Beberapa jam sebelum tulisan ini kubuat, aku dan seorang temanku berbelanja di salah satu swalayan terbesar di kota kecilku Rantauprapat. Setelah aku selesai memilih barang kebutuhanku, aku langsung menuju kasir. Karena aku masih harus menunggu temanku itu maka aku tidak langsung kemeja kasir.
Sedah sejak itu aku langsung tergelitik mendengar percakapan 3 orang kasir yang asik ngobrol sementara beberapa kasir sedang kerepotan untuk melayani pelanggan yang sudah mulai antri. Aku mencoba berpikir wajar karena baru pergantian sift. Tetapi aku langsung menyadari bahwa itu hanya wujud dari bagaimana mereka sebenarnya dan langsung saja kuperhatikan bahwa supervisor mereka sedang tidak ada yang mengawasi. Perbincangan itu semakin menggelitik saat aku mulai mendengar
“kapan ini dibereskan” tanya seorang sambil memperhatikan meja dan rak barang yang ada di sekitar meja kasir berubah menurut percakapan itu
“ tadi pagi” jawab yang seorang. Sambil tertawa yang lain langsung menyambung “ jadi nggak bisa lagi kan beres-beres (Red:pura-pura) sambil nonton”
Langsung saja kulihat ke atas ke arah mata mereka memandang yakni sebuah layar televisi besar yang menayangkan film kartun.
Belum usai sampai di situ, aku akhirnya mulai antri menunggu giliran kasir menghitung. Selama antri itulah aku menyaksikan tabiat beberapa kasir itu. Pertama kasir dimana aku mengantri. Dengan wajah yang amat murung itu dia menghitung barang-barang seorang ibu didepanku yang belanja begitu banyak bersama anaknya yang masih balita. Tiba-tiba ibu itu memanggil anaknya karena ada barang yang dipegang belum dihitung adahal kasir hampir menekan tombol jumlah. Aku terkejut mengapa kasir ini selalai ini. Tiba-tiba ibu itu mengambil lagi beberapa barang yang sudah ada diluar, beberapa mainan anak yang dipegang anaknya. Aku geleng-geleng mengapa kasir itu begitu ceroboh. Seandainya ibu itu tidak meminta mungkin barang-barang yang tidak sedikit jumlahnya itu tidak akan masuk hitunga.
Selang beberapa saat dia semakin kesal karena ada satu mainan anak yang harganya sudah tidak ada lagi sehingga harus pergi ke tempat mainan itu untuk mengecek harga. Sebelum dia pergi dia mengomel “ ke situ aja bang” katanya dengan kesal ke arahku dan menyambung “ udah tahu ramai” sembari melotot ke arah kasir-kasir yang asik ngobrol di depan monitor tadi. Lalu aku coba ketus “kan tidak ada orang” hampir tidak kedengaran. Lalu dengan tidak sabar kasir itu mengulang lebih kuat sehingga kasir-kasir yang merasa langsung memasuki mejanya dan aku langsung pindah sehingga kasir tadi pergi mengecek harga barang.
Aku mengambil beberapa kesimpulan. Mereka masih bekerja dengan pengaruh orang lain. Bekerja baik jika diawasi dan bahkan baik-tidaknya pekerjaa mereka dipengaruhi oleh orang lain bukan buah dari budi karsa serta keluhuran dari seorang manusia yang memang harus berkarya yang dalam hal ini melalui pekerjaannya. Mereka masih hanya ingin memperoleh gaji bukan ingin bekerja di perusahaan itu. Gaji bukan sesuatu yang pantas mereka terima karena kegigihan dan kerja keras mereka tetapi karena mereka ingin mendapatkan uang, sehingga sedapat mungkin kalau boleh bekerja sedikit uang banyak. Dalam pendapat temanku itu begitu mengerikan “bahkan untuk menjadi kulipun mereka tidak pantas dan mental-mental sedimikianlah yang kita dapati di tengah bangsa ini”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberi komentar sopan dan tidak menyinggung hati dan perasaan kelompok tertentu.