Jumat, 15 Juli 2011

Sudut Pandang

Selalu punya sudut pandang yang berbeda dari orang kebanyakan sudah semestinya tetapi tidak memiliki sudut pandang tidak semestinya menebas habis hutan pandang yang terhampar subur dan luas. Menjadi bijaksana tidak berarti memiliki sudut pandang yang tepat dalam segla masalah tetapi menjadi bijaksana sudah semestinya mampu melihat segala sesuatu dari sudut yang berlain-lainan.

Sudah menjadi tabiat manusia untuk membentengi diri setinggi mungkin jika ada orang mencoba jujur pada kita karena seringkali kita justru masih mencampuradukkan perasaan dan penalaran. Bukankah jauh lebih bijaksana bila kita mampu menimbang sesuatu dari sudut yang berlain-lainan. Tetapi lihatlah dan resapilah dalam setiap kali kita berada dalam diskusi dan perdebatan kita lebih cendrung meletakkan diri dalam posisi mempertahankan diri daripada mengakui betapa kita sangat senang dengan pendapat yang baru yang belum pernah kita dengarkan. Harga diri untuk tidak dianggap bodoh sesungguhnya telah benar-benar menunjukkan kebodohan diri kita sehingga kita tidak pernah bisa menangkap pembelajaran baru dari sudut pandang orang lain. Bodoh bukankah adalah kurang wawasan dan kurang wawasan sama artinya bahwa kita hanya mampu melihat sesuatu dari pandangan orang kebanyakan.

Senin, 04 Juli 2011

Berdiri dan hadapi

Sudah sepatutnya kita akan berdiri di depan menentang setiap penistaan terhadap kaum sebangsa kita serupa pemancungan terhadap salah satu dari saudari kita di negeri asing itu. Tetapi bukankah tak lama berselang itu kita mendapat kabar yang tidak begitu terkuak akan adanya penistaan anak negeri sendiri oleh majikannya yang seorang pejabat polisi di medan. Rasanya kita memang masih mewarisi feodalisme dari zaman hindia belanda. Penderitaan kita sebagai bangsa terjajah tak kurang menjadikan kita memiliki mental oportunis yang menanti-nanti suatu kekuasaan hingga pada akhirnya kita menjadi penjajah bagi saudara sendiri. Bukankah itu yang dilakukan oleh para pemimpin bangsa kita saat ini dan kita diam.

Tak kurang lagi perihnya hati menyaksikan tingkah langkah para penguasa yang asik menghitung keuntungan diri dari perasan keringat para buruh yang bekerja siang dan malam. Sedang mereka mendapat perlindungan dari para pemerintah yang mendapat jatah dari semua itu. Sudah seperti ditakdirkan para buruh tidak boleh mengimpi kehidupan yang lebih baik dan jabatan.

Hidup selama 7 tahun di perkebunan nusantara membuat aku mengerti bahwa hal yang harus dilakukan oleh setiap karyawan suatu perkebunan hanya harus bersyukur atas setiap gaji yang diterima. Bekerja selama berpuluh tahun, memelihara dan menjaga perkebunan kelapa sawit dan sesekali akan menunduk dalam saat-saat perjumpaan dengan para staf maupun asisten dan sekedudukannya. Bukankah kemarin aku harus menahan diri saat adik ibuku dan suaminya yang bekerja dengan tekun selama 30 tahun, (yang selama kutahu selalu bekerja baik memupuk, membersihkan dan memanen tanaman sawit di afdeling dimana mereka ditempatkan hanya punya satu tujuan produksi semakin meningkat) akhirnya pensiun dan harus mensyukuri uang pensiun yang bahkan untuk mendirikan rumah masa tuanya pun mereka masih harus menambah. Mungkin kau akan berkata bahwa itu salah mereka tidak menabung selama ini. Tetapi dengarlah ini, mereka dengan gaji suami istri itu hanya cukup untuk biaya hidup sederhana dan pendidikan sederhana dengan 6 orang anak.

Bahkan dalam satu peristiwa ketika aku masih baru hidup sebagai seorang adik karyawan dan baru pula didaftar di salah satu SD di sana aku sudah harus mendapat ancaman dari seorang teman ketika aku begitu jengah menyaksikan kepongahan seorang anak di SD itu “ eh… dilaporkan bapaknya baru tahu kau. Kau anak baru nggak tahu, dia itu anak asisten” sedemikian keramatlah setiap kata asisten, staf, menejer, KTU, Mandor satu hingga kerani. Seolah setiap kata itu mengandung daya kuasa yang dilekatkan oleh Tuhan didalamnya hingga aku sebagai adik seorang karyawan biasa juga memiliki status sosial bawah.

Pemberontakan masa kecil itu membuat aku hampir-hampir berkesimpulan kalau sudah menjadi tabiat manusia merindukan kekuasaan untuk mengusai orang sebanyak mungkin orang dan merasakan kepusaan dari penistaan atas sesamanya. Agama mana pula yang mengajarkannya. Aku rasanya menggigil dan dalam hati berteriak menyuruh aku insyaf. Tetapi bukankah aku tidak perlu lagi menyalahkan zaman terkutuk, zaman penjajahan. Karena mencari kambing hitam hanya menunjukkan tabiat manusia untuk membela diri sebagai wujud paling primitif peradaban manusia yang tidak mengenal Tuhannya. Berhentilah menyalahkan zaman-zaman sebelum ini, orde-orde pemerintahan sebelum ini. Dan berdirilah menghadapi peradaban bangsa kita saat ini dan mulailah untuk berpikir bagaimana harus berbuat untuk membenahinya. Biarlah semua sejarah dimasa lalu itu hanya menjadi bahan untuk membuat kita semakin mengenal identitas kita dan saat ini kita memperbaiki identitas kita dalam peradaban yang lebih baik.

Bekerja ???

Beberapa jam sebelum tulisan ini kubuat, aku dan seorang temanku berbelanja di salah satu swalayan terbesar di kota kecilku Rantauprapat. Setelah aku selesai memilih barang kebutuhanku, aku langsung menuju kasir. Karena aku masih harus menunggu temanku itu maka aku tidak langsung kemeja kasir.

Sedah sejak itu aku langsung tergelitik mendengar percakapan 3 orang kasir yang asik ngobrol sementara beberapa kasir sedang kerepotan untuk melayani pelanggan yang sudah mulai antri. Aku mencoba berpikir wajar karena baru pergantian sift. Tetapi aku langsung menyadari bahwa itu hanya wujud dari bagaimana mereka sebenarnya dan langsung saja kuperhatikan bahwa supervisor mereka sedang tidak ada yang mengawasi. Perbincangan itu semakin menggelitik saat aku mulai mendengar

“kapan ini dibereskan” tanya seorang sambil memperhatikan meja dan rak barang yang ada di sekitar meja kasir berubah menurut percakapan itu

“ tadi pagi” jawab yang seorang. Sambil tertawa yang lain langsung menyambung “ jadi nggak bisa lagi kan beres-beres (Red:pura-pura) sambil nonton”

Langsung saja kulihat ke atas ke arah mata mereka memandang yakni sebuah layar televisi besar yang menayangkan film kartun.

Belum usai sampai di situ, aku akhirnya mulai antri menunggu giliran kasir menghitung. Selama antri itulah aku menyaksikan tabiat beberapa kasir itu. Pertama kasir dimana aku mengantri. Dengan wajah yang amat murung itu dia menghitung barang-barang seorang ibu didepanku yang belanja begitu banyak bersama anaknya yang masih balita. Tiba-tiba ibu itu memanggil anaknya karena ada barang yang dipegang belum dihitung adahal kasir hampir menekan tombol jumlah. Aku terkejut mengapa kasir ini selalai ini. Tiba-tiba ibu itu mengambil lagi beberapa barang yang sudah ada diluar, beberapa mainan anak yang dipegang anaknya. Aku geleng-geleng mengapa kasir itu begitu ceroboh. Seandainya ibu itu tidak meminta mungkin barang-barang yang tidak sedikit jumlahnya itu tidak akan masuk hitunga.

Selang beberapa saat dia semakin kesal karena ada satu mainan anak yang harganya sudah tidak ada lagi sehingga harus pergi ke tempat mainan itu untuk mengecek harga. Sebelum dia pergi dia mengomel “ ke situ aja bang” katanya dengan kesal ke arahku dan menyambung “ udah tahu ramai” sembari melotot ke arah kasir-kasir yang asik ngobrol di depan monitor tadi. Lalu aku coba ketus “kan tidak ada orang” hampir tidak kedengaran. Lalu dengan tidak sabar kasir itu mengulang lebih kuat sehingga kasir-kasir yang merasa langsung memasuki mejanya dan aku langsung pindah sehingga kasir tadi pergi mengecek harga barang.

