Kamis, 29 Desember 2011

Kalah: Mengasihani Diri dan Menyerah

Sebuah Refleksi Akhir Tahun

Teringat beberapa tahun lalu, tepatnya tahun 2007 silam. Ketika itu saya dan beberapa teman kampus melakukan perjalanan selama 3 hari 2 malam ke Gunung Sinabung, Tanah Karo. Perjalanan itu bertujuan untuk melakukan pendakian Puncak Sinabung yang konon sangat indah sebelum Gunung itu meletus tahun 2010 lalu. Sesampai di kaki gunung sinabung kami, khususnya saya langsung terperangah oleh pemandangan yang sangat hijau ditambah kesejukan udara dan keindahan danau Lau Kawar, sangat mempesona. Selama 4 tahun sejak memasuki perguruan tinggi saya sudah memiliki hasrat untuk melakukan perjalanan serupa ini. Saya yang berasal dari daerah pesisir pantai selalu punya ekspektasi yang tinggi dengan pemandangan hijau, gunung dan hutan yang asri. 

Setelah sesaat menikmati keindahan, kami langsung menyusun tenda. Berdirilah sebuah tenda pria dan sebuah tenda perempuan. Matahari meredup dan bersembunyi ke balik-balik bukit di kejauhan. Kami memasang api unggun dan menikmati santapan makan malam yang sudah kami bawa dari rumah kost. 

Malam makin riuh setelah semua orang pengunjung serupa kami mulai mengadakan acara masing-masing. Beberapa grup mulai terdengar menyanyikan lagu-lagu yang menjadi minat dari grup masing-masing. Tak ketinggalan grup saya dengan iringan gitar mulai menyanyikan lagu-lagu yang menambah kehangatan malam. Dinginnya malam tidak terasa dengan canda tawa melepas semua kepenatan masing-masing pribadi. Ini pulalah menjadi tujuan perjalanan ini, berharap selepas perjalanan ini ada kesegaran dan semangat baru. 

Setelah larut malam kami semua tertidur pulas dalam tenda kecil kami. Berbagi tempat tidur telah menolong kami merasakan kedekatan satu dengan yang lain. 

Keesokan harinya kami bersiap memulai pendakian. Waktu itu tepatnya pukul 11 menjelang siang. Setelah semua perlengkapan di susun dalam tas ransel, kami mulai memasuki kaki bukit. Dari lembah ke kaki bukit untuk memasuki daerah pendakian gunung kami harus melewati sekitar 20 meter daerah miring yang sudah terbentuk berupa tangga alami. Sesampai di atas, sontak badanku gemetar. Pemandangan mulai gelap. Saya mencoba menarik nafas panjang berkali-kali hingga pemandangan mulai normal. Saya seperti kehabisan nafas. Saya terduduk dan menenangkan diri. 

Awal Pertarungan
Selama beberapa menit, semua ekspektasi dan hasrat hati untuk mendaki gunung melintas sebagai potongan-potongan gambar memenuhi semua benak dan ruang imajinasiku. Saat seperti  itu merupakan awal pertarungan. Dalam keadaan badan yang mulai membaik sontak sebuah suara berbicara keras memenuhi keplaku mempertanyakan alasan paling utama mengapa saya mau mendaki. Potongan-potongan gambar itu kian deras berputar-putar. Kini kelelahan badan telah hilang tetapi justru saya merasakan badan semakin tidak berdaya. Ada jiwa yang memberontak. Kelalahan yang paling utama adalah kelelahan pikiran yang bergulat dengan perasaan, keinginan dan perasaan mengasihani diri. Dalam hitungan menit akhirnya saya mengambil keputusan untuk mundur.

Selalu Ada Alasan Untuk Sebuah Keputusan
Keputusan yang saya sampaikan telah mengurangi semangat tim sejak di gerbang pendakian. Entah dari pikiran jernih atau perasaan mengasihani diri kemudian saya menyampikan sebuah alasan dalam kalimat yang keluar begitu saja, “Kalian lanjut saja, biar saya kembali ke tenda, saya tidak mau kalau di tengah jalan justru saya hanya menjadi beban”

Setelah beberapa teman mencoba membujuk, keputusan saya tak termundurkan sama sekali, saya kembali ke tenda dan teman-teman kembali melanjutkan pendakian. Sesampai di lembah, saya mencoba menenangkan diri. Saya mengambil waktu diam di pinggir danau. Berbagai pergulatan dalam pikiran akhirnya mereda dan saya dapat benar-benar diam. Dalam diam, saya mulai dapat mengatur pikiran secara sehat dan mendengar hati nurani secra jernih. Benarkah saya memikirkan pendakian mereka? Benarkah alasan saya benar-benar hanya karena tidak ingin menjadi beban? 

