Senin, 19 Maret 2012

Menyusur Pantai Kuala Bersamamu

Sepanjangan tanah pasir putih pantai kuala
Berjajaran kita menikmat angin sahaja
Atau mengertikah mereka

Hati berimbang ombak menderu
Dalam bisik dedaun bakau
Atau mengertikah mereka

Kususuri  jejak kita tiada jauh
Hanya hati terus  melaju
Mengejar nanar  bagai mata sang camar
Menangkap bayang di balik keruh ikan meliar
Tidak...
Tiada sedikitpun kau bergontai
Bukankah pandangmu menyusupi hati
Merona merah dibakar mentari
Biarkanlah...
Sebab jiwaku lelah berlari-lari
Tenangkanlah sejenak menikmat sang angin
Dalam buaian teduh matamu

Minggu, 18 Maret 2012

Lantun Lagu Perempuan Duka

                                                Untuk Kakanda

Kau melantunkan senandung menggaung di ujung-ujung gunung
Seumpama tangis meraung-raung di muka  murung
Berlari kau sejenak di belukar mekar
Taman tua tiada terawat melewat sekar
Di sudut sunyi taman itu kau berdiam menatap sesap
Sekuntum biru dari rerumput tiada bersayap
Mengimpi mengawang-awang mengejar kumbang
Sajak yang telah lama terbang
Sisa-sisa dari kehidupan mekar puspa
Kau meratap dan coba melupa
Tetapi awan menggumpal-gumpal memayungi langit
Guntur-guntur menyambar sengit
Semua tidak memecah keheningan
Tetapi menjadi genderang kekelaman
Menyusupi segala lorong-lorong hati
Dalam lantunan senandung perih
Bergema menjalari jalan-jalan berbatu
Di puncak-puncak gunung mengadu rayu
Mengharap kumbang balik memadu

Rabu, 14 Maret 2012

Mengikut JejakMu

Jalan itu menoreh luka
Penghayatan akhir akan ketaatan
Melepas segala diri meretas keakuan
Jalan itu sajak duka
Bukan dukaMu
Duka mengiris hati beribu jiwa
Kami yang terdiam saat Kau dirajam
Langkah-langkah domba ke atas altar tak segontai ini
Sebab altarmu berdiri tegak
Altar kehinaan dari seluruh adab
JeritanMu dalam sembelih
Merongrong segala rupa, kuasa dan keangkuhan
Mengguncang segala pertimbangan, akal dan nurani
Menggerus suka, duka dan perasaan diri
MenghampiriMu aku tak kuasa
Di gerbang kota terdiam perih
Setelah pagi tadi kusangkali diri
Sesal tiada daya, malam tadi kau peringatkan diri

Jalan itu menoreh luka
Darah sembelihMu memercik jiwa
Terang mengangkat jalanku berdiri
Berhari aku disembelih dalam cinta kasih sejati
Terbang dalam cahya
Biar tubuhku dirajam dunia
MengikutiMu dalam jalan menoreh luka

Sepotong Hati Di Taman Ilalang

Aku kembali ke kota ini
Mengapa  tiada lagi taman bersemi
Bukankah dulu sebuah nyanyian menjadi melati
Dan mawar-mawar bersemaian di sepinggiran hati

Aku kembali ke kota ini
Menyusuri lorong-lorong tanpa bunyi
Irama dan detak hanya serpihan
Jejak-jejak sepi di keterasingan

Aku kembali ke kota ini
Bulan menggantung sedih pucat pasih
Dan tanah gemeretak menjilati sisa-sisa cahaya
Memanggil hujan dengan sisa suara
Berharap walau semua gersang
Menemukan hati di taman ilalang

Senin, 12 Maret 2012

Perempuan dan Hujan dalam Jiwanya

Hujan telah berhenti di balik jendela
Perempuan itu terus berbicara
Diantara jelaga-jelaga tua bergelantungan
Memenuhi legam dapur hatinya
Dengarkanlah sesaat
Suaranya susungguhnya berirama
Kalimatnya bermakna
Sajak dari lorong-lorong gelap bertahun silam
Perjalanan panjang menyusur kota
Melepas segala daya muda

Hujan telah lama berhenti di balik jendela
Berhari-hari perempuan itu melolong
Sepi  dalam tarian jelaga-jelaga mengembang
Menutup semua nurani, mimpi dan diri
Hanyut berirama melambat
Hujan merintih melanda dalam jiwanya
Berhari-hari dalam semburat pedih tak tersesali

Minggu, 04 Maret 2012

Nyanyi Bulan Temaram Bersamamu

Derai nyanyian sendu semalam ini terdengar di beranda tua,
Katamu kau akan beranjak, bergerak dan takkan berpaling
Tetapi bulan tetap muram menjaga malam
Terjaga di peraduanmu  sedang kau terus beradu
Melawan semua tuduhan hatimu,
Mengacak semua jalan pikirmu
Bergulat dalam batin
Meradang berkali tak bersuara
Berontak hati tak lagi berdaya
Langkah siang tadi telah kau pilih
Mengingkar segala janji dan hati nurani
Melupa semua langkah dan komitmen diri
Sesal hati bukan lagi sebuah kekuatan pembelaan bagimu
Biarlah bulan terus melewat malam bersamamu yang hanya mampu berdiam
Derai nyanyian sendu terus mengalun nyanyi hatimu yang tak mampu bermimpi