Aku mengambil beberapa kesimpulan. Mereka masih bekerja dengan pengaruh orang lain. Bekerja baik jika diawasi dan bahkan baik-tidaknya pekerjaa mereka dipengaruhi oleh orang lain bukan buah dari budi karsa serta keluhuran dari seorang manusia yang memang harus berkarya yang dalam hal ini melalui pekerjaannya. Mereka masih hanya ingin memperoleh gaji bukan ingin bekerja di perusahaan itu. Gaji bukan sesuatu yang pantas mereka terima karena kegigihan dan kerja keras mereka tetapi karena mereka ingin mendapatkan uang, sehingga sedapat mungkin kalau boleh bekerja sedikit uang banyak. Dalam pendapat temanku itu begitu mengerikan “bahkan untuk menjadi kulipun mereka tidak pantas dan mental-mental sedimikianlah yang kita dapati di tengah bangsa ini”

Sabtu, 02 Juli 2011

Puisi IV

Ibu

Kau alasan bagiku pulang
Menjejaki hamparan hijau
Menikmat nasi di gubuk tua
tetapi disampingmu
Kau mengalir dalam setiap hirup nafasku
Bau mewangi semilir rerumput pagi
Mendekap hangat sepi hatiku

Ibu...
Doa yang tak pernah usai
menyemai bulu-bulu ronaku
hingga aku bersayap dan terbang
tetapi aku ingin pulang
megepak riang bermain disampingmu
aku tahu kau hanya akan tersenyum
karena aku tak perlu bicara
kau membaca untai sinar mataku bercerita
dalam rinduku
dalam sepiku
dalam lelahku
dalam kecewaku
kau tahu lidahku keluh bercerita
apakah aku terlalu besar untuk kembali tidur di pangkumu

ibu engkau nyanyi yang tak kunjung usai
senandung pagi menghantar fajar
kidung malam dalam rebahku
biarkan aku berlari kecil dibelakangmu
menjejaki jalanan berlumpur
menuju pematang sepetak tanah kita yang tak pernah bertambah
selain gadai dan hutangnya
tapi kita tidak akan berhenti
menyemai hidup dilereng-lerengnya
menanti saat panen tiba
aku akan menari diantara jerami melupa sesaat jerih lelah
melupa dahsyat gabah yang sudah tiada
kita tak lagi pemiliknya
tapi aku akan tetap berlari dibelakangmu
sebab kau tak pernah berhenti
dan matamu tak akan redup menguntai harapan
binarnya menusuk dalam
menancap hatiku

ibu...


Puisi III Nyanyianku

Nyanyianku

Aku bernyanyi bersama malam-malam yang belum sempat kau lewatkan
Meski tak indah aku ingin berirama. Detak jantung yang belum sempat untuk kau rasa
Detak yang ingin sekali kau iringi perkusi nyanyi jiwa berulang kau selami
Aku tak pernah ingini tapi kau tenggelam kelam menjaga malam akhir dari syair indah yang belum sempat kau gubah

Biar aku bernyanyi melewati malam-malamku

Nyanyi Hujan

Kau datang terburu-buru, barusan aku kelelahan habis bermain hujan menari bersama awan-awan kegirangan. Aku tahu ia tak akan berhenti sebelum habis seluruh isi hatinya kepedihan dalam gores-gores luka yang terpelihara berabad-abad dari bumi yang terkoyak. Dia sempat bercerita akan hadirnya yang penuh sambutan jutaan manusia yang siap menari di bawah bayang-bayang berpendar dari ketakhlukan mentari dari setiap kesombongan, kepongahan, kemapanan hidup yang diagung-agungkan.

Tapi dia terus menari walau sesekali aku jengah berulang mendengar rintih perih nyanyi duka. Sesungguhnya tak kulihat bibirnya berucap tapi tatapnya mengilat-ngilat di langit dan sesekali membakar pepohonan tua. sekali boleh aku bertanya kataku tapi di menggila mengguyur deras keras. Mungkin dia tak punya hati pikirku dan seketika rebah aku tergampar taukah kau bukan hanya pipi kiriku, pipi kananku, wajahku, tubuhku tetapi jiwaku seketika melesak hingga mengoyak langit, selama terbangku aku menatap bumiku, aku begitu rindu pada butir-butir tanah yang melahap habis ari-ariku, merindukan tanah yang pernah mengukir jejak-jejakku. kerinduan belum pernah singgah di relungku. Aku terus menatapi tanahku kian jauh dan air di mataku bertetesan.

Belum sempat aku bertanya lagi dan sesaat aku terhenti dan kau datang membawa butiran purnama "makanlah" aku tak pernah mengira kau akan sungguh-sungguh menjadikan purnama menjadi gula-gula. aku memasukkannya dalam mulutku, manisnya menyusup hingga aku merasa kerinduanku kian terobati. purnama melumar dalam mulutku tapi......

mengapa kau ikut mencair, mengalir, dalam tiap butir hujan dan....
terlalu getir mengenangmu menyusup kedalam tanah merinduku berabad-abad

Puisi II Nyanyian Sahabat

Nyanyian Sahabat I

Duduk diantara rerumput mengering
Ah…betapa kurindukan nyanyianmu
Memandangku dengan mata senyummu
Aku lelah, duduk dan cerita
Kita menganyam mimpi-mimpi
Menantang hidup engan berani

Aku hantar kau ke pelabuhan itu
Menatapmu kian jauh, menampar jiwaku
Menjauh ke pulau
Merajut waktu, mewujud rindu
Kau tegar berdiri
Memberi arti
Berani melangkah, berani memilih
Hidup untuk dijalani
.....................untuk sahabat:Paen

Nyanyian Sahabat II

Duduk merunduk dalam galauku
Kau menyibak beribu bayang kelabu
Merangkai diri, serpihan usang
Kau menjadi cermin kerapuhanku
Mengiring dalam kembara
Aku lelah
Merintih dingin melawan perih
Ah… Sahabat
Kembali kau topang aku berdiri
Bercermin dihatimu
Kau memberi arti
Hidup butuh kesungguhan
Ketulusan untuk memberi
…………untuk sahabat: Tika

Puisi I

Galau


galau
kian hari kian galau
mengapa aku merasa tidak merdeka
terusik
ada yang salah denganku
satu jiwa kebebasan kian terasing
sekali waktu ia datang berkunjung
aku kapar, tanpa daya mendapati ketidakberdayaanku

agaknya semakin hari semakin menjejak bumi
sudah.....
cukup fantasi, satu figur menopengi jiwa

ia sedang berkunjung menampakkan wujudnya
rapuh
ketidakteraturan
jauh terbenam didalam
mencuat merobek topeng-topeng kemapanan
topeng-topeng wibawa
topeng-topeng penjara
ketidakjujuran

menjaga keteraturan hingga membohongi diri
kesiasiaan

disini
Engkau dihadapku dan mengngkatku berdiri
membebaskan aku menjadi aku
seutuhnya.

Arti


Menapaki jejak-jejak usang
diantara kaisan mengering
mencari arti
aku ingin mengerti
jauh lebih sederhana
aku siapa

dalam bait yang telah ada
aku terkapar
sebab tidak ada alasan bagiku berpaling
tanpaMu,aku bukan siapa-siapa
arti yang tidak dapat kupahami
tak terselami
Kau datang dan memapahku
dan tubuhku terkapar di pundakMu
dipelukMu
didalam hangat senyum menyapaku
"Raihlah tanganKU"

Kepada Para Penulis

Manakala aku kembali
Aku ingin menikmati kembang
Menguntum rupa-rupa
Menitis nyawa yang tak sempat
Dihisap kumbang
Bersama kita menanam
Menyemai bau-bau kehidupan
Bagi dunia

Nyanyian Anak Negeri

Biarkan daun-daun berguguran

Walau belum menguning

Tak ada lagi arti,katamu

Jejak hanya menetak

Tak lagi jadi saksi

Jerit dan darah telah hilang

Hilang dikubur nurani membatu

Nyanyian negeriku sumbang

Sebab anak-anak belum lagi sekolah

Ah...mereka mengais diantara sampah

Menengadah di tengah kota

Melewat malam di bawah purnama

Sedang kau asik lagi menghitung

Menambah harga dari tiap kata tak bermakna

Tanah ini milik kita katamu

Aku hanya punya dedaun kering

dan sedikit nasi yang kau buang kemarin sore

disini...

di negeriku, aku tak pernah kau kenali


Anugerah

Hanya biarkan aku disini
berpulang padaMu
dalam taburan mewangi
iringan doa umatMu

berharap akan sukmaku
kemuliaanMu yang terhilang
berpaling dalam egoku
nafsu yang jalang

aku hina dalam debu
meratap tangis tak berair mata
tetapi aku masih terpaku
dalam nista Kau beri anugerah

kembali padaMu
dan ku tahu
dihujung jalan Kau berdiri
mengulur tangan aku dinanti

kasihMu membakar jiwaku
dalam kelu lidahku
biarkan hati menembang
lagu puji syukur mengembang
................... untuk seseorang yang terluka