Sebuah jawaban sederhana mengalir dalam pikiran dan hati bersamaan, ketidakinginan seseorang untuk merepotkan orang lain adalah sebuah sikap yang menunjukkan bahwa ia tidak ingin juga direpotkan. Hanya orang yang mampu bergantung pada orang lain yang mampu berempati pada orang lain. Kesungguhan orang yang selalu merasa mampu dan mapan dalam membantu orang lain akan memiliki batas pertimbangannya tetapi kesungguhan orang yang mau bergantung pada orang lain dalam membantu orang lain tiada berbatas karena ia akan selalu mampu untuk merasakan batas-batas kemampuan orang yang ditolongnya.

Kekalahan Sejati
Mengenali diri dan batas kemampuan diri tidak berarti apa-apa. Mengenali diri dan batas kemampuan diri hanya sebuah langkah, hanya satu sisi, sisi lain yang harus ada adalah memelihara hasrat dan dorongan diri. Hidup dengan usaha paling maksimal melampaui batas-batas kemampuan hanya terjadi jika ada dorongan kuat dan hasrat yang terus terpelihara. Maka keputusan untuk menyerah diawali bukan dari pengenalan diri dan batas kemampuan diri tetapi ketika hasrat dan dorongan takhluk ke dalam perasaan mengasihani diri. Disinilah titik kekalahan di awali.

Menyerah pada diri sendiri bukan pada kondisi dan situasi adalah kekalahan sejati. Kalah atas situasi dan kondisi dengan usaha paling maksimal merupakan bentuk lain dari kemenangan tetapi menyerah dan mengambil keputusan mundur merupakan kekalahan sejati. Situasi dan kondisi tidak dapat lagi mempengaruhi keputusan yang diambil oleh seseorang.

Kekalahan Sejati merupakan sebuah keputusan untuk mundur dan menghindari konflik sebaliknya Kekuatan jiwa dan kemenangan sejati hanya datang dengan mengambil keputusan untuk terus memelihara hasrat dan dorongan menghadapi konflik.

Beberapa Kekalahan
Beberapa kekalahan akhirnya jelas terlihat dalam beberapa bagian hidup yang saya jalani. Kegagalan dalam mempertahankan sebuah hubungan yang pernah saya jalin dengan seseorang diawali ketika saya memilih mundur. Setelah beberapa waktu berusaha untuk mempertahankannya, saya pada akhirnya menyerah. Alasan yang datang, 'mengapa harus mempertahankan sebuah hubungan yang selalu dibayangi konflik'. Keletihan jiwa dalam menghadapi konflik menjadi awal dari keputusan untuk mengakhiri hubungan.

Saya selalu memilih mundur dan menghindar dari keluarga yang selalu penuh konflik perasaan. Saya selalu menghindari konflik antara penghuni rumah dimana saya kost.

Semakin saya merenungkan beberapa bagian hidup saya yang menunjukkan kekalahan, saya semakin jelas melihat, bukan konflik-konflik dari luar diri yang membuat saya menyerah, tetapi dalam diri. Kekalahan sejati merupakan ketidakmampuan memanajemen perasaan, akal sehat dan hati nurani. Ketidakmampuan manajemen ini akan membuat diri selalu takhluk pada bayang-bayang idealisme. Menarik realitas ke dalam idealisme menjadi pertarungan yang menjadi penyebab kekecewaan dan seketika menghabiskan semua energi dan semangat dan di titik inilah sikap mengasihani diri menguasai semua keputusan. Keputusan-keputusan yang diambil pada akhirnya adalah gambaran-gambaran dari kekalahan sejati dengan mengambil jalan mundur dan tidak ingin melibatkan orang lain. Kekalahan Sejati hanya sebuah cermin manusia yang belum mampu hidup bersosialisasi dan wujud lain dari individualitas murni. Tetapi satu hal-selalu ada alasan untuk sebuah keputusan- Saya sedang mempelajari kekalahan saya dan saya menang.
Dalam Ruang Hening
Rantauprapat, 29 Desember 2011

