Senin, 11 Juni 2012

Jelma


Dapatkah lagi kau mengunjuk diri menghadap bulan sabit di bawah langit pucat malam ini
Ataukah kau tak lagi dapat bedakan cinta dengan sepotong kenangan
Burung hantu termangu di tepi telaga di sudut kampung ini
Kau asik lagi mengais sisa-sisa gambar lalu di jalan larangan

Bulan sabit kian menepi meradang terhilang di sulut api pembakaran
Dalam kegetiran kehidupan dapatkah kau berkata sebuah kebahagiaan
Sedang rindu dendam burung hantu melarut dalam telaga tua
Semua potongan gambar hanya merajam hati sembilu nestapa

Api merambat-rambat sulut menyulut memecah kegelapan
Kau duduk terdiam dan tiada membeda kosong berisi
Burung hantu melolong tajam dalam penghabisan
Sorot mata memadu satu beribu gambar pusara mimpi

Merah mengadu langit kobar api tiada terkendali
Gaduh melarut diam dalam jiwamu tegak berdiri
Melangkah setapak semakin mendekat menuju telaga
Dan kau memakai sayap melolong getir berabad-abad

Dalam Diriku Aku Melupa


Dan senja dalam semburat jingga menjadi lukisan jiwa
sayap-sayapku yang telah patah dalam rembangnya
Saat kau meninggalkan jejak perih luka di hati
Saat itu kusadar kau telah pergi meninggalkanku sendiri

Ingin kusambangi kau di malam gelap
Sehabis melintas dari pondokan kenangan kita
Kusadar jarak laut telah memisah raga
Dan aku hanya bisa menghabiskan malam dengan tangisan

Dapatkah aku sembunyi di balik matahari berpijar
Saat pagi merekah sedang aku masih memuram
Aku akan merangkak tanpa sayapku
dan berharap meniti waktu dalam diriku aku melupa
                                                                Rantauprapat, 23 Mei 2012

Bulan dan Kekosongan Malam


Malam melarut menuju sempurna
Meninggalkan jejak-jejak bulan menyusuri kota
Berkeliling mengitar hingga di sudut-sudut gang
Ada tawa geli di sudut sana sedang yang lain lewat tak perduli
Bulan masih asyk berkaca pada dirinya sendiri
Menikmati bayang-bayang samar burung hantu di sebuah ranting
Tak lagi dapat dibeda, suara itu jerit perihkah atau bahagia
Bulan terus merengkuh berselimut langit pekat
Cahyanya berpendar menjadi sutra menutup semua aurat berpadu

Bulan terus menjejak
Menyusuri lorong-lorong menebar semua hasrat diri
Sekali dia tidak ingin berhenti
Sebab takut ia akan menyadari kenyataan
Merampas semua kenikmatan di ujung lidah, ujung mata dan auratnya
Menyisahkan luka dan kekosongan
                                                Rantauprapat, 23 Mei 2012 

Sebuah Siang Di Monas


Anak berlari beramai mengitar
Melewat rupa melewat cerita
Pemandu bersorak tanpa nada tanpa rasa
Keluar berlalu tiada mengakar
                                Monas, 31 Mei 2012

Minggu, 13 Mei 2012

Kau Sempurna Bagiku


Aku mengurai kebisuanmu dalam semburat jingga
Tatapan menyapu bebukit barisan
Pesona membayang di landai danau toba
Di pundakku kau melepas segala kerinduan

Bertahun kita mengikrar sebuah janji setia
Pantai pasir putih Huta Parbaba
Sesaat kala mentari beranjak rebah
Sejak itu kita bersama sejejak melangkah

Di sini, kita kembali berdiri
Bersamamu bukan sebuah mimpi
Kau sempurna dalam bahagiaku
Hingga kelak kita melepas fana kekal menuju

Anak cucu kita tiada
Jangan,jangan kiranya kau berduka
Sebab segala mantera, pasu-pasu hula-hula
Terukir indah dalam semburat jingga
Aku dan kau Saur Matua
Bagi berpuluh anak Maliali di Ruma



Dipublikasikan dalam Harian Batak Post 12 Mei 2012

Bila Sepi


Malam ini kutahu kau sepi
Di desa sunyi dengan pelita tua
Aku ingin memetik gitar
Membacakan syair kalbu menghiburmu
Duduk berama di tudung rembulan
Di gubuk renta pada halaman

