Ibu
Kau alasan bagiku pulangMenjejaki hamparan hijau
Menikmat nasi di gubuk tua
tetapi disampingmu
Kau mengalir dalam setiap hirup nafasku
Bau mewangi semilir rerumput pagi
Mendekap hangat sepi hatiku
Ibu...
Doa yang tak pernah usai
menyemai bulu-bulu ronaku
hingga aku bersayap dan terbang
tetapi aku ingin pulang
megepak riang bermain disampingmu
aku tahu kau hanya akan tersenyum
karena aku tak perlu bicara
kau membaca untai sinar mataku bercerita
dalam rinduku
dalam sepiku
dalam lelahku
dalam kecewaku
kau tahu lidahku keluh bercerita
apakah aku terlalu besar untuk kembali tidur di pangkumu
ibu engkau nyanyi yang tak kunjung usai
senandung pagi menghantar fajar
kidung malam dalam rebahku
biarkan aku berlari kecil dibelakangmu
menjejaki jalanan berlumpur
menuju pematang sepetak tanah kita yang tak pernah bertambah
selain gadai dan hutangnya
tapi kita tidak akan berhenti
menyemai hidup dilereng-lerengnya
menanti saat panen tiba
aku akan menari diantara jerami melupa sesaat jerih lelah
melupa dahsyat gabah yang sudah tiada
kita tak lagi pemiliknya
tapi aku akan tetap berlari dibelakangmu
sebab kau tak pernah berhenti
dan matamu tak akan redup menguntai harapan
binarnya menusuk dalam
menancap hatiku
ibu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberi komentar sopan dan tidak menyinggung hati dan perasaan kelompok tertentu.