Jumat, 01 Juli 2011

Peradaban Imoralitas

Pagi ini seperti biasa, hal yang paling nikmati adalah membawa buku bacaan dan catatan ke salah satu kolam renang terbuka yang ada di daerah pinggir kota yang masih asri. Kupustuskan membawa Gadis Pantai karya Pramodya AT. sesampai di sana aku duduk di salah satu pondok dan mulai menikmati bacaanku. setelah sejam kemudian aku melanjutkan ritualku dengan berenang.Setelah hampir sejam berenang beberapa anak yang baru saja tamat sekolah malah menunjukkan kalau mereka sangat perlu bantuan orang yang mau mengajari mereka berenang. Aku mulai merasa nggak nyaman dilihati terus dan aku datangi mereka dan mulai berkenalan. Jadilah aku guru berenang secara mendadak.

Hampir sejam kami belajar berenang bersama dan akhirnya mereka pulang. Aku kembali menikmati bacaanku. Selang beberapa saat tiba-tiba rombongan anak-anak SMP mulai membuat suasana riuh. aku tetap dapat menikmati bacaanku dan tidak merasa terusik karena memang kolam itu sendiri terbuka dan cukup luas sehingga suara keriuhan itu tidak begitu mengganggu. Satu jam aku masih dapat menikmati sampai aku mulai merasa ada yang aneh. sepasang anak SMP berjalan ke arah sudut pundok tepat didepanku. Sementara teman-teman mereka di ujung yang lain berenang. Mereka mulai duduk dengan nyaman. Beberapa saat dadaku mulai bergetar ada peperangan dalam diriku. Aku mulai memalingkan wajahku dan berusaha menikmati bacaanku dan berusaha menanamkan dalam hati bahwa mereka sedang dilanda cinta remaja. hati nuraniku berteriak keras-keras, mengapa aku menjadi munafik dan berusaha bersikap wajar. aku tidak tenang dan tiba-tiba aku menegakkan duduk dan memalingkan diri ke arah mereka dan mereka terperanjat. Sesaat kemudian aku membaca dan mereka mulai duduk dengan mesra dan mulai menunjukkan hal yang patut di sensor bahkan dalam film berlabel untuk 17+. Pada akhirnya mereka tidak lagi terusik sedikitpun dengan diriku.

Aku mulai merasa marah, sedih dan perasaan-perasaan yang tak menentu. Siapakah yang aku harus salahkan? apakah aku harus salahkan kebudayaan barat. Apakah aku harus katakan bahwa semua ini merupakan pengaruh kebudayaan barat. Kebudayaan tanpa adanya kesopanan. Kebudayaan yang memberi ruang kebebasan bagi individu tanpa harus merasa punya tanggungjawab moral bagi sekitar. Keterbukaan yang mempertontonkan imoralitas. Tetapi baru saja aku mencari kambing hitam tidak kurang hitam lagi budaya timur apakah arti kesopanan yang selama ini aku agungkan, bukankah kesopanan hanya suatu wujud kemunafikan. Bukankah buku yang sedang kubaca menunjukkan kegelapan peradaban negeriku yang mengangungkan adat ketimuran. Bukankah adat ketimuran yang sudah ditanamkan padaku sedari kecil hanyalah wujud dari penutupan diri dari segala ketelanjang. Bukankah kita sama telanjangnya.

Dalam kondisi perasaan yang tak menentu ini aku pulang dan pikiranku dipenuhi oleh gambar-gambar bangsaku saat ini dengan perpolitikan yang sedang membangun peradaban imoralitas. Bukankah setiap hari media menayangkan perpolitikan tanpa rasa malu. tidak ada yang mau mengaku salah. Tidak ada yang bahkan merasa salah. Dan dalam ketelanjangan mereka masih mampu menari dalam perpolitikan dagang sapi.

Ah... bukan hanya para elite pilitik sesungguhnya, bukankah masyarakat kita telah bertumbuh dalam peradaban imoralitas. Tak lagi kita dengar orangtua menanamkan kejujuran bagi setiap anak-anak mereka. bukankah masyarakat lebih memilih mendukung kecurangan UN asalkan anak-anak mereka tamat. Bukankah dunia pendidikan yang seharusnya menyemai peradaban dengan tanpa rasa malu menyemai kebohongan.Para pelaku pendidikan cukup puas dengan kemunafikan menuliskan kepuasan lulus 100 % tanpa harus merasa bertanggungjawab dengan kemerosotan moralitas sebesar itu juga. Bukankah perbincangan yang wajar orangtua bersedia membayar mahal asalkan rapot-anak-anak mereka dicuci bersih-bersih.

Semakin tunduklah tepekur melihat para penggiat film dan pertelevisian sebagai perangsang peradaban tak kurang dari pemuas nafsu. Lihatlah sinetron-sinetron kita yang hanya perduli pada selera, tidak lagi merasa memiliki tanggungjawab mendidik masyarakat. Lihatlah iklan-iklan kita yang tidak mendidik dan penuh kebohongan. Dan kita beramai-ramai mulai menikmati kepura-puraan kita......Akh...Meledaklah dada mencuat kepedihan.bukankah berkarya sesungguhnya adalah tanggungjawab moral setiap individu untuk meningkatkan peradaban kemanusiaan yang lebih baik.

Tetapi kian hari kita melihat peradaban kita semakin bertumbuh dalam peradaban imoralitas


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi komentar sopan dan tidak menyinggung hati dan perasaan kelompok tertentu.