MENELAN BINTANG

berdiri dan berpijak
menengadah menantang langit
menjaring bintang
menelan hingga kenyang
jangan datang lagi disini
biar aku merangkai jalan-jalanku
kepedihanmu menjadi seribu bayang
menelusup
dalam tiap kelopak mata

aku hanya ingin menjadi lelaki
dan tidak melukai
biar aku disini
menengadah menantang langit menjaring bintang
menelan tak henti

DISINI

AKU MENDAPATI KALIAN DISINI
MENGHENTAK SEGALA RUPA
KEBEKUAN
MEMECAH HENING
MENJADIKAN HARI-HARIKU BERARTI
INSPIRASI
JEJAK-JEJAK PEMBELAJARAN
BERSAMA KITA TELAH MENANAMI SERIBU PINUS
HARAPAN YANG MERENDA DITIAP FAJAR BERSINAR
BERSAMA KITA MENYIRAMI,
TUMBUH DALAM TIAP KATA SEDERHANA
DISINI, MENJADIKANKU BERARTI
Dedikasi bagi Yosua SG

BIARKAN

BATAS TANDAS TAK BERKIAS
JANGAN MEMANDANG
BIARKAN
BERJALAN TAK BERARAH
JANGAN KATAKAN TAK BERTUJUAN
HANYA INGIN BERJALAN TAK BERARAH
JELAS SUDAH BAGIMU
LELAH
BATAS TANDAS TAK BERKIAS
TANGIS BERPENDARAN DIDINDING HATI
TETES-TETES MENELAGA
BIARKAN
DISINI PENUHI JIWA DAN NURANI
BIARKAN
AKU SENDIRI

Jumat, 01 Juli 2011

Facebook dan Jatidiri Manusia

Setiap orang yang menjadi member dari facebook pasti ingin meng-update statusnya. walau hanya sekedar untuk mengungkapkan apa yang dirasakan tapi apa yang lebih diinginkan oleh facebooker tersebut adalah tanggapan dari teman-teman sesama. Facebook tidak lagi identik dengan kemajuan teknologi informasi yang mahal sehingga hanya menjadi konsumsi elite tetapi facebook sudah menjadi milik khalayak atau juga sudah menjadi konsumsi awam mulai dari daerah kota, urban hingga ke pedesaan.

Keberadaan facebook sendiri merupakan produk zaman postmodern yakni memanfaatkan keputusan pribadi individu dan memberi ruang kebebasan dalam dunia maya bagi setiap membernya. setiap individu ingin ditanggapi dan sebenarnya dengan nada sindir sebenarnya facebook membuat seseorang menjadi merasa penting atau artis. Hal inilah yang mendorong seseorang terus meng-update statusnya sebagaimana saya ungkapkan di atas.

Zaman ini menyadari kekuatan member yakni keanggotaan yang bukan sekedar menjadi bagian dari tetapi dengan sendirinya mengisolasi member tersebut. katakanlah sekarang mulai dari hipermart hingga toko waralaba atau bahkan swalayan pinggiran mencoba menerapkan sistem kartu anggota dan sistem member ini jauh lebih nyata dan begitu mengharuskan adalah dalam dunia maya. kita hanya boleh menjadi bagian dari suatu Grup/Situs/Jejaring apabila kita sudah lebih dulu mendaftar dan menyetujui apa saja tentangnya.

Sebutlah salah satu jejaring sosial yang menurut media bulan maret 2010 telah mencapai pengunjung terbesar di dunia bahkan melebihi perusahaan Google dengan semua produknya. Kita hanya bisa menjadi bagian dari Facebook jika kita sudah mendaftar dan memastikan kita menyetujui semua yang ada didalamnya. Oleh karena itu kita sebenarnya sedang diikat dan diisolasi hanya saja kita tidak merasakannya karena kita sendiri sudah terlanjur menikmati dan mengikuti kehidupan ala Facebook.

Lantas apakah Facebook menjadi sesuatu yang salah ? sama sekali tidak tetapi yang menjadi salah ketika mental kita tidak mampu menjadikan kita sebagai subjek dan produk teknologi(red:FB,Twiter,dll) sendiri sebagai alat dan rencana kita adalah objek.Beberapa kecendrungan manusia adalah:
1.Jika produk teknologi menjadi subjek sebenarnya kita sudah terjajah oleh produk buatan manusia itu sendiri
2. Jika produk teknologi menjadi objek kita kehilangan ruang riil dan hanyut dalam dunia maya.
3. Jika produk teknologi sebagai alat maka sesungguhnya kita mampu untuk berfikir secara riil dan berencana secara merdeka dan memanfaatkan produk teknologi sebagai sarana mencapai segala perencanaan untuk pencapaian kita sebagai manusia itu sendiri.

Selamat menjadi member produk jejaring sosial tanpa kehilangan jatidiri sebagai manusia. Manusia yang merdeka makhluk Real yang Allah ciptakan untuk merdeka mengelola seua sumber daya yang ada demi kemuliaanNya sebagai bukti gambar dan rupa Allah dalam diri manusia. Bukan sebagai hamba-hamba yang sudah terlanjur terjajah oleh produk yang diciptakan manusia itu sendiri

KEMURIDAN

Kelahiran kembali (Re-Born) menjadikan manusia kembali kepada tujuan awal penciptaannya sebagai makhluk yang diciptakan sedari semula telah memiliki tujuan. Seseorang baru benar-benar merdeka dan kembali memiliki jati diri yang benar sebagai manusia ketika dia ada dalam Yesus Kristus.

Yesus Kristus tidak pernah bermaksud menarik semua manusia menjadi pengikutnya sebagaimana sebuah perusahaan dunia menjadikan semua konsumen menjadi membernya yang hanya menjadi pengikut dan takhluk pada otoritas dan semua kedaulatan yang ditetapkanNya. Menjadi menarik ketika Yesus sendiri memperkenalkan istilah dilahirkan kembali ketika berbincang dengan nikodemus. Sebahagian orang mungkin akan langsung mengartikan pernyataan ini sebagai gerakan liberal yang meletakkan manusia sebagai dasar teologi. Tetapi pernyataan ini sendiri tidak sedang menghilangkan kemesiasan Yesus ataupun anti Kristologi. Tetapi mari melihat lebih jelas bahwa Yesus memanggil murid bukan sedang menghilangkan keseluruhan jati dirinya tetapi panggilan Yesus kepada satu tujuan yakni menjadi warga kerajaan Allah. Bahkan istilah kelahiran kembali menjadi suatu gambaran yang paling tepat untuk menunjukkan bahwa panggilan menjadi murid Kristus adalah panggilan pada pembebasan perbudakan dosa menjadi menusia seutuhnya yang akan kembali pada tujuan semula yakni menjadi penyembah-penyembah yang benar. Hidup baru menjadi gambaran keseluruhan seorang murid yakni hidup yang berpadanan pada kebenaran Firman Tuhan dan hidup dalam rencana Allah bagi dunia.

Hidup baru akan terwujud dalam hidup yang mencintai kebenaran, keadilan, keindahan, keteraturan. Hidup kekristenan bukan semata-mata kehidupan ekslusivisme dalam kelompok-kelompok yang suka beribadah dan hidup dalam pernak-pernik rohani yang begitu melekat dalam kesehariannya ataupun suasana rohani yang terlihat dari alunan-alunan music yang menyentuh dalam rumah-rumah ibadah ini hanya bagian dari kehidupan seorang murid Kristus. Allah mengecam bangsa israel kerapkali karena ketidaksetiaan mereka pada Allah yang justru ditunjukkan oleh kehidupan bangsa israel yang menyembah berhala. Penyembahan mereka terhadap berhala justru seringkali menjadikan bangsa itu semakin jauh dari keadilan, kebenaran dan kesucian hidup (Yeremia 23).

Panggilan Allah bagi bangsa israel adalah panggilan menjadi umat pilihan Allah dalam satu perjanjian menjadi bangsa yang akan menunjukkan gambar kerajaan Allah bagi dunia. Dan dalam perjanjian umat inilah ditetapkan berbagai ketetapan hidup untuk diikuti agar hidup umat menunjukkan bahwa mereka hidup didalam Allah. Bukan semat-mata menjadikan mereka special dan mengabaikan bangsa-bangsa tetapi agr kiranya manusia dalam melihat dan mengikut bagaimana seharusnya manusia hidup takut akan Allah. Hal inilah yang ditunjukkan oleh hidup Daniel, Yusuf maupun hamba-hamba Allah dalam sepanjang perjanjian lama.

Kegagalan israel untuk menjadi bangsa umat pilihan menjadikan mereka terbuang tetapi Allah tidak berubah. Allah tidak sedang kehilangan arah dan melupakan perjanjianNya. Dia tetap akan memulihkan suatu umat yang akan menjadi umat pilihanNya yang akan menjadi suatu kerajaan dimana Dia bertahta sebagai Raja dimana hidup warga kerajaanNya akan tunduk dan hormat serta hidup dalam kedaulatanNya. Hal inilah yang menjadi berita nabi-nabi israel baik dikerajaan utara (Samaria) maupun selatan (Yehuda).

