Pagi itupukul 05.30WIB. Aku segera berangkat. Hari itu aku akan akan menghadiri undangan pernikahan teman di kota Pem. Siantar. Setelah menunggu sekitar 20menit akhirnya ada bus lewat. Sebuah Bus Sentosa.
"Siantar?"
"Beta, beta, beta"
Aku segera naik. Sesampai di dalam aku menuju satu kursi kosong. belum lagi duduk dadaku rasanya mau meledak. LAngsung secara spontan aku berdiri lagi dan berjuang membuka kaca bus. Usaha sia-sia. Bus ternyata bus AC. Tetapi kalau bus berhenti berhenti pulalah ACnya. Aku sengaja mengibas-ngibaskan asap di hidungku. Tetapi tak sedikitpun para lelaki di depan, samping, belakangku mengerti. Dengan pongahnya mereka mengpulkan asap-asap dari mulut dan hidungnya. Pagi-pagi sarapan polusi pikirku. Akhirnya aku kelelahan dan tertidur karena bus sudah melaju cukup lama sehingga AC sudah mulai mengurai asap tebal di dalam bus. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB dan kami sudah sampai di daerah limapuluh. Aku hitung-hitung kami akan sampai pukul 11.00 kurang di Siantar. Aku akan dapat mengikuti ibadah pemberkatan pikirku. Tetapi masih asik menghayal tiba-tiba bus masuk sebuah rumah makan. “istirahat, mangan, mangan, mangan”
Tidak apa-apa, aku keluar mengambil udara segar dan akhirnya bernapas lega. Tetapi ada kejanggalan. Perhatianku tertarik pada seorang perempuan yang dengan cekatan mengeluarkan barang-barangnya dari bus. Aku mendengar ada suara angkot masuk halaman rumah makan di balik bus. Aku tidak ambil perduli dan memutuskan untuk untuk duduk santai di teras warung. Tetapi tiba-tiba perhatianku tertarik lagi. “bayar on mu do ongkoshu da, sotung gabe rugi au” omel perempuan itu sambil lalu lalang di depanku. Aku berdiri dan mencari perhatiannya “ na marsambung do hamu ito?”
“ I do, Tu siantar do au”
“tu dia do huroa bus on?”
“Tu medan”
“Dang tu siantar?”
“Sewa siantar oper on na do antong.”
Langsung saja aku panic dan emosi. Aku sudah menjadi korban kesewenang-wenangan. Belum lagi aku panjang berpikir seorang kondektur langsung datang “Tu Siantar do hamu kan lae, beta ma” Ongkos boleh di bayar pikirku tapi kalau aku akan melanjut dengan angkot aku pasti akan sampai di Siantar 2 jam lagi atau bahkan lebih. Aku mulai emosi dan ingin marah, tetapi belum sempat aku berkata-kata aku langsung naik karena angkot akan berangkat.
Dalam kondisi jengkel bus berjalan memasuki daerah perdagangan. Angina yang segar membuat otot-otot sarafku kembali meregang. Aku mulai menikmati perjalanan dengan membaca trilogy Rara Mendut dari Romo Mangun. Tiba-tiba perempuan yang duduk di sudut angkot di belakang sopir itu menarikperhatianku. Menurutku dia sebaya denganku, mungkin sedikit lebih muda. Dia asik menekan tombol-tombol HPnya dan sesaat kemudian, “halo, namandok aha doho nuaeng? Aha do dipikkiri ho?” aku yakin orang di seberang telepon belum sempat menjawab tapi “Amang tahe bah…. Holan na mambahen susah do ulaonmu. Dang marboa-boa ho bah. Akh tahe…. Hancit ni ulukki bahenonmu…nunga di boto ho bapa marsait-sait alai manamba-namba pikkiran dopeho. Na lomo do roham hatop mate bapa i. manang na hupamate bapa I, asa sombu roham. Ido ra pinangidom ate?” perbincangan berlanjut dan aku mulai senyum-senyum sendiri.