Selasa, 20 Desember 2011

Menahanmu Tiada Berarti

Biarkan kukembalikan putik-putik itu kembali
Berhari menahun telah kujaga semerbakmu
Betapa kau berulang melesat girang
Mencecer tetes-tetes madu

Melepasmu cerabut pedih seluruh rindu
Biar bimbang  melewat waktu
Tepatkah waktu ini mengerti aku berharap
Seutuh gairah hilang terserap

Ingin sekali lagi mengulang waktu
Mengawal mula kisah kita
Menata permata mimpi-mimpi gemuruh
Terangkai indah dalam kata

Tetapi hari telah melarut
Dan kau terus mencecer tetes-tetes madu
Dan kau kian jauh melesat girang
Mengiringmu kian bias
Aku tak lagi mampu menahan
Bulat bagiku melepasmu kembali

Jejak Terhilang

Malam tersesat
Disudut-sudut diam
Senandung kelam dalam temaram
Bulan segera telah tiada melesat

Aku telah terlalu lelah dalam mimpi berulang
Menelusuri jejak-jejak silang
Menemu harap kaki langit
Menerang jingga melepas pahit

Tapi malam tersesat
Membawaku berdiam dalam wajah bulan pucat pasih
Berharap hati tiada
Berpasrah jiwa melemah

Tak ada yang dapat kucari
Melewat waktu satu pasti
Mencecap resap pahit pekat
Kau yang memayungiku dalam gelap
Jejak awal senja tadi
Berpaling berharga mati
Bersamamu dalam diam
Hilang tersesat

Jumat, 09 Desember 2011

Desa Kelahiran: Cengkring Pekan (II)


Episode: Mitos-mitos

Tembang-tembang indah yang mengalun hingga tengah malam dari para pemuda-pemudi tak berarti desaku tidak memelihara mitos-mitos. Ada beberapa mitos-mitos yang tumbuh subur dalam masyarakat turun temurun. Sesungguhnya desaku masih keturunan ke tiga yakni generasiku atau cucu dari generasi kakekku sebagai perintis terbentuknya desa ini.
Beberapa mitos sangat erat dengan pendidikan moral orang-orang desa tetapi ada juga mitos yang ada sebagai tradisi terbentuknya desa kami.

Orang Kate
Orang kate adalah orang-orang bertubuh pendek yang konon adalah penduduk asli rawa-rawa yang menjadi cikal bakal desa ini. Menurut cerita yang dapat kusarikan demikianlah kiranya terbentuknya desaku”
Dahulu desa ini merupakan rawa-rawa sebagai bagian dari tepian pantai selat malaka. Hingga beberapa orang dari daerah tapanuli datang dan mulai merintis penghidupan melalui pertanian. Mereka mulai membuat rumah panggung dan membuka persawahan. Pada awalnya mereka tinggal di dataran tinggi yang disebut Bukkit. Pada perkembangannya, daerah ini semakin surut dan persawahan semakin dangkal. Sejalan dengan itu semakin banyaklah para pendatang untuk memulai penghidupan yang baru dan daerah pemukiman semakin tergeser dan berkumpul-kumpul. Sehingga daerah Bukkit menjadi hamparan sawah yang sangat luas dan penduduk bertu mbuh berkelompok hingga menjadi suatu pemukiman yang rapat-rapat. Dari sejarah itu pula dapat kita runut mengapa nama desa ini Pematang. Cengkering (Sebelum Oktober 2011).
Jadi orang-orang asli yang menduduki daerah ini merupakan orang kate. Beberapa orang mengaku pernah melihat tetapi tak seorangpun dapat menggambarkan apa yang dilihatnya. Biasanya orang-orang itu hanya melihat bayangan yang berjalan dari tengah desa menuju pinggiran hingga memasuki sisi timur desa ini yang masih merupakan rawa yang kami sebut Pando Ibus.

