Jumat, 01 Juli 2011

PILIHAN HIDUP MEWAH MANUSIA-MANUSIA PECINTA KEMAPANAN

Beberapa waktu yang lalu saya setelah hidup 26 tahun mendapat kesempatan untuk melihat wajah kota Jakarta. Selama 2 hari berada di sana saya mendapat kesempatan untuk menikmati salah satu tempat hiburan yang menjadi tujuan banyak orang di ibukota Negara ini. Dunia Fantasi. Ya, sebuah arena bermain yang menyediakan beberapa permainan yang dapat memacu adrenalin kita. Para pakar melakukan berbagai riset untuk pada akhirnya menemukan berbagai alat yang dapat menimbulkan sensasi tersendiri ketika manusia menggunakannya. Sensasi yang dapat menekan rasa takut atau bahkan melawan rasa takut manusia.

Alat-alat permainan yang ada mengakomodir berbagai rasa takut manusia mulai dari rasa takut pada ketinggian sampai rasa takut oleh perjalanan/petualangan berbahaya maupun ketakutan yang timbul jika bencana alam terjadi. Bahkan yang terbaru menyediakan suatu alat permainan yang akan membuat seseorang memiliki sensasi jatuh dari ketinggian 60 meter dan sebaliknya terangkat secara tiba-tiba.

Masa puasa yang menjadi masa sepi dunia hiburan menyebabkan pengelola Dufan (Red:Dunia Fantasi) harus putar otak membuat berbagai tawaran untuk menarik pengunjung. Salah satunya adalah dengan diskon sampai 50%. Masa inilah yang kami(saya hanya mendapat traktiran adik) gunakan waktu itu. tetapi kesan saya pertama kali sampai di loket pembelian Tiket (artinya gerbang masuk) adalah Dunia kemapanan. Berada ditengah keramaian pengunjung, saya merasa asing. Saya seakan berada di dunia tanpa masalah. Seketika jiwaku berontak. Walau sudah mendapat diskon 50% tapi untuk biaya masuk kami 4 orang saat itu sudah merupakan jumlah yang begitu besar bagi saya.

Setiap orang yang hadir kesana adalah orang yang ingin merefresh diri. Menghilangkan kepenatan dan kejenuhan. Satu pembelajaran yang saya coba untuk refleksikan adalah setiap orang berhak untuk mendapat waktu refreshing atau menyenangkan diri setelah bekerja. Tetapi baru aku merefleksikan sepanjang jalan gerbang masuk aku sudah tersadar kembali. Apakah kita harus mengeluarkan biaya besar untuk sekedar mengendurkan otot-otot syaraf yang sudah lelah. Apakah hidup harus semahal itu.

“Pendapatan besar akan secara otomatis menaikkan biaya hidup”. Saya tidak sependapat sama sekali yang benar adalah. Gaya hiduplah yang akan menaikkan biaya hidup. Dan gaya hidup adalah pilihan. Kesegaran dan kesenangan memang dipengaruhi oleh suasana tetapi yang menjadi penentu adalah kondisi hati. Dengan sendirinya saya langsung bersimpul bahwa Dufan adalah pilihan hidup mewah dari manusia-manusia mapan.

Menikmati hiburan mahal adalah pilihan menutup mata dari masalah yang ada di masyarakat dan membela diri untuk merasa berhak menikmati apa yang dimilikinya (Uang, kesempatan dan waktu). Pola hidup demikian adalah pengingkaran akan tanggungjawab manusia pada sesamanya. Dunia Fantasi menjadi peradapan tersendiri yang dapat menyebabkan ketulian pada jeritan orang-orang yang tidak mampu dan kerabunan terhadap wajah kemiskinan. Mungkin kita berkata, kemiskinan itu ditimbulkan oleh dirinya yang tidak bekerja keras sedang saya hanya mencoba menikmati hasil dari jerih payah saya. Pernyataan ini sama sekali pernyataan justifikasi yang semakin membuat kita kehilangan jati diri kemanusiaan kita dengan menjadi hakim bagi sesama.

Dengan demikian apakah saya adalah orang yang menolak Hiburan serupa Dufan. Tidak sama sekali. Bagi saya Dufan tetap menjadi salah satu tempat dan pilihan dari orang-orang yang membutuhkan hiburan untuk merelaksasi otot-otot syaraf setelah jenuh bekerja sehari-hari. Tetapi saya menolak setiap pilihan yang akan mendehumanisasi manusia dan membawa manusia pada peradaban vertical yaknii peradaban dimana manusia semakin individualis,keluargais, golongis dan pola-pola hidup yang semakin mengurutkan manusia secara vertical dengan dasar fight to survive.

“Apakah Tuhan pernah bermaksud menciptakan manusia yang sebahagian akan menikmati kemewahan dan sebahagian tidak menikmati apa-apa sama sekali dan apakah Tuhan memang memilih kita untuk menikmati kemapanan dan yang lain serba kekurangn bahkan ketidaklayakan hidup secara sederhana sekalipun”. Tetapi Negara ini sendiri semakin vertical dan pemerintah kian alpa dari kaum miskin seakan beberapa orang yang terlahir ke dunia dan ada di Negara ini tidak memiliki hak untuk mendapat pembelaan, perlindungan dan hak untuk hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi komentar sopan dan tidak menyinggung hati dan perasaan kelompok tertentu.