Dengan demikian kehadiran Yesus Kristus bukanlah solusi akibat kegagalan Allah atas rencanaNya bagi bangsa israel. Tetapi merupakan rencana Allah bagi dunia untuk mengembalikan gambar dan citranya yang rusak di dunia. Agar dunia mengenal penciptanya. Hal ini dimulai dengan suatu persekutuan kecil yang akan mengembang sebagai kerajaan yang besar dan utuh yakni kerajaan Allah. Seperti biji sesawi yang kecil dan pada akhirnya menjadi pohon dan terbesar diantara jenisnya dan menjadi tempat bernaung bagi burung-burung.

Menjadi murid adalah menjadi warga kerajaan sorga dan hidup dalam kerajaan sorga dimana Allah adalah Raja. Allah sebagai Raja memerintah atas umatNya dan pengikut Kristus/ murid adalah umat yang akan hidup dalam otoritas dan kedaulatan Allah sebagai Raja. Kehidupan umat sebagai warga kerajaan sorga dengan demikian adalah kehidupan yang akan membawa nilai-nilai dan kebenaran dalam dunia yang telah rusak oleh dosa.

Sebagai murid Krisus kita sedang hidup dalam dunia dengan segala system nilai yang bertumbuh dalam keberdosaan (kerusakan moral, ketidakadilan, kemiskinan, kejahatan, dll) membawa nilai dan kebenaran yang sesungguhnya didalam Kristus (Kesucian, keadilan, perdamaian, keindahan, dll). Dengan demikian gambaran yang paling jelas untuk menunjukkannya adalah sebagai terang ditengan kegelapan dan sebagai garam di tengah pembusukan.

Menjadi murid/ warga kerajaan sorga adalah hidup dalam tatanan kemanusiaan yang mencerminkan gambar dan citra Allah yang kebahagiaanNya adalah kemiskinan dihadapan Tuahn dengan demikian akan senantiasa berharap pada sumber segala sesuatu yakni Allah. Dengan demikian dia akan mengakui Allah sebagai sumber segala sesuatu dan pencipta segala sesuatu. Dia akan senantiasa berduka dengan segala keberdosaan dunia dan hanya berharap pada pengampunan Allah sebagaimana dirinya diampuni dengan demikian dia akan memiliki hati yang lemah lembut sehingga karena hatinya akan senantiasa dipuaskan oleh Allah dan tidak lagi mengejar dunia dengan segala kekayaanya yang tidak akan pernah terpenuhi. Sebab memiliki Allah yang memiliki segala sesuatu sudah memiliki dunia ini.

Seorang murid akan senantiasa haus dan lapar akan kebenaran karena dunia telah kehilangan kebenaran dengan demikian dia akan senantiasa bersekutu dengan Allah yang menjadi sumber kebenaran itu sendiri sehingga kepuasanya adalah menikmati hadirat Tuhan dan kebenaranNya dalam Firman. Dengan demikian dia yang diperkaya bukan karena dia layak tetapi diperlayakkan dengan murah hati akan berbagi dengan sesamanya. Dalam persekutuannya dengan Allah dia senantiasa akan memiliki hati yang suci yakni hati yang tuduk pada nurani yang dibaharui oleh Roh Kudus. Dengan demikian dalam kesucian hatinya dia akan menyaksikan Allah dalam hidupnya karena dia senantiasa memiliki hati yang tunduk dalam setiap kehendak Tuhan dalam dirinya. Dalam hati yang kudus inilah akan mengalir damai sehingga damai ini akan terpancar bagi sekelilingnya, menaklukkan semua persaingan hidup manusia yang hanya mementingkan diri sendiri dengan demikian nyatalkah mereka sebagai murid-murid Kristus.

Sebagai warga kerajaan sorga yang mengekspansi kerajaan angkasa/ gelap/iblis (Efesus 2:1-4) dia akan mengalami penganiayaan, pencelaan dan fitnah segala yang jahat. Hal ini karena mereka bukan lagi warga dunia dan bukan dari dunia tetapi karena mereka adalah dari sorga yang diutus ke bumi untuk membangun kerajaanNya dan hal ini pulalah identitasnya sebagai murid yang tidak akan kompromi lagi pada dosa. Walau semua itu dialami dia kan berbahagia karena dia tahu upahnya bukan di bumi tetapi di surga dan dia juga tahu bahwa dari semula hamba-hambaNya yang terdahulu sudah lebih dahulu mengalami.

Dilahirkan kembali dalam kedaulatan Roh Kudus sebagai respon kita pada Kristus akan membawa kita menjadi ciptaan baru (Re-Creation). Manusia yang dikembalikan pada tujuan penciptaan semula yakni menjadi gambar dan rupa Allah. Untuk itulah manusia menjadi murid Kristus yang akan senantiasa belajar dan bertumbuh yang semakin hari akan semakin menyerupai Kristus. Sebagai murid yang hidup dalam kerajaan Allah dan membangun kerajaan Allah ditengah-tengah dunia. “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran”. (Yoh 17:18-19)

PILIHAN HIDUP MEWAH MANUSIA-MANUSIA PECINTA KEMAPANAN

Beberapa waktu yang lalu saya setelah hidup 26 tahun mendapat kesempatan untuk melihat wajah kota Jakarta. Selama 2 hari berada di sana saya mendapat kesempatan untuk menikmati salah satu tempat hiburan yang menjadi tujuan banyak orang di ibukota Negara ini. Dunia Fantasi. Ya, sebuah arena bermain yang menyediakan beberapa permainan yang dapat memacu adrenalin kita. Para pakar melakukan berbagai riset untuk pada akhirnya menemukan berbagai alat yang dapat menimbulkan sensasi tersendiri ketika manusia menggunakannya. Sensasi yang dapat menekan rasa takut atau bahkan melawan rasa takut manusia.

Alat-alat permainan yang ada mengakomodir berbagai rasa takut manusia mulai dari rasa takut pada ketinggian sampai rasa takut oleh perjalanan/petualangan berbahaya maupun ketakutan yang timbul jika bencana alam terjadi. Bahkan yang terbaru menyediakan suatu alat permainan yang akan membuat seseorang memiliki sensasi jatuh dari ketinggian 60 meter dan sebaliknya terangkat secara tiba-tiba.

Masa puasa yang menjadi masa sepi dunia hiburan menyebabkan pengelola Dufan (Red:Dunia Fantasi) harus putar otak membuat berbagai tawaran untuk menarik pengunjung. Salah satunya adalah dengan diskon sampai 50%. Masa inilah yang kami(saya hanya mendapat traktiran adik) gunakan waktu itu. tetapi kesan saya pertama kali sampai di loket pembelian Tiket (artinya gerbang masuk) adalah Dunia kemapanan. Berada ditengah keramaian pengunjung, saya merasa asing. Saya seakan berada di dunia tanpa masalah. Seketika jiwaku berontak. Walau sudah mendapat diskon 50% tapi untuk biaya masuk kami 4 orang saat itu sudah merupakan jumlah yang begitu besar bagi saya.

Setiap orang yang hadir kesana adalah orang yang ingin merefresh diri. Menghilangkan kepenatan dan kejenuhan. Satu pembelajaran yang saya coba untuk refleksikan adalah setiap orang berhak untuk mendapat waktu refreshing atau menyenangkan diri setelah bekerja. Tetapi baru aku merefleksikan sepanjang jalan gerbang masuk aku sudah tersadar kembali. Apakah kita harus mengeluarkan biaya besar untuk sekedar mengendurkan otot-otot syaraf yang sudah lelah. Apakah hidup harus semahal itu.

“Pendapatan besar akan secara otomatis menaikkan biaya hidup”. Saya tidak sependapat sama sekali yang benar adalah. Gaya hiduplah yang akan menaikkan biaya hidup. Dan gaya hidup adalah pilihan. Kesegaran dan kesenangan memang dipengaruhi oleh suasana tetapi yang menjadi penentu adalah kondisi hati. Dengan sendirinya saya langsung bersimpul bahwa Dufan adalah pilihan hidup mewah dari manusia-manusia mapan.

Menikmati hiburan mahal adalah pilihan menutup mata dari masalah yang ada di masyarakat dan membela diri untuk merasa berhak menikmati apa yang dimilikinya (Uang, kesempatan dan waktu). Pola hidup demikian adalah pengingkaran akan tanggungjawab manusia pada sesamanya. Dunia Fantasi menjadi peradapan tersendiri yang dapat menyebabkan ketulian pada jeritan orang-orang yang tidak mampu dan kerabunan terhadap wajah kemiskinan. Mungkin kita berkata, kemiskinan itu ditimbulkan oleh dirinya yang tidak bekerja keras sedang saya hanya mencoba menikmati hasil dari jerih payah saya. Pernyataan ini sama sekali pernyataan justifikasi yang semakin membuat kita kehilangan jati diri kemanusiaan kita dengan menjadi hakim bagi sesama.

