Rabu, 23 November 2011

Seayat Doa

Pergi, pergilah ayah

Dalam peradaban kekal

Mengujungi titian semu

Menepi biduk dalam samudra hidup

“Sulungku, tegaklah berdiri

Mengarah. Kibarkan layar

Bawa serta ibu adikmu

Hingga dermaga hati hentikanmu

Sulungku, tinggallah aku pada tepian searah

Alam nirwana. Berlayarlah”

Menutup mata terpatri di hati

Seiring doa sanak kerabat

Tertancap jangkar

Kau tertinggal

Dalam peradaban kekal

Aku berlayar

Seayat doa

Bapaku terimalah padaMu

Sebilah berkah

Tiang layarku berkibarlah


Dipublikasi di Harian Analisa 23.11.11

Ibadah hilang kuasa

Ibadah

Dimana rindu dan hikmat?

Sepekan-sepekan berlalu

Melayang-layang di angkasa

Membumbung tinggi tinggalkan bumi

Sejurus angin berlalu

Coba lepas temali kekal

Mengikat diri belenggu semu

Mata memerah menatap merah

Hati diam tak berdaya

Entah kemana hendak mengarah

Mengikat diri belenggu semu

Sujud tak bersujud

Ibadah hilang kuasa

Ibadah lupa ibadah

Dimana rindu dan hikmat?

Ibadah


Dipublikasi di Harian Analisa 23.11.11

Indonesia janganlah berakhir

Ini kali terakhir

Nafas terakhir

Kata terakhir

-Sebelum berakhir-

Biar badan habis tapi juang janganlah

Indonesia bukanlah kuldi di firdaus

Namun mata air di savanna

Menelan beribu jiwa

Meniti tulang kerawang bekasi

Yang ada sebelum aku ada

Indonesia bukan untuk diarti

Indonesia adalah bianglala

Bentang Sabang Merauke

Titian damai bagi Bhineka

Ini kali terakhir

Indonesia janganlah berakhir


Dipublikasi di Harian Analisa 23.11.11

Sepucuk Balas

Belum kuberi balas

Kita telah berpisah

Jalan semakin gelap

Kita belum bersua

Kutulis surat ini

Melerai kusut hati

Sebentang hitam menghadang

Mentari kian tertutup awan

Depan sana kian suram

Meski kujalani

Aku semakin terkucil

Tubuh semakin mengecil

Kadangkala kuingin kau ada

Harapan sia-sia

Kau bukan siapa-siapa

Belum kuberi jawab

Aku pergi

Jangan tangisi

Balas tak perlu kau nanti

Jawabku mentari dibalik mega

Iringi kepergian dengan doa

Dipublikasi dalam Harian Analisa 23.11.11