Kambing Berkaki Tiga
Selain orang kate, penampakan yang seringkali menjadi sebuah cerita misteri dan akan membuat bulu kuduk penduduk desa kami naik adalah kambing berkaki tiga yang kami sebut Hambing Sere. Kambing ini seringkali menunjukkan wujudnya tengah malam purnama. Kalau terjadi penampakan, biasanya oran desa akan membicarakannya secara tersembunyi seperti sebuah peringatan dan tabuh untuk dibicarakan secara terbuka. Tetapi kembali tak ada yang dapat menggambarkan dengan pasti bagaimana kambing itu. Pernah ada seorang yang dengan berani bersaksi melihat langsung kambing itu, semua orang diliputi oleh ketakutan yang amat sangat sehingga tidak ada yang berani lagi membicarakannya.
Menurut cerita kambing ini datang daerah pekuburan yang terletak di sisi barat desa kami yakni daerah persawahan yang kami sebut Bukkit. Kehadiran kambing ini dihubungkan dengan kehadiran para orang-orang meninggal yang ingin menjemput teman-temannya. Tetapi mitos ini menurutku merupakan mitos yang dipelihara untuk memberi pelajaran moral agar ornag-ornag muda tidak mencari tempat-tempat gelap atau bergadang hingga lewat tengah malam.

Ular Naga dan Si Tampul Ulu
Mitos ini tumbuh subur dalam cerita masa kanak-kanakku. Mitos ini lahir dari akar tradisi desaku. Begini, desaku dikelilingi oleh daerah persawahan dan mayoritas penduduk desaku merupakan petani sawah yang akan bekerja dari pagi jam 7 hingga sore jam 6. Jadi selama itu yang tinggal di pemukiman adalah para orang-orang tua yang tak mampu lagi bekerja dan anak-anak yang belum masuk sekolah dasar. Waktu itu aku ingat betul, kami anak-anak yang belum sekolah akan berkumpul-kumpul setelah para anak sekolah berangkat dan para orang tua ke sawah. Dan tiba-tiba dari ujung desaku terdengar akan adanya seorang pria tengah baya bertopi, bersepeda dan membawa goni dan keranjang, sontak kami semua berlari kerumah masing-masing dan sama halnya seperti aku, aku yakin teman-temanku akan bersembunyi di kamar atau di balik pintu. Kami semua dalam ketakutan. Orang yang masuk desa itu kami yakini adalah pemotong kepala manusia yang kami sebut Si Tampul Ulu. 

Selama beberapa menit aku merasai suasana diam desa penuh ketakutan hingga terdengar lonceng istirahat sekolah dasar yang ada di sudut barat desaku. Kami mulai berkeluaran dan langsung menyongsong abang kakak kami yang keluar istirahat. Mereka akan memberi nasihat-nasihat agar kami tidak berkeliaran di luar. Inilah kiranya pesan moralnya. Ya, jangan berkeliaran sembarangan.
Aku selalu tersenyum mengingat mitos ini, karena aku tumbuh dalam mitos ini. Aku juga akan terharu setiap kali aku mengingat masa itu. Para anak-anak di bawah 6 tahun tinggal di pemukiman selama setengah hari sampai abang-kakak kami pada pulang sekolah dan memberi kami makan siang. Seringkali anak-anak menjelang siang hari telah kelelahan bermain dan kami pulang ke rumah masing-masing dan tidur. Tidak ada yang kecelakaan, tidak ada yang ribut. Rasa senasib sepenanngungan membuat persaudaraan kekanakan kami terjalin dengan begitu kuat.

Untuk mengimbangi bayang-bayang ketakutan kami maka bertumbuh pula sebuah mitos bahwa di sepanjang jalan yang membelah dua desa kami mulai dari ujung utara yakni pekan senen hingga selatan yakni Jalan Gereja tidur seekor naga. Jika naga inibergerak maka desa kami akan goncang. Kami yakin betul dengan cerita itu karena dihubung-hubungkan dengan pengerasan jalan yang tertunda sebagai bukti empiris. Begini kira-kira, konon ketika tahun 90an desa kami mengalami puncak kejayaannya yakni menjadi pusat perdagangan kecamatan. Karenanya direncanakan pengaspalan jalan utama desa kami. Tetapi ketika telah mulai pengerasan tahap satu ketika jalanan di timbuni batu padas maka mengamuklah naga yang sedang tertidur itu hingga pengaspalan dihentikkan. Itu sebab jalanan dari pekan senen hingga jalan gereja ada batu-batu padas.