Dengan demikian apakah saya adalah orang yang menolak Hiburan serupa Dufan. Tidak sama sekali. Bagi saya Dufan tetap menjadi salah satu tempat dan pilihan dari orang-orang yang membutuhkan hiburan untuk merelaksasi otot-otot syaraf setelah jenuh bekerja sehari-hari. Tetapi saya menolak setiap pilihan yang akan mendehumanisasi manusia dan membawa manusia pada peradaban vertical yaknii peradaban dimana manusia semakin individualis,keluargais, golongis dan pola-pola hidup yang semakin mengurutkan manusia secara vertical dengan dasar fight to survive.

“Apakah Tuhan pernah bermaksud menciptakan manusia yang sebahagian akan menikmati kemewahan dan sebahagian tidak menikmati apa-apa sama sekali dan apakah Tuhan memang memilih kita untuk menikmati kemapanan dan yang lain serba kekurangn bahkan ketidaklayakan hidup secara sederhana sekalipun”. Tetapi Negara ini sendiri semakin vertical dan pemerintah kian alpa dari kaum miskin seakan beberapa orang yang terlahir ke dunia dan ada di Negara ini tidak memiliki hak untuk mendapat pembelaan, perlindungan dan hak untuk hidup.

Tuhan, Situasi dan kondisi

Menarik sekali membaca pernyataan Sthepen Hawkins belakangan ini. Beliau berpendapat bahwa kita tidak memerlukan Tuhan untuk menjelaskan gejala alam yang terjadi. Kita bahkan dapat menjelaskan kejadian alam dan proses terjadinya alam semesta tanpa Tuhan. Semua terjadi sesuai hukum alam/fisika. Benarkah demikian. Kalau kita berpendapat sama maka kita adalah orang-orang yang lupa bahwa Tuhan tidak membutuhkan gejala alam untuk menjelaskan eksistensinya. Bahkan jika Manusia dalam semua kemampuan berpikirnya mampu menjelaskan konsep Tuhan, saya akan menolak Tuhan yang demikian karena Tuhan itu terlalu kecil sehingga dapat dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu yang menjadi bagian dari eksistensi manusia.

Manusia seringkali menghubungkan gejala fisik dalam dimensi waktu yang menjadi situasi dan kondisi dengan Tuhan. Sehingga manusia seringkali mempertanyakan keberadaan Tuhan sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang dialaminya. Tidak jarang pengalaman hidup yang pahit, kemiskinan, penderitaan, ketidakadilan social, peperangan, penjajahan dilihat sebagai kealpaan Allah dari hidup manusia. Dengan kata lain Tuhan yang kita sembah hanya bergantung dari apa yang kita rasakan atau kita alami. Kalau demikian kita sudah membatasi Tuhan dalam situasi dan kondisi yang kita alami. Kalau hal ini terus-menerus menjadi sikap iman kita maka kita akan semakin menjadi pusat dari kehidupan kita dan Tuhan hanya menjadi bayang-bayang dan alasan dari setiap apa yang kita alami.

Dalam sebuah penglihatan nabi Yeremia (Yeremia 24) terdapat dua buah keranjang berisi buah ara. Satu berisi buah yang sedap dilihat dan manis, yang lain berisi buah yang buruk dan asam bahkan tidak dapat dimakan. Sebelum kita meneruskan cerita ini, kira-kira kalau kita artikan sendiri pastilah kita akan menghubungkan keranjang yang masam itu dengan penderitaan dan kesulitan hidup sedang keranjang yang manis itu symbol dari hidup yang penuh berkat. Sejauh ini benar. Tetapi kalau kita meneruskan cerita ini kita akan mendapati bahwa keranjang manis itu justru ditujukan pada bangsa yehuda yang dibawa ke pembuangan di Babel pada masa pemerintahan Yekhonya. Dan keranjang yang masam itu ditujukan pada sisa bangsa Yahudi yang memilih hidup di Mesir dan Yerusalem dalam kecukupan dan kemapanan.

Kehidupan yang sulit di pembuangan dalam penjajahan bangsa babel tidak serta merta menyimbolkan kealpaan Allah dan wujud dari murka Allah. Dalam perikop ini kita menemukan janji Allah untuk pemulihan bangsa itu dan akan memperhatikan kebutuhan mereka. Masa –masa sukar yang kita hadapi tidak serta merta menunjukkan Allah menjauh . Allah tidak dibatasi oleh situasi dan kondisi. Dalam kuasa dan kedaulatan Allah, Allah mampu menggunakan setiap situasi untuk menunjukkan Kasih dan kesetiaanNya. Masa-masa sulit dapat menjadi masa-masa merefleksikan keberadaan diri kita dan memfokuskan diri kita pada pertolongan Tuhan dan akan membawa kita pada pendewasaan rohani.

Dalam nats ini ada orang-orang yang luput dari pembuangan, mereka hidup dengan kecukupan dan kemapanan di Mesir dan sejumlah besar di Jerusalem. Dalam kemapanan itu pulalah mereka hidup berfokus pada diri mereka sendiri dan melupakan sesamanya serta Tuhan. Mereka tidak lagi melihat bangsa Israel sebagai umat Tuhan yang harus hidup dalam kovenan yang Tuhan berikan. Kepada merekalah Allah memberi keranjang buar ara masam sebagai symbol dari penghukuman Allah. Allah bersikap keras kepada mereka karena kerohanian mereka dibutakan oleh kemapanan hidup dan kebebasan yang mereka nikmati. Semua keberuntungan yang kita alami tidak serta merta menunjukkan keberpihakan Allah tetapi keberpihakan Allah merupakan keberuntungan bagi kita. Jangan cepat puas diri dan melupakan Tuhan.

Yesus menjadi perwujudan dari penderitaan dan penistaan yang mendatangkan kemenangan. Jalan salib yang menjadi jalan menuju kematian sekaligus jalan menuju kemenangan mengajarkan kita untuk hidup focus kepada Tuhan yang menjadi pusat kehidupan yang ada meski harus melalui jalan yang sulit, sakit bahkan mati sekalipun.

Rencana, Harapan dan Kekecewaan (Refleksi Menjelang Akhir Tahun)

Tahun 2010 akan berakhir. Selamat datang 2011.

Seberapa banyak dari antara kita yang kecewa karena banyaknya rencana-rencana yang kita susun sedemikian rupa di awal tahun lalu yang tidak tercapai. Rencaan sudah pasti akan menjadi harapan kita. Harapan dalam hal ini adalah keinginan yang kuat untuk mencapai sesuatu. Dengan demikian rencana yag menjadi keinginan yang kuat akan menjadi harapan.

Ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan maka itulah yang kita sebut masalah. Masalah pasti akan menimbulkan kekecewaan. Jadi sesungguhnya kekecewaan berbanding lurus dengan besarnya jurang antara harapan dan kenyataan. sederhananya, kekecewaan dipengaruhi oleh dua variabel: harapan dan kenyataan. Semakin kecil perbedaan kenyataan dengan harapan maka semakin kecil kekecewaan dan semakin besar kepuasan.

Dari kesimpulan diatas maka sebenarnya untuk memperkecil kekecewaan kita hanya mempertimbangkan kedua variabel itu.

Pertama, Memaksimalkan usaha untuk mencapai hasil

kedua, Memperkecil harapan yang sedapat mungkin dapat kita capai.

I.Memaksimalkan Usaha Untuk Mencapai Hasil

Memaksimalkan usaha merupakan sesuatu yang paling mungkin untuk kita lakukan. Bukan pencapaian hasil. satu hal yang pasti, tidak akan ada hasil maksimal tanpa usaha maksimal. Bahkan usaha maksimal belum tentu akan mencapai hasil maksimal karena pencapaian hasil tidak hanya dipengaruhi oleh usaha tetapi juga berbagai faktor lain. Dengan demikian hal yang paling mungkin kita lakukan adalah usaha yang maksimal. Tetapi usaha yang maksimal yang tidak diikuti oleh hasil yang maksimal pada akhirnya akan mengecewakan. Lantas untuk memperkecil kekecewaan kita perlu memperhatikan hal kedua.

