya dipengaruhi oleh usaha tetapi juga berbagai faktor lain. Dengan demikian hal yang paling mungkin kita lakukan adalah usaha yang maksimal. Tetapi usaha yang maksimal yang tidak diikuti oleh hasil yang maksimal pada akhirnya akan mengecewakan. Lantas untuk memperkecil kekecewaan kita perlu memperhatikan hal kedua.

II.Memperkecil Harapan yang sedapat mungkin dapat kita capai

Kita harus senantiasa mempunyai harapan karena rencana tanpa harapan untuk mencapainya adalah usaha tanpa energi. Gairah untuk mencapai target atau mewujudkan rencana hanya ada bila kita memiliki harapan. memiliki harapan yang besar akan memberi gairah besar. Tetapi menurut hemat saya kekecewaan pada umumnya terjadi karena besarnya harapan yang tidak disertai hasil ataupun kenyataan. Dengan demikian untuk memperkecil bahkan menghilangkan kekecewaan adalah dengan memperkecil harapan. Tetapi mari berhenti sejenak sebelum pembaca salah memaknai. hidup tanpa harapan juga adalah utopis. Saya tidak bermaksud kita hidup utopis. Tetapi mari memahami apa yang saya maksud dengan harapan dalam hal-hal sederhana berikut:

Seringkali kita kecewa melihat seseorang hanya karena kita terlalu berharap orang tersebut seperti yang kita mau. Kita seringkali berteman dengan seseorang dengan tidak menerima dia apa adanya tetapi menerima dia seperti yang kita pikirkan dan seperti yang kita harapkan, sehingga ketika suatu waktu kita mendapati dia tidak seperti yang kita harapkan kita lantas kecewa. Bukankah kita tidak akan kecewa pada diri seseorang apabila kita menerima orang tersebut apa adanya tanpa mengharapkan sesuatu yang terlalu besar yang pada akhirnya dia tidak mampu memenuhinya.

Dari contoh sederhana itu jelaslah saya kira apa yang saya sebutkan dengan harapan. untuk lebih jelas saya akan membagi dua harapan. Pertama, Harapan yang mendekati angan-angan dan perasaan diri akan menghasilkan gelembung besar dan terbang sehingga seringkali tidak sesuai dengan kenyataan. Inilah harapan yang harus dihilangkan. Kedua, Harapan yang mendekati logika akan menghasilkan rencana yang matang dan dapat dicapai dengan hasil yang maksimal.Jadi kita dapat memiliki harapan tetapi janganlah kiranya harapan kita lebih mendekati perasaan diri bahkan angan-angan.

Memasuki akhir tahun dan menyambut tahun baru, banyak diantara kita akan melakukan refleksi akhir tahun untuk memperbaiki rencana-rencana tahun mendatang. Mari menyusun rencana menjadi harapan dan mari memiliki harapan yang mendekati logika agar dapat mnghasilkan usaha yang maksimal. Tetapi usaha yang maksimal belum tentu diikuti hasil yang maksimal pula. Hanya ketika kita sudah berusaha dengan maksimal tanpa hasil setidaknya kita sudah hidup sebagai pejuang sejati bukan sebagai pengecut dan penakut.

Hal terakhir biarkan Tuhan dalam segala kekayaan Rahmat dan Kemurahan-Nya memberi hasil sebagaimana Dia sangat mengerti seberapa hasil yang sesuai dengan usaha kita dan lebih dari itu kita tahu itu anugerah semata.

Kekecewaan hidup seringkali lahir dari harapan kita akan hidup lebih berupa angan-angan dan perasaan belaka sehingga kita terlanjur terbang melambung meninggalkan kenyataan jauh. Ketika kita diperhadapkan dengan kenyataan maka yang ada masalah dan kekecewaan.Tuhan tidak pernah hilang dan tertidur tapi Tuhan dan pekerjaan-Nya seringkali dikaburkan oleh hati kita yang fokus pada diri sendiri dan perasaan diri.

Menerima hidup sebagaimana Tuhan menuntun akan sangat menolong kita senantiasa bersyukur karena terkadang apa yang Tuhan nyatakan tidak terpikirkan oleh kita. Maka fokus utama kita dalam hidup sesungguhnya adalah Tuhan itu sendiri bukan rencana-rencana hidup. Dengan demikian refelksi akhir tahun adalah apakah langkah hidup kita kian seirama dengan kehendak Tuhan. Apakah kita dan Tuhan sudah berjalan seperti rel kereta api selalu dalam kedekatan yang sama.

Medan, 28 Desember 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi komentar sopan dan tidak menyinggung hati dan perasaan kelompok tertentu.