Mitos ini sarat dengan pesan moral. Dahulu ketika terjadi gempa hebat di daerah Taput, kemungkinan itulah saat yang disebut naga itu mengamuk dan setiap kali gempa yang goncang maka anak-anak langsung menghubungkannya dengan naga itu dan bersembunyi di bawah meja, tempat tidur atau berkumpul mencari teman-temannya. Betapa hebat cerita itu telah memberi pelajaran menghadapi gempa pada anak-anak karena para orang dewasa ada di sawah.

Kamis, 08 Desember 2011

Desa Kelahiran: Cengkring Pekan


Episode: Malam Purnama

Mendengar lagu Panbers di Youtube langsung membawaku kepada suasana desa kelahiranku. Setarik nafas telah membawaku kepada hamparan luas persawahan. Aroma bunga padi saat pagi menghantar setiap anak-anak desa ini membangun mimpi. Kala malam tiba senandung lagu-lagu anak-anak muda melantun merdu setelah seharian mereka bekerja di sawah, di proyek atau dimana saja. Keberadan bulan tidak mempengaruhi hal ini, tetapi alangkah indahnya ketika bulan mencapai kebundaran yang sempurna maka keramaian malam akan berlangsung lebih lama. 

Pernah suatu ketika dalam masa kanak-kanakku. Kami berkumpul beramai-ramai di lapangan SD negeri di belakang rumahku. Permainan itu begitu menguras energi. Kami menyebutnya Sambarlang. Berdua-dua kami berlari dan tidak bisa terputus. Penjaga akan berlari mengejar kami untuk memutus rantai kami. Gelak tawa terengah-engah karena setelah lelah berlari berkejaran. Cahaya bulan penuh itu memberi pesona yang begitu kuat bagi kami kanak-kanak hingga kami bermain sampai tengah malam. Para orang tua seakan sepakat kalau malam demikian adalah malam perayaan bagi semua orang desa.

Kembali pada orang-orang muda, amboi....seperti vokal group profesional, hanya perlu satu orang untuk menarik nada dasar maka mengalunlah suara indah sempurna dalam jalinan sopran alto tenor diiringi gitar nan jernih. Para orangtua berkumpul-kumpul di depan rumah tetangga. Sebahagian terkumpul karena kesamaan kegemaran saat senggang yakni menganyam tikar, adalagi sama-sama membuat karya-karya anyaman hingga yang sekedar kumpul bersenda gurau.

Ketika para orang tua dan anak-anak masuk rumah dan mengistirahatkan badan di atas tempat tidur kayu, seakan sudah kesepakatan alam dan para pemuda maka lagu-lagu para ornag muda itu akan mengalun melodi-melodi yang mendayu, mulai dari lagu, poppy mercury, nike ardila, niki astria, dan tidak lupa panbers serta lagu-lagu batak dalam tembang rita butar-butar, trio ambisi, carles simbolon atau jack marpaung.
Aku akan menikmati suara dalam kesenyapan malam itu sampai satu-dua jam hingga terlelap. Lagu-lagu itu membawaku melambung menyusun mimpi dalam sayap merekah menuju mega-mega. Betapa kurindukan desa kelahiranku itu...

Seni Menjalani Hidup Seni Menghadapi Masalah

Seringkali kita sangat mengharapkan perubahan. Perubahan yang kita maksudkan bahkan seringkali melekat dengan adanya keberuntungan. Dalam menghadapi masalah, tak jarang kita menunggu akhir dari masalah dalam sebuah penyelesaian yang baik. Sekilas tentu tidak ada yang salah dengan semua ini. Tentu sangat wajar bagi setiap orang ingin segera terlepas dari setiap masalah yang dihadapinya. 

Tetapi benarkah kita ingin segera menyelesaikan masalah atau tidak ingin menghadapi masalah. Inilah yang menjadi pokok yang ingin saya bicarakan bahwa pada umumnya orang ingin menghindari masalah sehingga ketika masalah datang maka dengan segera menanti-nantikan akhir dari semua itu atau setiap orang langsung ingin merubah semua yang kurang menyenangkan baginya.