Sekali lagi akan kuurai sorot matamu
Menjadi sejuta kata
Harapan yang membongkah di pundakku

Tak ingin lama lagi
Kau menapak bukit-bukit batu
Demi energi kau kirimkan ke jiwaku
Membawa bongkah ke pintu langit

Segera aku datang, membawa surga
Membuka tirai kelabu sisa hempasan duka lalu
Menjalin jala fajar baru dalam horison masa tuamu
                                                Lumban Sakkalan, Porsea

Dipublikasikan dalam Harian Batak Post 12 Mei 2012

Senin, 19 Maret 2012

Menyusur Pantai Kuala Bersamamu

Sepanjangan tanah pasir putih pantai kuala
Berjajaran kita menikmat angin sahaja
Atau mengertikah mereka

Hati berimbang ombak menderu
Dalam bisik dedaun bakau
Atau mengertikah mereka

Kususuri  jejak kita tiada jauh
Hanya hati terus  melaju
Mengejar nanar  bagai mata sang camar
Menangkap bayang di balik keruh ikan meliar
Tidak...
Tiada sedikitpun kau bergontai
Bukankah pandangmu menyusupi hati
Merona merah dibakar mentari
Biarkanlah...
Sebab jiwaku lelah berlari-lari
Tenangkanlah sejenak menikmat sang angin
Dalam buaian teduh matamu

Minggu, 18 Maret 2012

Lantun Lagu Perempuan Duka

                                                Untuk Kakanda

Kau melantunkan senandung menggaung di ujung-ujung gunung
Seumpama tangis meraung-raung di muka  murung
Berlari kau sejenak di belukar mekar
Taman tua tiada terawat melewat sekar
Di sudut sunyi taman itu kau berdiam menatap sesap
Sekuntum biru dari rerumput tiada bersayap
Mengimpi mengawang-awang mengejar kumbang
Sajak yang telah lama terbang
Sisa-sisa dari kehidupan mekar puspa
Kau meratap dan coba melupa
Tetapi awan menggumpal-gumpal memayungi langit
Guntur-guntur menyambar sengit
Semua tidak memecah keheningan
Tetapi menjadi genderang kekelaman
Menyusupi segala lorong-lorong hati
Dalam lantunan senandung perih
Bergema menjalari jalan-jalan berbatu
Di puncak-puncak gunung mengadu rayu
Mengharap kumbang balik memadu

Rabu, 14 Maret 2012

Mengikut JejakMu

Jalan itu menoreh luka
Penghayatan akhir akan ketaatan
Melepas segala diri meretas keakuan
Jalan itu sajak duka
Bukan dukaMu
Duka mengiris hati beribu jiwa
Kami yang terdiam saat Kau dirajam
Langkah-langkah domba ke atas altar tak segontai ini
Sebab altarmu berdiri tegak
Altar kehinaan dari seluruh adab
JeritanMu dalam sembelih
Merongrong segala rupa, kuasa dan keangkuhan
Mengguncang segala pertimbangan, akal dan nurani
Menggerus suka, duka dan perasaan diri
MenghampiriMu aku tak kuasa
Di gerbang kota terdiam perih
Setelah pagi tadi kusangkali diri
Sesal tiada daya, malam tadi kau peringatkan diri

Jalan itu menoreh luka
Darah sembelihMu memercik jiwa
Terang mengangkat jalanku berdiri
Berhari aku disembelih dalam cinta kasih sejati
Terbang dalam cahya
Biar tubuhku dirajam dunia
MengikutiMu dalam jalan menoreh luka

Sepotong Hati Di Taman Ilalang

Aku kembali ke kota ini
Mengapa  tiada lagi taman bersemi
Bukankah dulu sebuah nyanyian menjadi melati
Dan mawar-mawar bersemaian di sepinggiran hati

Aku kembali ke kota ini
Menyusuri lorong-lorong tanpa bunyi
Irama dan detak hanya serpihan
Jejak-jejak sepi di keterasingan