II.Memperkecil Harapan yang sedapat mungkin dapat kita capai

Kita harus senantiasa mempunyai harapan karena rencana tanpa harapan untuk mencapainya adalah usaha tanpa energi. Gairah untuk mencapai target atau mewujudkan rencana hanya ada bila kita memiliki harapan. memiliki harapan yang besar akan memberi gairah besar. Tetapi menurut hemat saya kekecewaan pada umumnya terjadi karena besarnya harapan yang tidak disertai hasil ataupun kenyataan. Dengan demikian untuk memperkecil bahkan menghilangkan kekecewaan adalah dengan memperkecil harapan. Tetapi mari berhenti sejenak sebelum pembaca salah memaknai. hidup tanpa harapan juga adalah utopis. Saya tidak bermaksud kita hidup utopis. Tetapi mari memahami apa yang saya maksud dengan harapan dalam hal-hal sederhana berikut:

Seringkali kita kecewa melihat seseorang hanya karena kita terlalu berharap orang tersebut seperti yang kita mau. Kita seringkali berteman dengan seseorang dengan tidak menerima dia apa adanya tetapi menerima dia seperti yang kita pikirkan dan seperti yang kita harapkan, sehingga ketika suatu waktu kita mendapati dia tidak seperti yang kita harapkan kita lantas kecewa. Bukankah kita tidak akan kecewa pada diri seseorang apabila kita menerima orang tersebut apa adanya tanpa mengharapkan sesuatu yang terlalu besar yang pada akhirnya dia tidak mampu memenuhinya.

Dari contoh sederhana itu jelaslah saya kira apa yang saya sebutkan dengan harapan. untuk lebih jelas saya akan membagi dua harapan. Pertama, Harapan yang mendekati angan-angan dan perasaan diri akan menghasilkan gelembung besar dan terbang sehingga seringkali tidak sesuai dengan kenyataan. Inilah harapan yang harus dihilangkan. Kedua, Harapan yang mendekati logika akan menghasilkan rencana yang matang dan dapat dicapai dengan hasil yang maksimal.Jadi kita dapat memiliki harapan tetapi janganlah kiranya harapan kita lebih mendekati perasaan diri bahkan angan-angan.

Memasuki akhir tahun dan menyambut tahun baru, banyak diantara kita akan melakukan refleksi akhir tahun untuk memperbaiki rencana-rencana tahun mendatang. Mari menyusun rencana menjadi harapan dan mari memiliki harapan yang mendekati logika agar dapat mnghasilkan usaha yang maksimal. Tetapi usaha yang maksimal belum tentu diikuti hasil yang maksimal pula. Hanya ketika kita sudah berusaha dengan maksimal tanpa hasil setidaknya kita sudah hidup sebagai pejuang sejati bukan sebagai pengecut dan penakut.

Hal terakhir biarkan Tuhan dalam segala kekayaan Rahmat dan Kemurahan-Nya memberi hasil sebagaimana Dia sangat mengerti seberapa hasil yang sesuai dengan usaha kita dan lebih dari itu kita tahu itu anugerah semata.

Kekecewaan hidup seringkali lahir dari harapan kita akan hidup lebih berupa angan-angan dan perasaan belaka sehingga kita terlanjur terbang melambung meninggalkan kenyataan jauh. Ketika kita diperhadapkan dengan kenyataan maka yang ada masalah dan kekecewaan.Tuhan tidak pernah hilang dan tertidur tapi Tuhan dan pekerjaan-Nya seringkali dikaburkan oleh hati kita yang fokus pada diri sendiri dan perasaan diri.

Menerima hidup sebagaimana Tuhan menuntun akan sangat menolong kita senantiasa bersyukur karena terkadang apa yang Tuhan nyatakan tidak terpikirkan oleh kita. Maka fokus utama kita dalam hidup sesungguhnya adalah Tuhan itu sendiri bukan rencana-rencana hidup. Dengan demikian refelksi akhir tahun adalah apakah langkah hidup kita kian seirama dengan kehendak Tuhan. Apakah kita dan Tuhan sudah berjalan seperti rel kereta api selalu dalam kedekatan yang sama.

Medan, 28 Desember 2010

Visi, Peran Diri dan Resolusi Awal Tahun

Senin malam aku kembali ke Rantauprapat untuk kembali mengerjakan pelayanan yang Tuhan percayakan setahun lalu. Dalam perjalanan pulang aku terlebih dulu singgah di Aek Kanopan, di rumah Tante. untuk kemudian akan melanjutkan perjalanan pulang keesokan harinya. saat akan tidur tepatnya pukul 11.30 aku melihat HP ternyata ada satu panggilan masuk. Lalu aku SMS untuk meminta maaf karena tidak mendengar panggilannya. Selang beberapa saat aku kembali dihubungi. Dia salah seorang adikku di pelayanan kampus. Pembicaraan selama hampir 90 menit dengannyalah yang melahirkan ide tulisan ini.

Dalam pembicaraan kami, dia mulai share bahwa memasuki 4 bulan pertama 2011 ini dia akan selalau bekerja di bawah tekanan tinggi. Tekanan yang lahir dari tuntutan berbagai peran diri yang dia hadapi. Paling tidak ada 3peran diri yang 4 bulan pertama tahun ini dia harus menyelesaikan tuntutan-tuntutan target yang memang harus sudah selesai. Dalam pembicaraan itu aku mulai berpikir satu hal yaitu setiap orang memiliki peran diri tidak hanya satu. semakin seseorang bersosialisasi maka dia akan semakin memiliki banyak peran diri. Setiap peran diri menuntut yang terbaik dari kita. Dan tidak jarang seseorang begitu kelelahan karena banyaknya peran diriyang menutut banyak hal dalam waktu bersamaan.

Contoh sederhana, seorang alumni yang aktif dalam persekutuanlumni akan ditutntut secara maksimal untuk mengerjakan pelayanannya. Menjelang akhir tahun dia mungkin akan disibukkan untuk evaluasi dan rapat kerja pelayanan. Dia juga harus menyelesaikan tugas-tugas sekolah jika dia seorang guru. Sebagai seorang alumni dia juga harus berkontribusi bagi gereja, maka akhir tahun adalah pusat kesibukan pelayanan muda-mudi gereja untuk persiapan natal. Tuntutan keluarga, persahabatan, adik kelompok dan banyak lagi. Dalam kondisi ini maka alumni ini sudah pasti bekerja dibawah tekanan dan akan sangat kelelahan. Dalam kondisi inipulalah biasanya kita akan kehilangan waktu-waktu bersekutu dengan Tuhan dan semakin kering rohani.

Peran diri akan sangat banyak tetpi panggilan hidup yang akansaya sebut Visi hanya satu. Sering sekali kita kehilangan arah karena hidup kita hanya kita habiskan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan dari berbagai peran diri. Memilih untuk membatasi peran diri adalah salah satu hikmat tetapi bukan bukan keputusan terbaik. Maksudnya jika hanya karena ingin maksimal maka kita membatasi diri untuk hanya melakukan satu atau dua peran diri maka kita sedang membatasi diri. Kita tidak harus membatasi peran diri tetapi kita mengasah kecakapan mengelola peran diri.Kecakapan mengelola peran diri inilah yang akan melahirkan kematangan diri.

Kita harus kembali pada Visi yang terus-menerus kita gumulkan dihadapan Tuhan maka peran diri harusnya bergerak dalam pencapaian visi itu.Dengan demikian kita tidak sedang menjadi manusia-manusia mekanis yang digerakkan secara berulang oleh peran diri yang sudah menetap tetapi kita menjadi manusia dinamis yang bergerak menuju pencapaian visi yang Tuhan taruhkan dalam diri kita.

Resolusi awal Tahun dengan demikian adalah merefleksikan sejauh mana berbagai peran diri digerakkan oleh visi pribadi kita. Resolusi awal tahun bukan semata-mata menetapkan berbagai target tahunan tetapi mengasah kecakapan pengelolaan berbagai peran diri. Kegagalan dalam satu peran diri dengan demikian bukan berarti kegagalan diri seutuhnya. Mungkin orang-orang yang menyangkut salah satu peran diri kita yang kurang maksimal akan kecewa. Tetapi kita tidak akan mampu memenuhi tuntutan orang-orang disekitar kita. Kita tidak sedang hidup hanya untuk memuaskan orang-orang di sekitar kita tetapi kita hidup bagi Allah yang sedang memimpin kita mengerjakan Rencana-Nya bagi dunia yang akan kita kerjakan dalam berbagai peran diri untuk mencapai satu visi sebagaimana Tuhan memanggil.

Perempuan Itu....

Pagi itupukul 05.30WIB. Aku segera berangkat. Hari itu aku akan akan menghadiri undangan pernikahan teman di kota Pem. Siantar. Setelah menunggu sekitar 20menit akhirnya ada bus lewat. Sebuah Bus Sentosa.

"Siantar?"

