Senin, 11 Juni 2012

Bulan dan Kekosongan Malam


Malam melarut menuju sempurna
Meninggalkan jejak-jejak bulan menyusuri kota
Berkeliling mengitar hingga di sudut-sudut gang
Ada tawa geli di sudut sana sedang yang lain lewat tak perduli
Bulan masih asyk berkaca pada dirinya sendiri
Menikmati bayang-bayang samar burung hantu di sebuah ranting
Tak lagi dapat dibeda, suara itu jerit perihkah atau bahagia
Bulan terus merengkuh berselimut langit pekat
Cahyanya berpendar menjadi sutra menutup semua aurat berpadu

Bulan terus menjejak
Menyusuri lorong-lorong menebar semua hasrat diri
Sekali dia tidak ingin berhenti
Sebab takut ia akan menyadari kenyataan
Merampas semua kenikmatan di ujung lidah, ujung mata dan auratnya
Menyisahkan luka dan kekosongan
                                                Rantauprapat, 23 Mei 2012 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi komentar sopan dan tidak menyinggung hati dan perasaan kelompok tertentu.