Aku kembali ke kota ini
Bulan menggantung sedih pucat pasih
Dan tanah gemeretak menjilati sisa-sisa cahaya
Memanggil hujan dengan sisa suara
Berharap walau semua gersang
Menemukan hati di taman ilalang

Senin, 12 Maret 2012

Perempuan dan Hujan dalam Jiwanya

Hujan telah berhenti di balik jendela
Perempuan itu terus berbicara
Diantara jelaga-jelaga tua bergelantungan
Memenuhi legam dapur hatinya
Dengarkanlah sesaat
Suaranya susungguhnya berirama
Kalimatnya bermakna
Sajak dari lorong-lorong gelap bertahun silam
Perjalanan panjang menyusur kota
Melepas segala daya muda

Hujan telah lama berhenti di balik jendela
Berhari-hari perempuan itu melolong
Sepi  dalam tarian jelaga-jelaga mengembang
Menutup semua nurani, mimpi dan diri
Hanyut berirama melambat
Hujan merintih melanda dalam jiwanya
Berhari-hari dalam semburat pedih tak tersesali

Minggu, 04 Maret 2012

Nyanyi Bulan Temaram Bersamamu

Derai nyanyian sendu semalam ini terdengar di beranda tua,
Katamu kau akan beranjak, bergerak dan takkan berpaling
Tetapi bulan tetap muram menjaga malam
Terjaga di peraduanmu  sedang kau terus beradu
Melawan semua tuduhan hatimu,
Mengacak semua jalan pikirmu
Bergulat dalam batin
Meradang berkali tak bersuara
Berontak hati tak lagi berdaya
Langkah siang tadi telah kau pilih
Mengingkar segala janji dan hati nurani
Melupa semua langkah dan komitmen diri
Sesal hati bukan lagi sebuah kekuatan pembelaan bagimu
Biarlah bulan terus melewat malam bersamamu yang hanya mampu berdiam
Derai nyanyian sendu terus mengalun nyanyi hatimu yang tak mampu bermimpi

Rabu, 18 Januari 2012

Langkah-langkah Hidup

Ketika bermain sebuah permainan di komputer. Menghancurkan bola-bola dalam permaianan itu sangat menyenangkan hingga tiba-tiba aku game over karena tidak mampu mengendalikan permainan. Sesaat aku diam dan mulai memikir ulang bagaimana aku memainkan permainan itu dan mengapa aku tidak dapat mengendalikan permainan. Lantas aku mulai menyadari satu hal bahwa aku hanya bereaksi terhadap permainan yang disodorkan oleh komputer. Aku tidak melakukan sesuatu sebagai strategi. Aku hanya mengeluarkan peluru-peluru, kalaupun aku bisa melewati beberapa level itu hanya faktor keberuntungan, dari semua peluru-peluru kalau-kalau akan menghancurkan hingga beberapa bola sekaligus bukan dilandasi oleh kesadaran penuh mengambil langkah sebagai bagian dari langkah strategi untuk beberapa langkah kedepannya.

Teringat ketika masih SMA aku mulai mempelajari cara bermain catur pada adikku yang masih duduk di bangku SMP. Sejak belajar hingga bermain berkali-kali seingatku aku tidak pernah memang benar-benar menang. Kalaupun aku menang hanya karena keberuntungan bukan karena memang aku telah memiliki strategi untuk mengalahkan lawan. Waktu itu anak tetangga kami yang juga masih SMP mulai menantang kami bermain. Aku langsung kalah. Akhirnya aku menyerahkan permainan pada adikku.

Pada dasarnya memang aku tidak punya naluri perlawanan. Terlihat dari ketidakmampuanku mengendalikan perasaan dan cendrung untuk menghindari konflik tapi apakah ini dapat menjadi alasan untuk membenarkan diri? Lebih jauh aku mencoba merefleksikan hidupku, apakah aku telah mengambil keputusan sebagai langkah strategis untuk beberapa langkah kemenangan di depan?

Aku mencoba menyimpulkan bahwa ada sebahagian orang yang melakukan sesuatu dalam kesadaran akan langkah strategis pencapaian hidup beberapa langkah kedepannya dan ada sebahagian orang hanya melakukan sesuatu sebagai respon atas situasi yang ada dan berharap ada keberuntungan-keberuntungan yang menanti langkah-langlahnya ke depan.