"Beta, beta, beta"

Aku segera naik. Sesampai di dalam aku menuju satu kursi kosong. belum lagi duduk dadaku rasanya mau meledak. LAngsung secara spontan aku berdiri lagi dan berjuang membuka kaca bus. Usaha sia-sia. Bus ternyata bus AC. Tetapi kalau bus berhenti berhenti pulalah ACnya. Aku sengaja mengibas-ngibaskan asap di hidungku. Tetapi tak sedikitpun para lelaki di depan, samping, belakangku mengerti. Dengan pongahnya mereka mengpulkan asap-asap dari mulut dan hidungnya. Pagi-pagi sarapan polusi pikirku. Akhirnya aku kelelahan dan tertidur karena bus sudah melaju cukup lama sehingga AC sudah mulai mengurai asap tebal di dalam bus. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB dan kami sudah sampai di daerah limapuluh. Aku hitung-hitung kami akan sampai pukul 11.00 kurang di Siantar. Aku akan dapat mengikuti ibadah pemberkatan pikirku. Tetapi masih asik menghayal tiba-tiba bus masuk sebuah rumah makan. “istirahat, mangan, mangan, mangan”

Tidak apa-apa, aku keluar mengambil udara segar dan akhirnya bernapas lega. Tetapi ada kejanggalan. Perhatianku tertarik pada seorang perempuan yang dengan cekatan mengeluarkan barang-barangnya dari bus. Aku mendengar ada suara angkot masuk halaman rumah makan di balik bus. Aku tidak ambil perduli dan memutuskan untuk untuk duduk santai di teras warung. Tetapi tiba-tiba perhatianku tertarik lagi. “bayar on mu do ongkoshu da, sotung gabe rugi au” omel perempuan itu sambil lalu lalang di depanku. Aku berdiri dan mencari perhatiannya “ na marsambung do hamu ito?”

“ I do, Tu siantar do au”

“tu dia do huroa bus on?”

“Tu medan”

“Dang tu siantar?”

“Sewa siantar oper on na do antong.”

Langsung saja aku panic dan emosi. Aku sudah menjadi korban kesewenang-wenangan. Belum lagi aku panjang berpikir seorang kondektur langsung datang “Tu Siantar do hamu kan lae, beta ma” Ongkos boleh di bayar pikirku tapi kalau aku akan melanjut dengan angkot aku pasti akan sampai di Siantar 2 jam lagi atau bahkan lebih. Aku mulai emosi dan ingin marah, tetapi belum sempat aku berkata-kata aku langsung naik karena angkot akan berangkat.

Dalam kondisi jengkel bus berjalan memasuki daerah perdagangan. Angina yang segar membuat otot-otot sarafku kembali meregang. Aku mulai menikmati perjalanan dengan membaca trilogy Rara Mendut dari Romo Mangun. Tiba-tiba perempuan yang duduk di sudut angkot di belakang sopir itu menarikperhatianku. Menurutku dia sebaya denganku, mungkin sedikit lebih muda. Dia asik menekan tombol-tombol HPnya dan sesaat kemudian, “halo, namandok aha doho nuaeng? Aha do dipikkiri ho?” aku yakin orang di seberang telepon belum sempat menjawab tapi “Amang tahe bah…. Holan na mambahen susah do ulaonmu. Dang marboa-boa ho bah. Akh tahe…. Hancit ni ulukki bahenonmu…nunga di boto ho bapa marsait-sait alai manamba-namba pikkiran dopeho. Na lomo do roham hatop mate bapa i. manang na hupamate bapa I, asa sombu roham. Ido ra pinangidom ate?” perbincangan berlanjut dan aku mulai senyum-senyum sendiri.

Aku mulai memperhatikan sikapnya, gerak-geriknya. Dialah perempuan batak pikirku. Seorang yang cekatan, bersikap tegas dan gesit. Akh… perempuan itu. Dia seorang perempuan batak. Bahasanya, tutur katanya menunjukkan kepribadiannya yang kuat, menampik semua gambaran tetang perempuan lemah, manja dan mencari-cari perlindungan. Dengarlah kat-katanya yang tegas. Jangan pernah artikan kata demi kata dari perempuan itu karena kata-katanya akan sangat tajam bukan hanya menusuk hati tetapi sampai ke sumsum tulang belakang. Kalau lelaki berhadapan dengannya jangan berharap dia akan malu tersipu bahkan grogi tetapi dia akan menghadapi dengan matang dan dari setiap tutur katanya seakan-akan diasedang berkata “ jauhkan semua basa-basi dan mulut manismu, bersikaplah wajar sebagai lelaki dan telan sendiri semua rayuan gombalmu” Laki-laki kemayu akan tersingkir dihadapannya.

Gerakannya menunjukkan kematangan sikapnya. Lihatlah caranya berpakaian, sederhana tetapi sangat mempesona. Kulitnya yang hitam manis dn wajahnya tegas dengan sudut-sudut dan lekuk-lekuknya. Inilah perwujudan boru ni raja. Perempuan-perempuan kebanggaan tanah batak. Boru tapanuli. Sedikitpun tidak ada kesan keragua-raguan dalam dirinya.semua perilakunya menunjukkan suatu kematangan menimbang dan berpikir. Seorang yang hidup dengan prinsip.

Dari tatapannya yang tajam dan dari kata-katanya yang melengking tegas serta gerakannya yang mantap dialah perempaun pekerja keras. Dia jauh dari sikap mengeluh. Dari setiap jalan hidupnya nampaklah prinsipnya “daripada mengeluh lebih baik bertindak dan jalani hidup” perempuan seperti ini adalah pejuang-pejuang hidup. Dan aku akan katakana pada Samuel Tumanggor, bahwa merekalah perempuan-perempuan pemandu bangsa. Dengar saja lanjutan ceritaku ini, dari hasil kesimpulanku maka sebenarnya perempuan itu merasa tersinggung karena adiknya yang sedang kuliah di Kalimantan tidak mengajaknya diskusi dan tidak diberitahu kalau adiknya telah pindah dari rumah saudara dan memilih kos. Dan perempuan itu bertanggungjawab mengirimkan uang belanja adiknya sebesar Rp.500.000 perbulan. Akh… tak pelak lagi. Dialah perempaun batak tulen. Seorang yang penuh tanggungjawab. Dari hasil kenalan singkat kami dia berjualan bunga di pasar pagi di jambi. Apakah kau tidak terpesona dengan perempuan itu.

Stop. Jangan kau kira dia kampungan oleh karena bahasa bataknya yang kuat. Tidak sama sekali. Dengarlah kalimat-kalimatnya ini :”dang marboa-boa ho tu au. Lasso dihargai ho au sebagai kakamu. Sian kaka do huboto da. Na hubereng do kotak masuk di ‘Fesbukku’toe” Dia orang yang mengikuti perkembangan. Tidak ada kesan kampungan dalam dirinya. Kalau kau tidak percaya juga dengarlah kalimatnyaini :”toe ma, berani mengambil keputusan, berani bertanggungjawab. Dibuat ho keputusan dang marpanukkun tu au, mulai sonari dang mangkkirim be au tu ho. Ido kompensasi molo dang dihargai ho au kakakmu.” Akh… masihkah ada kesan kampungan dalam dirinya. Bukankah dia seorang yang hidup dalam peradaban maju. Dari kalimat itu kelihatanlah dia seorang perempuan bermartabat yang memposisikan lawan bicaranya seduduk, seberdiri, sederajat. Dia meletakkan lawan bicaranya sebagai manusia merdeka semerdeka dirinya.

Perempuan-perempuan batak yang menarik hati.

Langsung saja aku teringat akan ibuku. Bukankah semua itu ada dalam dirinya. Dia pahlawanku. Dia pejuang sejati. Dia tidak pernah mengeluh tetapi dengan gigih dan kerja keras, bersama bapakku, memperjuangkan 8 anak-anaknya. jauh dari hanya sekedar menuntut, tapi berbuat dan marsianju-anjuan,marsitukkol-tukkolan mereka mengarungi hidup. Aku teringat akan seorang penulis lagu bertutur demikian “Anggiat dapot au inang, songon burjum parsondukki” kiranya…..

Lelaki Itu….” Saya Seorang Perantau bang”

Hari itu pukul 18.00 WIB. Aku diantar oleh bang Marlen setelah kami KTB alumni di rumahnya untuk kembali ke Rantauprapat. Sebenarnya aku masih diliputi rasa syukur kepada Tuhan karena setelah sekian lama KTB Alumni aeknabara tidak berjalan akhirnya kami akan memulai kembali dengan format yang baru. Selain itu ada banyak pembelajaran dalam KTB barusan ketika kami masuk bahan KTB “Komunitas Pasca Kampus” Salah satu pelajaran penting yang kami refleksikan adalah betapa pentingnya kehidupan persekutuan sesama orang percaya. Kak Elfrida, salah seorang anggota KTB berkata “ketika masih ada perasaan sendiri dalam diri seorang alumni yang dalam dunia alumni dan merasakan ada yang tidak beres maka orang itu masih baik dan masih bisa diselamatkan, maka yang menjadi masalah apabila seorang alumni tidak lagi merasakan ada yang tidak beres ketika dia tidak lagi datang ke persekutuan atau tidak lagi kontak dengan orang persekutuan bahkan tidak lagi memiliki persekutuan”

Waktu itu hujan mulai turun tetapi syukurlah langsung ada bus Sri Bilah yang sedang menunggu di pajak Aek Nabara. Aku langsung naik ke dalam bus setelah kupastikan tempat tidur tempahan dari rumah Kak Elfrida dinaikkan oleh kondektur ke atas bus. Aku duduk sembari mengurai hati yang masih penuh dengan pembelajaran-pembelajaran sembari meresapkan prinsip-prinsip yang kudapatkan hari itu. Aku menenangkan diri, berpikir bahwa bus akan lama baru berangkat melihat sewa yang ada masih 5 orang. Tidak lama kemudian, perenunganku harus terusik karena tiba-tiba kondektur masuk dan memberi aba-aba untuk segera berangkat. Bus pun melaju. Sesaat setelah akan melaju tiba-tiba ada teriakan dari luar “ Sewa” dan bus langsung dihentikan. Seseorang berlari di belakang bus, “cepat” teriak kondektur dan dengan terengah-engah orang tersebut langsung melompat ke atas bus dengan mendahulukan barang bawaanya. Aku langsung menarik barang bawaannya agar dia dapat segera masuk. Bus melaju kencang.