Aku mulai memperhatikan sikapnya, gerak-geriknya. Dialah perempuan batak pikirku. Seorang yang cekatan, bersikap tegas dan gesit. Akh… perempuan itu. Dia seorang perempuan batak. Bahasanya, tutur katanya menunjukkan kepribadiannya yang kuat, menampik semua gambaran tetang perempuan lemah, manja dan mencari-cari perlindungan. Dengarlah kat-katanya yang tegas. Jangan pernah artikan kata demi kata dari perempuan itu karena kata-katanya akan sangat tajam bukan hanya menusuk hati tetapi sampai ke sumsum tulang belakang. Kalau lelaki berhadapan dengannya jangan berharap dia akan malu tersipu bahkan grogi tetapi dia akan menghadapi dengan matang dan dari setiap tutur katanya seakan-akan diasedang berkata “ jauhkan semua basa-basi dan mulut manismu, bersikaplah wajar sebagai lelaki dan telan sendiri semua rayuan gombalmu” Laki-laki kemayu akan tersingkir dihadapannya.
Gerakannya menunjukkan kematangan sikapnya. Lihatlah caranya berpakaian, sederhana tetapi sangat mempesona. Kulitnya yang hitam manis dn wajahnya tegas dengan sudut-sudut dan lekuk-lekuknya. Inilah perwujudan boru ni raja. Perempuan-perempuan kebanggaan tanah batak. Boru tapanuli. Sedikitpun tidak ada kesan keragua-raguan dalam dirinya.semua perilakunya menunjukkan suatu kematangan menimbang dan berpikir. Seorang yang hidup dengan prinsip.
Dari tatapannya yang tajam dan dari kata-katanya yang melengking tegas serta gerakannya yang mantap dialah perempaun pekerja keras. Dia jauh dari sikap mengeluh. Dari setiap jalan hidupnya nampaklah prinsipnya “daripada mengeluh lebih baik bertindak dan jalani hidup” perempuan seperti ini adalah pejuang-pejuang hidup. Dan aku akan katakana pada Samuel Tumanggor, bahwa merekalah perempuan-perempuan pemandu bangsa. Dengar saja lanjutan ceritaku ini, dari hasil kesimpulanku maka sebenarnya perempuan itu merasa tersinggung karena adiknya yang sedang kuliah di Kalimantan tidak mengajaknya diskusi dan tidak diberitahu kalau adiknya telah pindah dari rumah saudara dan memilih kos. Dan perempuan itu bertanggungjawab mengirimkan uang belanja adiknya sebesar Rp.500.000 perbulan. Akh… tak pelak lagi. Dialah perempaun batak tulen. Seorang yang penuh tanggungjawab. Dari hasil kenalan singkat kami dia berjualan bunga di pasar pagi di jambi. Apakah kau tidak terpesona dengan perempuan itu.
Stop. Jangan kau kira dia kampungan oleh karena bahasa bataknya yang kuat. Tidak sama sekali. Dengarlah kalimat-kalimatnya ini :”dang marboa-boa ho tu au. Lasso dihargai ho au sebagai kakamu. Sian kaka do huboto da. Na hubereng do kotak masuk di ‘Fesbukku’toe” Dia orang yang mengikuti perkembangan. Tidak ada kesan kampungan dalam dirinya. Kalau kau tidak percaya juga dengarlah kalimatnyaini :”toe ma, berani mengambil keputusan, berani bertanggungjawab. Dibuat ho keputusan dang marpanukkun tu au, mulai sonari dang mangkkirim be au tu ho. Ido kompensasi molo dang dihargai ho au kakakmu.” Akh… masihkah ada kesan kampungan dalam dirinya. Bukankah dia seorang yang hidup dalam peradaban maju. Dari kalimat itu kelihatanlah dia seorang perempuan bermartabat yang memposisikan lawan bicaranya seduduk, seberdiri, sederajat. Dia meletakkan lawan bicaranya sebagai manusia merdeka semerdeka dirinya.
Perempuan-perempuan batak yang menarik hati.
Langsung saja aku teringat akan ibuku. Bukankah semua itu ada dalam dirinya. Dia pahlawanku. Dia pejuang sejati. Dia tidak pernah mengeluh tetapi dengan gigih dan kerja keras, bersama bapakku, memperjuangkan 8 anak-anaknya. jauh dari hanya sekedar menuntut, tapi berbuat dan marsianju-anjuan,marsitukkol-tukkolan mereka mengarungi hidup. Aku teringat akan seorang penulis lagu bertutur demikian “Anggiat dapot au inang, songon burjum parsondukki” kiranya…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberi komentar sopan dan tidak menyinggung hati dan perasaan kelompok tertentu.