Benarkah kita harus menghindari masalah?
Orang yang selalu menghindari masalah adalah orang yang menghindari kematangan. Ketika seseorang menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan baginya sedapat mungkin dia akan langsung berusaha merubah situasi. 

Hadapi masalah dan petiklah hikmat.

Seni menjalani hidup tidak selalu seni dalam merubah situasi tetapi juga seni menikmati situasi tersulit dalam hidup ini. Seni menjalani hidup bukan hanya seni menikmati kenyamanan tetapi kekuatan bertahan dalam tantangan terberat. Seni menjalani hidup bukan hanya seni menikmati perubahan-perubahan yang lebih baik tetapi keteguhan saat kejenuhan kian membeku. Karena masalah, tantangan dan pergumulan merupakan bagian yang sama dalam hidup seperti halnya kesenangan, keberintungan dan kenyamanan.

Benarkah ada perubahan tanpa masalah?
Semua perubahan merupakan masalah karena perubahan akan mengusik kenyamanan. Sebuah gaya yang bekerja pada sebuah massa akan memberi dorongan yang membuat perubahan.  Massa itu akan mengalami kelembaman hingga di beri gaya tambahan atau pengurangan gaya. Dengan demikian benarkah kita harus menghindari masalah? Sekali-kali tidak. Kematangan tidak ditunjukkan dari kemampuan menyelesaikan masalah tetapi kemampuan menghadapi masalah.
Kenikmatan menyeberangi sungai bukan saat sampai di seberangnya sehingga kita sedapat mungkin ingin segera sampai di seberangnya tetapi kenikmatan itu terletak saat kaki kita terkena airnya, terkena gelombangnya dan terbawa arusnya hingga kita tahu betapa proses menuju keseberangnya adalah perjuangan.


Jumat, 02 Desember 2011

Malam Kelahiran

Menyusuri lorong-lorong kesenyapan

Lelah dalam kegelisahan

Mengatup kelopak mata membayang masa depan

Pulang menyesak kampung halaman


Pelataran-pelataran siang tadi berserekan

Sunyi senyap dalam remang bulan

Menimbang segala ketidakpastian

Hasrat padam takhluk dalam kekuasaan


Barisan-barisan pagi tadi berpanjangan

Menahan gelisah ketidakpastian

Hilang dalam hitung-hitungan kini

Desa kelahiran arah kembali


Anak-anak telah terlelap

Menyepi para gembala di padang gelap

Para bapak menerka hari

Disampingnya para ibu meresah menanti


Setiap anak manusia harus kembali

Desa gelisah sepanjang hari

Rumah-rumah tak lagi kosong

Berhimpitan hingga ke lorong-lorong


Terdengar pintu diketuk-ketuk

Langkah-langkah semakin dekat

Dari ujung tak menyahut

Kini ada di depan mata balik pintu tersekat


Apakah yang kau cari sampai disini

Tempat berteduh sekedar menginap

Rumah telah penuh tiada lagi

Bagaimana aku harus memberi jawab

Langkah-langkah melaju perlahan

Dalam tangisan tak tertahankan

Tunggulah sebentar

Kiranya ini jalan keluar

Berbaringlah di sudut lorong

Dikandang domba yang sedang kosong

Seorang bayi lahir diantara manusia terlelap

Bangunlah...

Lihatlah dia datang

Membawa kabar sukacita

Membuka jalan kembali

Dalam rumah kekal

Jawab pasti bagi kegelisahan, kegundahan dan kehampaan

Datanglah padanya

Bayi mungil pembawa terang

Raja damai yang kekal

Rabu, 23 November 2011

Seayat Doa

Pergi, pergilah ayah

Dalam peradaban kekal

Mengujungi titian semu

Menepi biduk dalam samudra hidup

“Sulungku, tegaklah berdiri

Mengarah. Kibarkan layar

Bawa serta ibu adikmu

Hingga dermaga hati hentikanmu

Sulungku, tinggallah aku pada tepian searah

Alam nirwana. Berlayarlah”

Menutup mata terpatri di hati

Seiring doa sanak kerabat

Tertancap jangkar

Kau tertinggal

Dalam peradaban kekal

Aku berlayar

Seayat doa

Bapaku terimalah padaMu

Sebilah berkah

Tiang layarku berkibarlah


Dipublikasi di Harian Analisa 23.11.11