Hal yang menarik perhatianku adalah barang bawaan orang yang baru naik itu. Dia ternyata seorang penjual roti keliling. Sembari bus berjalan kondektur menyuruh agar bak roti itu dimasukkan saja ke belakang pintu sehingga tidak menghambat jalan. Aku berpikir betapa cerewet kondektur ini. Aku merasa tidak nyaman. Tetapi belum lama kesalku terhadapnya dia menyuruh agar bak roti yang satu dinaikkan saja ke kursi karena toh tidak ada sewa. Langsung saja aku berubah pikiran. Kondektur itu seorang yang memberi perhatian dengan bahasa yang kasar. Dia hanya tidak mau penjual roti itu tidak nyaman duduk karena harus memegangi bak roti yang satu. Bak roti yang satu lagi sudah masuk di belakang pintu bus.

Tiba-tiba si penjual roti setelah kondisi nyaman mengeluarkan rokok. Aku langsung terusik. Tetapi kemudian kondektur meminta sebatang, dia menyodorkan bungkusnya. Si kondektur langsung menyambar. Sesaat kemudian ke arahku “ sorry bos kebetulan yang terakhir” aku langsung menjawab “oh… tidak apa-apa” kupikir tidak perlu menjelaskan kalau aku tidak merokok. Rasa terusikku berubah menjadi satu perenungan. Demikianlah kiranya mereka mempraktekkan keramahan. Aku sering mendengar kalau rokok mempersatukan para lelaki. Alangkah baiknya kalau rokok itu diganti dengan hal-hal baik dalam hidup.

Beberapa saat ada sewa naik dari depan bus maka kondektur harus ke depan. Setelah sewa itu duduk maka kondektur itu kembali ke belakang dan tiba-tiba setelah di depan kami

“rotinya mau di bawa pulang”

“oh ya, kalau mau ambil aja”

“ serius?”

“ya, serius ambil saja. Toke juga tidak mau terima dan itu nantinya akan di buang kalau tidak habis karena saya tidak mau menjual roti yang bermalam”

Langsung aja si kondektur mengambil satu dan memasukkan ke mulutnya. Ke arahku si tukang roti” kalau mau ambil saja bang, tidak apa-apa. Itu tinggal Sembilan. Sudah banyak habis, tadi pagi aku membawa 300 buah”

“ya..ya” jawabku mulai keheranan dengan keramahan penjual roti ini.

“ ambil saja bu, tidak apa-apa” tawarkannya pada seorang ibu yang duduk di depan kami. Aku sendiri belum juga mengambil. Aku lebih tertarik dengan dengan pribadinya. Satu keramahan yang sudah jarang sekali kutemui. Maka pembicaraan dimulai. Sembari kondektur mengambil semua sisa roti dan memasukkan ke dalam plastic yang diberikan si tukang roti.

Dia seorang perantau. Dia mulai cerita bagaimana dia sangat menjaga kualitas “ anak-anak di situ lebih memilih roti saya bang, mereka pernah beli dari teman saya yang sudah tua. Kata-anak-anak itu rotinya keras dan tidak enak maka anak-anak di situ tidak mau lagi beli dari dia dan menunggu saya lewat. Saya tidak mau menjual roti yang sudah bermalam bang” aku menemukan satu kecakapan hidup dalam dirinya. Kecakapan yang tidak didapatkan dari seminar kewirausahaan . tetapi secara alami dimilikinya. Dia memiliki jiwa pedagang yang baik bahkan menurutku mulia.

Dia sambung kembali mengenang satu kisah “Saya pernah diancam sama teman saya itu, katanya dia mau membunuh saya. Saya bilang , saya ke sini mau berdagang tidak untuk berkelahi. Saya tidak pandai berkelahi. Silahkan bunuh saja kalau bapak mau bunuh tetapi saya tidak pernah punya niat jahat pak. Saya hanya mau berdagang datang merantau ke daerah ini” aku mulai kagum lebih dari simpati. Betapa tidak, dengarlah dia menyebut temanku pada orang yang iri dan mengancam membunuhnya itu. Kata temanku bukan hanya sekedar identitas agar aku mengetahui siapa yang sedang dia ceritakan tetapi lebih dari itu temanku berarti ketulusan hatinya yang tidak mengandung kejahatan apapun. Dia seorang bermartabat.

Dia seorang manusia merdeka. Bukankah seorang manusia merdeka ada;ah seorang yang tidak takut karena kebenaran dirinya. Dia sedikitpun tidak menunjukkan keraguan dalam ceritanya. Maka kulihat matanya dalam-dalam dan kuamati air mukanya. Dia seorang yang teguh. Bahasanya yang halus membuatku tertarik untuk bertanya” abang orang mana?” “ saya asli bandung bang, saya sudah banyak merantau” sahutnya dan dengan sangat terbuka dia mulai lagi ceritanya “ saya sudah mulai berdagang sejak usia 13 tahun bang, sejak bapak mendahului kami. Saya ikut tetangga yang punya usaha roti di Palembang, kemudian pindah ke Jakarta, dari sana saya ikut ke Aceh dan sejak tahun kemaren saya ke daerah ini ikut tetangga juga yang punya usaha roti disini. Jadi saya sudah berdagang selama 9 tahun dan sudah banyak yang saya jalani.” Betapa terkesimanya aku. Dia memiliki syarat seorang lelaki sejati. Seorang yang tidak menyerah pada keadaan. Seorang yang harus mempertanggungjawabkan hidup.

Kau akan lebih terkesima lagi dengan fakta ini: dia selama bekerja selalu menabung, sekitar 60 ribu sehari ketika banyak laku atau paling tidak 20 ribu kalau lagi sepi. Dia berprinsip uang hari ini tidak akan dihabiskan hari ini. Dan dia anak pertama dari 8 orang bersaudara dan dengarkanlah ini “ saya selalu mengirim ke bandung untuk sekedar bantu-bantu. Semailah prinsip hidup yang baru saja ditaburkannya dalam hatimu.

Tiba-tiba dia menerawang jauh kedepan. Ini nyata sekali dari sorot matanya “ sudah 3 tahun aku nggak pulang bang, aku sudah rindu sekali keluargaku” hampir saja air mataku menetes. Aku melihat kemurnian jiwa dalam dirinya. Seorang yang masih merindukan keluarga adalah seorang yang mengerti hidup. seorang yang memiliki kepribadian mulia. “ aku sudah menabung lebih banyak supaya aku bisa pulang tahun ini. Mudah-mudahan aku bisa pulang bang” Aku melihat bukan sekedar ujaran tetapi lebih dari itu dia sedang berdoa. Dia sedang menaruhkan pengharapan pada sang khalik. Dia sedang mengadu kepada Dia yang memelihara hidupnya yang penuh kekerasan mulai dari usai yang begitu muda. Dia ditempah oleh waktu. Dia didik oleh keadaan dan kondisi, maka pengalaman telah mendidiknya menjadi seorang pribadi yang tangguh.

Dia seorang muda yang tidak menyerah pada keadaan. Dari raut mukanya memancar suatu nilai juang yang luhur. Hidup dipertaruhkan dalam dirimu dan buktikan bahwa Tuhan sedang merajut benang-benang waktu untuk melingkupimu dengan kemuliaanNya. Maka bermurah hati kepada semua orang sebagai rasa syukur atas pemeliharaannya. Bukankah dia baru saja mengajarkan bahwa dia bersyukur atas jumlah roti yang habis 291 buah. Sehingga tidak ada beratnya dia berbagi dengan 9 roti yang sisa pada orang. Dia cukup puas ketika kondektur yang seharian lelah tersenyum menikmati roti pemberiannya. Aku terhenyak, dengan senyum yang begitu tulus si guru hidup itu turun “ saya di sini turun bang, saya duluan”

Rantauprapat, 17 Maret 2011